15 March 2014

KACAMATA, GAYA HIDUP MODERN

Foto: Effendy Wongso
Di saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan produk mutakhir seperti komputer, televisi, serta beragam produk audio visual lainnya, yang dengan sendirinya membuka lahan subur bagi personal yang menguasasi ilmu refraksi optisi (RO) atau perkacamataan.
Bila menilik kehidupan keseharian masyarakat, rata-rata pria maupun wanita yang usianya di atas 40 tahun mengenakan optik atau kacamata. Jika bukan karena faktor genetik atau keturunan serta kecelakaan (insiden), maka banyak kerusakan mata disebabkan pola penggunaan produk audio visual yang kurang baik atau tinginya ketergantungan aktivitas pada produk audio visual.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kacamata merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat modern. Dengan demikian, semakin tinggi kebutuhan masyarakat modern terhadap kacamata, maka akan semakin luas pula ruang gerak para tenaga RO untuk mengaplikasikan ilmu sekaligus menambah pendapatan atau income. Dari segi ekonomi, semakin banyak income, semakin sejahteralah pelaku usaha di bidang ini, apalagi bisnis ini tak sekadar menjaring laba akan tetapi memiliki manfaat “pengobatan” mata melalui kacamata.
Memang, bisnis penjualan kacamata agaknya memiliki peluang yang bagus belakangan ini. Hal tersebut disebabkan angka pengguna kacamata di hampir semua daerah di Indonesia meningkat, tak terkecuali di Makassar. Uniknya, bukan karena mengalami rabun atau penyakit mata lainnya saja, namun pengguna kacamata pun meningkat lantaran telah menjadi opsi tren baru dalam komunitas masyarakat.
Dari pantauan KATA HATIKU, usaha optik sudah merambah mal-mal megah di Makassar. Sebut saja di Mal Ratu Indah (MaRI), di mana telah berderet sejumlah optik seperti Optik Melawai, Optik Tunggal, dan Optik Seis.
Serangkaian informasi yang diperoleh dari store manager optik-optik tersebut, dijelaskan bahwa kacamata telah bermetamorfosis, tak semata sebagai alat penyeimbang gangguan klasik mata, myopa (minus atau rabun jauh) ataupun presbiopia (plus atau rabun dekat), akan tetapi lebih kepada optik sebagai mode (fashion) dan gaya hidup.
Komunal masyarakat saat ini yang lebih memilih alat optik sebagai kebutuhan gaya hidup dibandingkan hanya sebagai “obat” menyebabkan tren penggunaan kacamata menanjak. Rata-rata omset dari usaha ini mendulang belasan hingga puluhan juta rupiah per hari. Dari serangkaian wawancara tersebut pula, didapat kesimpulan yang seragam bahwa kacamata di kekinian tak sekadar alat untuk menyempurnakan penglihatan, akan tetapi telah menjadi gaya hidup bagi kaum urban di perkotaan seperti Makassar.
Softlens atau lensa kontak misalnya, tak lagi berfungsi sebagai medium normalisasi mata myopa dan presbiopia, tetapi sudah berfungsi sebagai “hiasan” yang dicangkokkan pada mata. Warnanya pun beragam, mulai dari hitam, biru, coklat, bahkan pink. Pengguna kacamata sebagai mode mencapai 60 persen jika dibandingkan pengguna kacamata sebagai obat, demikian salah satu jawaban yang diperoleh menyoal kacamata yang telah mengalami alih fungsi.
Di luar itu, yang menjadi sasaran pasar bisnis optik adalah masyarakat yang memakai kacamata untuk membantu melihat karena matanya kurang sehat. Kebanyakan konsumen bisnis optik adalah para pelajar, mahasiswa, karyawan, serta masyarakat umum yang kesehatan matanya sudah terganggu.
Untuk memulai bisnis ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu melakukan survei pasar mengenai keberadaan optik yang ada di sekitar lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat usaha. Kemudian yang perlu diperhatikan adalah persiapan modal usaha yang dibutuhkan untuk membuka bisnis ini. Bila suatu bisnis sudah mulai berdiri, langkah yang paling penting adalah memperluas jaringan dengan cara berpromosi.
Saat ini kebutuhan masyarakat terhadap kacamata semakin meningkat, sehingga prospek bisnis ini pun semakin besar. Selain itu peluang pasar bisnis kacamata juga masih sangat terbuka lebar, di mana seorang calon pelaku usaha dapat menambahkan produk kacamata fantasi atau kacamata hias. Jadi, sasaran market tidak hanya terpaku pada konsumen yang mengalami gangguan kesehatan mata saja.
Namun kekurangan bisnis ini terletak pada geliat bisnis optik itu sendiri, di mana para pelaku usaha akan dihadapkan pada berbagai kendala, antara lain daya beli masyarakat yang fluktuatif, kadang naik dan turun. Kendala berikutnya terkait persaingan bisnis yang cukup ketat dan kompetitif, di mana pelaku bisnis optik saat ini sudah banyak ditemui di kota maupun di daerah-daerah.
Adapun kendala lain yakni ketersediaan bahan yang harus disesuaikan dengan minat konsumen, sehingga pelaku bisnis harus peka terhadap permintaan pasar. Memang, ini harus jeli diamati agar tidak terjadi penumpukan bahan baku yang tidak laku, dan begitu juga sebaliknya tidak kekurangan bahan baku yang banyak diminati konsumen. (blogkatahatiku.blogspot.com)