27 March 2014

SEBUAH MONOLOG

Oleh Aishaa Nazwa

Duhai dikau
yang getir tersenyum
yang diam-diam merajut luka
pada malam-malam tanpa bintang
pada tiap desah gelisah yang panjang
yang selalu bubuhkan bulir kristal di tiap rajutan
dengan bibir yang tanpa henti merapal,
entah doa atau sesalan

masihkah kau sibuk bertanya
tentang tubuh yang tinggal belulang
tentang hati yang separuh menghilang
tentang rongga jiwa yang tak lagi berlubang
bahkan tentang malam yang tak kunjung siang
bahkan tentang senja
yang tak lagi di ujung cakrawala

Bukankah telah berulang kubilang
berhentilah menyulam seribu kenang
biarlah ia hilang bersama cahaya kunang
membawa segala sebak jauh ke belantara kelam
lalu lesap bersama sejuta wujud
koyak yang kerap kau peluk erat

Sakitmu nikmati saja
Sakitmu rasakan saja
Sakitmu ajak saja menari bersama
Ajak saja bernyanyi bersama
lalu dunia akan indah
seperti semula

Saat sebelum
Kau mengenal luka