17 March 2014

KESETARAAN DALAM MENINGKATKAN USAHA

Foto: Dok KATA HATIKU
Lingkungan usaha Indonesia saat ini dicirikan dengan meningkatnya persaingan di pasar domestik dan internasional. Tantangan utama yang dihadapi oleh perusahaan Indonesia dalam perjuangan mereka untuk tetap berdaya saing meliputi, di antara aspek-aspek lain, meningkatkan produktivitas mereka, menarik dan mempertahankan sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang memiliki keterampilan yang tepat, serta mengurangi konflik di tempat kerja.
Pembentukan sistem manajemen SDM terstruktur dan transparan berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan dan non-diskriminasi dapat membantu perusahaan untuk menjawab tantangan ini. Di Indonesia, mencari pekerja dengan keterampilan yang sesuai semakin menjadi perhatian umum bagi pengusaha. Indonesia telah menikmati pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan sejak krisis keuangan Asia, namun pengusaha tetap menghadapi tantangan SDM yang signifikan.
Indonesia mengalami kekurangan bakat. Perolehan pendidikan meningkat, tetapi tidak secepat usaha-usaha baru masuk ke pasar atau memperluas kebutuhan bakat mereka. Indonesia tertinggal di belakang para saingan regional dalam hal pencapaian pendidikan angkatan kerja. Dengan 6,5 persen pekerja yang memiliki ijazah universitas dan 72,9 persen pekerja Indonesia hanya mendapatkan pendidikan dasar atau di bawahnya, distribusi pekerja Indonesia menurut tingkat pendidikan tertinggal dari negara-negara lain di kawasan tersebut.
Sebagai prokesetaraan, seorang pengusaha yang memberikan penghargaan dan mempromosikan stafnya berdasarkan prestasi dan kontribusi, dapat membantu pengusaha menarik pelamar terampil yang termotivasi untuk bekerja keras dan menunjukkan potensi untuk kemajuan karier. Pemberian peluang pengembangan dan skema khusus, misalnya peluang untuk pengaturan kerja fleksibel, juga merupakan prakarsa penting yang dapat digunakan oleh pengusaha untuk menarik bakat ke perusahaan.
Komitmen pada non-diskriminasi memberi pengusaha akses ke kolam bakat yang lebih luas. Misalnya, menolak kandidat yang berkualitas dan cocok hanya karena jenis kelaminnya maupun etnisnya, maka hal itu merupakan penyia-nyiaan bakat. Memanfaatkan semua bakat yang tersedia ini, yang mungkin diabaikan oleh pengusaha lain lantaran alasan yang bersifat diskriminatif, dapat memberi pengusaha yang mempraktikkan perekrutan kesetaraan, unggul ketimbang pesaingnya. Menilai seluruh pelamar pekerjaan hanya berdasarkan prestasi, keterampilan, pengalaman, kemampuan, dan potensi mereka tanpa gangguan bias diskriminatif, akan membantu pengusaha dalam menemukan orang terbaik untuk pekerjaan tersebut.
Di Indonesia, sebagaimana juga bahkan lazim terjadi di negara lain, salah satu alasan utama bagi karyawan untuk berpindah pekerjaan adalah untuk mencari peluang yang lebih baik di perusahaan lain. Banyak perempuan juga meninggalkan pekerjaan ketika mereka menikah atau mulai memiliki anak karena meningkatnya tanggung jawab rumah tangga mereka. Untuk mencegah staf terlatih dan terampil pindah, pengusaha harus memastikan bahwa ada peluang pengembangan yang tersedia di dalam perusahaan, dan bahwa peluang ini terbuka bagi semua.
Praktik yang baik dalam keseimbangan kehidupan-pekerjaan seperti memberi jam kerja yang fleksibel, perlindungan kehamilan dan pemberian ASI eksklusif di tempat kerja, serta akomodasi yang bijaksana untuk karyawan berkebutuhan khusus, juga penting dalam menurunkan tingkat perpindahan karyawan. Seleksi untuk kebutuhan pelatihan atau promosi harus didasarkan pada kriteria seleksi yang adil dan objektif, dengan memberikan perhatian yang memadai pada keragaman tim dan langkah-langkah tindakan afirmatif perusahaan. (blogkatahatiku.blogspot.com)