27 March 2014

PERUMAHAN SEGMEN MBR POTENSIAL

Foto: Effendy Wongso
Melihat fenomena yang ada mengenai fasilitas likuiditas perumahan rakyat (FLPP), Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Sulsel, Arief Mone, mengatakan pasar rumah bersubsidi untuk segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) masih sangat besar dan potensial, bahkan saat ini stok rumah segmen tersebut tidak ada. Itu karena para pengembang sementara menahan diri untuk membangun FLPP.
Mayoritas pengembang sedang menunggu kepastian regulasi harga rumah bersubsidi dari Kemenpera, menyusul kenaikan harga yang sedang terjadi saat ini. REI sendiri mengusulkan kenaikan harga itu berada di kisaran Rp 105 juta hingga Rp 115 juta per unit, dari harga tahun lalu paling rendah Rp 88 juta.
Kenaikan harga rumah, kata Arief, karena berbagai faktor, seperti laju inflasi, kenaikan biaya produksi akibat penyesuaian harga material hingga pekerja, dan beberapa faktor lainnya. Selain itu, kenaikan harga properti berkala termasuk di Kota Makassar, juga termasuk faktor yang ikut mendorong kenaikan harga rumah, termasuk kategori FLPP. Ia menyebutkan, kenaikan properti berdasarkan survei Bank Indonesia (BI) menempatkan Makassar tertinggi kedua di Indonesia.
Tahun ini, REI menargetkan pembangunan rumah bersubsidi hingga 10 ribu rumah. Pembangunan tersebut tersebar di seluruh kabupaten dan kota se-Sulsel. Selain rumah bersubsidi atau FLPP, yang menjadi perhatian dari DPD REI Sulsel adalah pasar rumah tipe menengah dan menengah atas. Di Sulsel pembangunan rumah tipe menengah terus tumbuh. Tipe menengah merupakan rumah tipe 30 hingga 70, dengan kisaran harga di bawah Rp 500 juta. “Pembangunan rumah tipe menengah tetap tumbuh tahun ini. itu berbeda dengan rumah tipe menengah atas yang sedikit melambat,” terangnya.
Sementara perlambatan yang dialami rumah tipe menengah atas dengan harga di atas Rp 500 juta tersebut, sebut Arief dipengaruhi oleh kebijakan BI yang mengatur pembatasan down payment (DP) atau uang muka. (Yusuf A/blogkatahatiku.blogspot.com)