02 March 2014

MINYAK TAWON, BERTAHAN LEBIH 100 TAHUN

Foto: Yusuf A
Saat ini siapa yang tidak kenal dengan produk minyak gosok cap Tawon. Salah satu produk yang sudah menjadi ikon Kota Makassar dan provinsi Sulawesi Selatan ini, telah diekspor ke banyak negara di dunia. Agen penjualannya pun tumbuh subur di beberapa  kota. Tidak heran kalau di Belanda dan China, produk minyak gosok cap Tawon cukup mudah ditemukan.
Meskipun hanya produk minyak gosok, Eddy Mattualy sebagai sang pemilik tetap bangga. Eddy telah mewarisi usaha minyak gosok cap Tawon dari orang tuanya sejak 1977. Sejak berusia enam tahun, ia sudah terbiasa melihat bagaimana ayah dan ibunya berdagang. Kini minyak gosok cap Tawon sudah mampu hidup selama lebih dari 100 tahun.
Minyak gosok yang merupakan asli produksi Indonesia ini tidak hanya dapat dinikmati oleh masyarakat di Tanah Air. Minyak gosok cap Tawon juga ditemukan di beberapa negara di Eropa, Australia, dan Amerika Serikat. Agar mencapai posisi demikian, semua itu membutuhkan sebuah  proses perjalanan yang panjang.
Pernah Eddy punya pengalaman yang sangat mengesankan dirinya. Suatu hari di sebuah Kota di Puerto Riko, ia kaget menemukan minyak gosok cap Tawon dijual di sebuah toko. Iseng-iseng Eddy bertanya kepada penjualnya tentang kegunaan minyak gosok tersebut. Jawaban yang didapat sangat memuaskan. Bahkan, pemilik toko itu menyatakan keinginannya untuk bertemu produsen minyak gosok tersebut.
Menurut Eddy, minyak gosok cap Tawon didirikan oleh sang kakek bernama Lie A Liat, di Makassar pada 6 Desember 1912. Ketika itu, Makassar sudah menjadi bandar perdagangan yang ramai, dengan jumlah penduduk sekitar 250 ribu jiwa. Lie A Liat dibantu sejumlah kerabatnya, dan tidak hanya puas memasarkan produknya di sekitar Kota Makassar. Mereka juga berusaha memasarkan minyak gosok racikannya hingga ke daerah pedalaman di Pulau Sulawesi.
“Kakek saya juga membawa minyak gosok ini sampai ke Surabaya dan Jakarta. Awalnya nama minyak gosok ini bukan cap Tawon, tetapi Toko Obat (TO) Boo Loeng,” tuturnya.
Ketika Lie A Liat  meninggal, usaha minyak gosok diteruskan oleh salah seorang putranya, yakni Frans Bani Mattualy. Ia menjadi pemimpin gerbong generasi kedua yang membuat minyak gosok TO Boo Loeng lebih dikenal masyarakat Indonesia. Pada 1984, merek TO Boo Loeng diganti, sesuai dengan pergantian nama perusahaannya, yakni PT Tawon Jaya Makassar. “Merek produknya juga berganti menjadi minyak gosok cap Tawon,” kata Eddy.
Saat Frans Bani Mattualy meninggal dunia pada 1977, bisnis dilanjutkan oleh putranya Eddy Mattualy. Regenerasi usaha berjalan relatif mulus, mungkin karena ini merupakan perusahaan keluarga. Selain disiplin, dalam keluarga mereka juga ditekankan pentingnya ketaatan dan patuh kepada orang tua. Itu yang kemudian membuat para generasi penerus berusaha mengembangkan warisan yang ditinggalkan leluhur mereka.
Selain mempertahankan kualitas produk, Eddy juga meneruskan tradisi keluarganya dengan memperlakukan karyawan sebagai bagian dari keluarga besarnya. Kini perusahaan itu sudah mempekerjakan tidak kurang dari 120 orang karyawan.
Tradisi lain yang tetap dijalankan di lingkungan  perusahaan adalah  mempekerjakan karyawan senior. Di perusahaannya, ada  karyawan yang tetap bekerja meskipun sudah berusia 82 tahun. Sebagian karyawannya juga sudah bekerja di perusahaan itu lebih dari 50 tahun.
“Banyak karyawan yang menolak pensiun karena menganggap bekerja di sini sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Usaha ini adalah bagian dari rumah mereka juga,” ungkapnya.
Sampai sekarang Eddy sudah memimpin jalannya proses produksi hingga pemasaaran minyak gosok cap Tawon selama 37 tahun. (Yusuf A/blogkatahatiku.blogspot.com)