13 March 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI DI KAWASAN TIMUR INDONESIA

Foto: Effendy Wongso
Pertumbuhan ekonomi Sulsel yang cukup tinggi menjadi jualan politik para peserta debat kedelapan calon presiden RI melalui Konvensi Partai Demokrat (PD), Rabu (5/3) di Hotel Grand Clarion, Jalan AP Pettarani, Makassar. Sejumlah peserta konvensi mengangkat pertumbuhan ekonomi Sulsel, dan dijadikan sebagai penghubung pemerataan ekonomi di kawasan timur Indonesia (KTI). Peserta konvensi menyinggung pertumbuhan ekonomi di KTI yang tidak sama dengan kawasan barat Indonesia (KBI).
Para peserta konvensi dibagi dua sesi, sesi pertama masing-masing, Irman Gusman, Purnomo Edhie Wibowo, Gita Irawan Wiryawan, Marzuki Ali, dan Rasyid Anies Baswedan. Sementara untuk sesi kedua yang tampil adalah Ali Masykur Musa, Dino Patti Djalal, Endriartono Sutarto, Hayono Isman, Sinyo Harry Sarundajang, dan Dahlan Iskan.
Anies Baswedan yang merupakan Rektor Universitas Paramadina mengatakan, terjadi ketimpangan pembangunan ekonomi yang ada di KTI dan KBI. Untuk memeratakan pembangunan antara KTI dan KBI, perlu adanya relokasi industri-industri besar yang ada di KBI, khususnya di Pulau Jawa ke KTI. “Dengan adanya relokasi pusat-pusat industri yang ada di Pulau Jawa dan Sumatera, maka ini dapat memeratakan pembangunan di Indonesia,” ujarnya.
Anies menjelaskan, dengan adanya relokasi Industri ke KTI, khususnya Sulsel bisa menyerap tenaga kerja baru, sehingga pengangguran di Indonesia bisa berkurang. Selain itu, kontrol dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam pembangunan yang merata di seluruh wilayah Indonesia.
“Kita perlu melakukan efisiensi dan lebih memfokuskan pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia. Selain itu, porsi yang sama perlu diberikan kepada setiap daerah,” paparnya.
Sementara itu, mantan Menteri Perdagangan (Mendag), Gita Irawan Wiryawan, mengatakan masalah pembangunan infrastruktur memang menjadi kendala di KTI sehingga sangat tertinggal dibanding KBI. “Jika melihat besaran APBN kita, untuk melakukan pembangunan yang merata di seluruh daerah di Indonesia adalah tidak mungkin.  Porsi anggaran pun juga sangat terbatas dan hanya terpusat di KBI,” ungkapnya.
Salah satu peserta Kovensi Partai Demokrat di sesi dua, Ali Masykur Musa, mengatakan pertumbuhan ekonomi yang sudah terjadi dalam satu dekade terakhir, sudah menempatkan Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia dengan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp 9.084 triliun pada 2013 lalu. Hanya saja, sebutnya kekuatan ekonomi ini hanya berpusat di Pulau Jawa dan Sumatera yang menguasai 82 persen total PDB Indonesia.
Dengan demikian, porsi ekonomi tidak merata di seluruh pulau di Indonesia yang ada di KTI. Dalam debat bernegara Konvensi Demokrat putaran kedelapan, Ali menilai ekonomi Indonesia masih jauh dari harapan. Hal itu karena pemerintah saat ini belum bisa menjembatani ketersediaan infrastruktur yang memadai.
“Pembangunan masih berpusat di KBI. Kue Anggaran yang berasal dari APBN masih lebih difokuskan di Pulau Jawa dan Sumatera hingga 81 persen. Padahal, sumbangan pendapatan negara di KTI masih lebih besar dibandingkan yang kawasan lainnya di Indonesia. Untuk itu, Sulsel harus dijadikan gerbang ekonomi di KTI, apalagi Sulsel adalah provinsi yang mempunyai pertumbuhan ekonomi tertinggi dibanding provinsi lainnya di KTI,” papar mantan pimpinan Badan Pengawas Keuangan (BPK) RI ini.
Jika nantinya terpilih, lanjutnya, ia akan mendukung percepatan pembangunan infrastruktur yang ada di Sulsel seperti jalur trans Sulawesi yang menghubungkan provinsi-provinsi di Sulawesi. “Pembangunan Sulsel cukup menjanjikan. Tetapi hal berbeda terjadi di Sulbar, Sultra, Sulut, Sulteng, dan Gorontalo yang masih kalah dibandingkan Sulsel,” beber Ali.
Untuk itu, menurutnya Sulsel harus menjadi snowball effect pembangunan ekonomi kawasan. Apalagi, Sulsel merupakan provinsi yang sudah masuk dalam rancangan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia  (MP3I), dan sebagai sentra produksi hasil pertanian, perkebunan, perikanan, migas, dan pertambangan nasional.
“Perlu adanya dorongan untuk mengundang investasi yang lebih besar lagi di Sulsel. Selain itu, bagaimana mendorong sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk memperkuat perekonomian di Sulawesi, khususnya di Sulsel. Jika hal tersebut bisa dalaksanakan, maka KTI akan sama tinggi dengan KBI. Inilah cita-cita para founding father untuk menyatukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” pesannya.
Hal senada diungkapkan Dahlan Iskan yang menyebut pembangunan infrastruktur di KTI masih sangat tertinggal dibandingkan KBI. Ketidakmerataan tersebut terjadi akibat pertumbuhan ekonomi yang masih dipusatkan di KBI ketimbang KTI. “Ketimpangan pembangunan ini harus segera diselesaikan. Jika hal tersebut tidak bisa diselesaikan, Indonesia akan semakin tertinggal dibandingkan negara lain yang ada di Asean,” ujarnya.
Padahal, lanjutnya Dahlan jika dilihat pertumbuhan ekonomi di KTI, khususnya Sulsel adalah penyumbang tertinggi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Peningkatan infrastruktur di KTI perlu dikedepankan dan menjadi fokus pemerintah agar tidak terjadi ketimpangan. (Annisa/blogkatahatiku.blogspot.com)