29 March 2014

MELANI SIMON

Peduli Warga Marginal

Foto: Effendy Wongso
Era keterbukaan dan kesempatan untuk berpolitik pasca reformasi sampai saat ini memang belum maksimal menyentuh komunitas Tionghoa, paling tidak jika dilihat dari minimnya partisipan anak-anak mudanya yang masih enggan masuk ke parlemen. Namun hal ini tidak berlaku bagi seorang Melani Simon.
Bagi Melani, demikian ia dipanggil, politik adalah salah satu jalan yang dapat menjadi medium seseorang untuk mengekspresikan aspirasinya. Politik bukan lagi hal tabu bagi etnik Tionghoa karena pada dasarnya semua warga negara Indonesia punya hak dan kesempatan yang sama untuk mengimplementasikan pengabdiannya kepada negeri, salah satunya adalah dengan berpolitik.
Untuk itulah, wanita penyuka traveling yang aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan organisasi kampus semasa kuliah di Singapura ini, berharap kaum muda Tionghoa tidak “minder” dan dapat aktif berpolitik sebagai wujud kecintaan terhadap negeri.
Ditemui di posko pemenangannya, Jalan Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Rabu 26 Maret, kader muda Partai Nasdem yang mencalonkan diri sebagai calon legislatif (caleg) DPRD Makassar ini angkat bicara terkait ihwal ketertarikannya di dunia politik.
“Terus terang, dunia organisasi bukanlah hal asing bagi saya. Saya pribadi dekat dengan keorganisasian, di mana ayah saya adalah Ketua Yayasan Budi Luhur yang membawahi 12 yayasan Tionghoa yang ada di Makassar,” ungkap wanita bershio Monyet ini.
Keterlibatannya di dunia politik, juga dimotivasi keinginannya untuk membantu banyak warga marginal seperti mereka yang tinggal di kawasan kumuh, anak-anak jalanan maupun anak-anak terlantar. “Nah, tentunya lewat pendidikan gratis, raskin, pelatihan pemberdayaan bagi para perempuan, dan masih banyak program prorakyat yang belum terakomodir, khususnya di Kota Makassar,” beber wanita kelahiran Makassar, 18 Juni 1980 ini.
Melani menyebut, untuk mengimplementasikan aspirasinya tersebut hanya dapat dilakukan melalui politik dengan duduk di parlemen. Pasalnya, tanpa duduk di kursi dewan suaranya untuk membela rakyat kecil sulit terwujud. “Dengan duduk di kursi dewan, saya bisa langsung mengaplikasikan program yang sudah menjadi aspirasi saya,” alasannya.
Wanita pengusaha yang bergerak di bidang perhotelan ini melihat Makassar masih butuh pemimpin yang berempati, yang mau turun langsung membantu warga yang kurang mampu. “Terus terang, ini yang sudah saya lakukan. Saya bekerja, bukan sekadar janji. Ketika turun bersosialisasi, saya tidak pernah umbar janji atau menjanjikan sesuatu kepada masyarakat. Kalaupun ada kendala warga yang saya temui, sebisa mungkin saya membantu sesuai komitmen semula saya. Saya yakin, apapun yang mereka keluhkan bisa saya perjuangkan sebagai wakil rakyat kelak,” papar putri pasangan Eddy Simon dan Evie Rawung ini.
 Sebelumnya, wanita yang memiliki kepedulian dan jiwa sosial yang tinggi ini telah banyak membantu warga kurang mampu, di antaranya dengan menyediakan ambulans dan tim yang siap membantu warga yang tengah berduka. Selain itu, masalah infrastruktur jalan yang kurang memadai, drainase penyebab banjir, maraknya rumah kumuh, kurangnya penerangan jalan, dan masih banyaknya anak-anak yang butuh bantuan merupakan dorongan keterpanggilan hatinya untuk membantu.
“Masalah di semua kecamatan yang saya kunjungi sama. Saya melihat inilah yang perlu dibenahi. Permasalahan seperti tadi, akan jadi prioritas saya jika kelak terpilih,” ungkap wanita yang maju di daerah pemilihan (Dapil) II Kota Makassar, yang meliputi Kecamatan Wajo, Bontoala, Ujung Tanah, dan Tallo ini. (blogkatahatiku.blogspot.com)