04 March 2014

SELEMBAR KENANGAN USANG

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Selembar kenangan usang
di atas kertas-kertas
yang menguning,
dan tertetesi air mata....

Bukan maksudku
melepasmu, Cinta
dalam riuh dan desau angin
yang mengembus
di pengujung musim
sungguh,
bagiku kau adalah permata
yang senantiasa mengilau
meski gulita serupa halimun
menggelimun
dan menawarkan jelaga kelam

Dua tahun kita di biduk ini
mengarungi gelombang
dari basir laut
dan empasan badai
dari kumpulan angin
di pengujung musim
sepongah bersama
kita berseru kala itu
: "Angin dan badai
hanyalah dendang lawas!"

Namun dendang
tak selamanya merdu, Cinta
ketika tak kita ketahui
maknanya lagi
dalam birama nan membising

Hei, di manakah
cinta nan platonis?
dalam tarian dari reriak gelombang
atau di dalam nada
sang dawai hati?