04 March 2014

Resep sukses Ayam Bakar Wong Solo

Salah satu keunikan dari menu RM Ayam Bakar Wong Solo ini terletak pada bahan dasarnya, yakni daging ayam kampung. britaloka/Effendy Wongso
britaloka.com, MAKASSAR - Brand atau merek memegang peran penting bagi suksesnya sebuah produk atau usaha, tak terkecuali di dunia kuliner. Jika menilik usaha kuliner waralaba dunia, brand yang mengglobal seperti McDonald’s atau Kentucky Fried Chicken (KFC) pun tak lepas dari proses manajemen merek.
Hal itulah yang disadari betul pemilik rumah makan (RM) Ayam Bakar Wong Solo, Puspo Wardoyo sehingga pria asal Solo yang kini bermukim di Medan ini tak menafikan peran media untuk mengenalkan merek usaha kulinernya yang sudah “melegenda”, RM Ayam Bakar Wong Solo.
Bagi pria yang sebelumnya berprofesi sebagai guru ini, untuk membesarkan merek, seseorang harus berani mengeluarkan biaya promosi yang kadang-kadang jumlahnya tidak kecil. Selain itu, investasi untuk memperbarui properti rumah makan pun dilakukannya tidak setengah-setengah karena ini akan membawa “image” yang bersentuhan langsung dengan kenyamanan pelanggan.
Ihwal sukses pendiri rumah makan yang sudah mewaralabakan usaha kulinernya tersebut diungkap Staf Marketing RM Ayam Bakar Wong Solo Makassar, Didik saat ditemui di Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Senin (3/3) sore. Dijelaskan, sang pemilik, Puspo Wardoyo paham bahwa media bisa mengangkat citra atau merek seorang pengusaha.
“Pemilik rumah makan ini punya prinsip, berjualan atau berbisnis, seseorang harus promosi dan publikasi serta membuat sensasi-sensasi nama, tentu saja agar mereknya bisa dikenal masyarakat. Selain itu, bila Anda melihat interior ruangan rumah makan kami yang terbilang unik dengan nuansa asri Jawa, maka semuanya ini memang sudah menjadi konsep owner,” ujarnya.
Tentu saja, sebut Didik hal tersebut jangan sampai tak ditunjang kualitas yang baik, dalam hal ini citarasa lezat pada sajian menu sebuah merek kuliner. Sebab itulah, pria kelahiran Malang, 22 Mei 1983 ini mengungkapkan jika RM Ayam Bakar Wong Solo selalu menjaga kualitas makanannya. Salah satunya adalah menakar keseragaman rasa di lidah, meskipun rumah makan ini mempunyai 165 cabang di berbagai daerah di Indonesia.
“Setiap per tiga bulan, tim produksi (koki) kami akan dibina tim ahli dan pakar kuliner dari manajemen pusat. Mereka akan datang membina dan melatih tim produksi kami, sekaligus menakar sejauh mana kualitas citarasa di cabang-cabang daerah, termasuk Makassar ini,” terangnya.
Didik menjelaskan, hal tersebut dilakukan lantaran manajemen pusat RM Ayam Bakar Wong Solo tidak ingin ada citarasa yang meleset dari aslinya, mulai dari rumah makan di pusat (Medan) sampai di daerah-daerah timur Indonesia seperti Timika, Papua.

Berpusat di Medan
Ada salah satu hal unik dengan RM Ayam Bakar Wong Solo, di mana rumah makan pusat atau utamanya justru terletak di Medan, dan bukan di Solo, Jawa Tengah sesuai namanya, “Wong Solo”.
“Pemilik rumah makan ini aslinya memang orang Solo, tetapi ia kemudian merantau ke Medan dan berhasil membuka RM Ayam Bakar Wong Solo. Makanya, rumah makan pusatnya terletak di Medan,” sebut Didik.
Keberhasilan gerai kuliner Nusantara tersebut, imbuh pria yang telah bekerja sejak 2004 di RM Ayam Bakar Wong Solo Makassar ini, tidak berhenti pada satu merek saja. Pemiliknya, saat ini sudah melebarkan sayap usahanya dengan melahirkan 10 merek kuliner lainnya.
“Pendiri sekaligus pemilik waralaba RM Ayam Bakar Wong Solo ini sudah mendirikan 10 merek usaha kuliner, di antaranya Ayam Penyet Surabaya, Mie Jogja Mie Pak Karso, Iga Bakar Mas Giri, dan merek-merek lainnya yang juga sudah tersebar di seluruh Indonesia. Untuk Ayam Penyet Surabaya sendiri, cabang Makassar terletak di Jalan Adhyaksa, samping RS Grestelina,” bebernya.

Bahan ayam kampung

Foto: Effendy Wongso
Salah satu keunikan dari menu RM Ayam Bakar Wong Solo ini terletak pada bahan dasarnya, yakni daging ayam kampung. Hal ini jugalah yang menjadi pembeda rumah makan tradisional tersebut dengan rumah makan lainnya dengan menu serupa, di mana biasanya mereka menggunakan bahan dari daging ayam ras.
“Ini memang sudah menjadi konsep rumah makan kami. Sejak didirikan, owner memang ingin menyajikan sesuatu yang khas, original tradisional, dengan bahan-bahan asli dari negeri sendiri. Makanya, bumbu-bumbu yang kami pergunakan pun semuanya berasal dari lokal seperti bawang putih, bawang merah, cabai, sereh, kunyit, jahe, gula merah, dan lain-lain,” ungkap Didik.
Memang, apa yang disampaikan Didik dapat dilihat dari sajian lezat menu ayam bakarnya. Sebut saja, selain daging ayam kampung, pelengkap selera gurih yang sepaket dengan ayam bakar juga ditunjang sambal pedas bersaus gula merah dan sekerat terong bakar bercampur cabai rawit. Tak hanya itu, untuk setiap porsi ayam bakar tersedia cawan kecil yang menaungi kuah hasil rebusan leher atau ceker ayam kampung dengan irisan tipis daun sup.
Adapun harga yang dipatok pihaknya cukup terjangkau, dengan menyasar segmentasi menengah ke atas. “Untuk Ayam Bakar Wong Solo reguler, harganya Rp 23 ribu. Ini sudah termasuk nasi, tempe dan tahu, serta sambal balado (terong). Namun, jika pelanggan memesan menu lebih, misalnya menambah sate ayam kampung dan telur, maka harganya lebih tinggi sedikit, Rp 30 ribu per porsi,” paparnya.
Selain menjual reguler, RM Ayam Bakar Wong Solo juga dijual secara paket dalam kotak dengan harga sama. “Kami juga menjual prasmanan, harga tergantung paket yang diminta pelanggan,” tutur Didik.
Kendati demikian, terkait keterbatasan pasokan ayam kampung yang selama ini menjadi kendala pengusaha kuliner penyedia menu ayam kampung, pihaknya mengantisipasinya dengan membuka peternakan ayam kampung sendiri di Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulsel.
“Kami bahkan membuka ternak ayam kampung sendiri di Pangkep. Ini untuk mengatasi kelangkaan ayam kampung. Seperti yang kita ketahui, kebanyakan peternak ayam lebih memilih beternak ayam ras daripada ayam kampung,” imbuh Didik.