13 March 2014

MP3EI DAN SMELTER PENGARUHI PERTUMBUHAN EKONOMI SULSEL

Foto: Istimewa
Kondisi perekonomian Sulsel di 2014 ini tetap akan mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hal itu dapat tumbuh di semua sektor, khususnya pada sektor sumber daya alam (SDA) yang dimiliki oleh Sulsel. Barometer tersebut juga dapat dilihat dari beberapa pabrik Smelter yang akan dibangun di beberapa kabupaten di Sulsel.
Pakar Ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, sekaligus Dewan Riset Daerah, Prof Muhammad Asdar mengatakan untuk lebih mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Sulsel, pemerintah hendaknya menggunakan anggaran yang ada hingga 90 persen. Apalagi, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo pernah mengatakan jika selama ini penggunaan anggaran hanya berkisar 70 persen dari total anggaran yang ada.
Menurutnya, anggaran seharusnya bisa dijalankan hingga 90 persen. “Dengan menjalankan investasi dengan baik, maka hal ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Sulsel. Juga mengurangi pengangguran dan kemiskinan, serta dapat membenahi infrastruktur yang ada.
“Jalankan investasi dengan baik, maka investasi yang masuk ke Sulsel akan lebih meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi pengangguran dan kemiskinan, serta bisa membenahi infrastruktur yang ada,” pesan Asdar saat berada di Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, pekan lalu.
Diungkapkan, Sulsel tetap optimis terhadap pertumbuhan ekonomi. “Smelter dan Pemilu akan membawa akselerasi-akselerasi positif di semua sektor, khususnya sektor ekonomi dan keuangan di 2014 ini,” paparnya.
Sementara itu, secara terpisah Kepala Kantor Wilayah I Bank Indonesia (BI) Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) Suhaedi mengatakan di 2014 ini pertumbuhan ekonomi Sulsel diproyeksikan akan tumbuh pada level 7,0 persen hingga 8,0 persen year on year (yoy). Pertumbuhan ekonomi sangat tergantung pada penyelesaian proyek-proyek infrastruktur, baik pemerintah maupun transaksional perdagangan dengan luar negeri.
“Inflasi Sulsel 2014 ini akan berada pada kisaran 4,3 persen hingga 5,3 persen, namun akan mengalami tekanan pada awal tahun, terutama untuk Volatile Food (VF) dan Core Inflation,” ujarnya.
Adapun pertumbuhan ekonomi yang melambat itu, sebut Suhaedi tidak terlepas dari relatif lemahnya faktor-faktor pendukung pertumbuhan, di mana pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada penyelesaian proyek-proyek infrastruktur, baik oleh pemerintah dalam kerangka Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia  (MP3EI) atau bukan, maupun pihak swasta serta penyelesaian pembangunan pabrik pemurnian logam (smelter).
“Kinerja perdagangan ekspor-impor, diproyeksi masih akan bertahan sehubungan masih stabilnya perekonomian negara mitra dagang,” tandasnya (Annisa/blogkatahatiku.blogspot.com)