17 March 2014

EKSPO, UPAYA LAHIRKAN INDUSTRI REGIONAL

Foto: Effendy Wongso
Penjualan produk informasi teknologi (IT) seperti gadget dan komputer di Indonesia masih menggunakan barometer tingkat keberhasilan sektor lainnya, terlepas dari fluktuasi moneter di tingkat nasional. Keterkaitan tersebut sering menyeret iklim penjualan, baik pemasaran maupun distribusinya menjadi stagnan dan jalan di tempat.
Untuk memasarkan produk IT, apalagi yang mutakhir memang tidak cukup hanya melakukan pengiklanan secara konvensional, tetapi lebih dibutuhkan pendekatan personal dengan para calon pembeli. Selain itu, pemasaran produk IT juga perlu menggunakan strategi dan sistem promosi yang mumpuni.
Bisnis penjualan gadget dan komputer yang kian kompetitif, memaksa stakeholder dan anggota Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) untuk menyiasati persaingan di sektor ini dengan banyak melakukan sosialisasi produk mereka lewat ekspo. Selain itu, penerapan sistem yang lebih terpadu seperti mengolah aturan internal yang lebih baik diharap dapat memacu anggota asosiasi untuk fokus mengembangkan usaha yang tengah dirintisnya.
Aturan-aturan tersebut di antaranya dengan menerapkan diferensiasi produk yang dijual masing-masing anggota Apkomindo. Sebelumnya, beberapa anggota asosiasi sudah menjual produk vendor secara spesifik, misalnya toko tertentu hanya menjual merek komputer tertentu saja. Langkah ini diberlakukan asosiasi untuk keberlangsungan bisnis komputer maupun gadget, karena untuk membendung perang harga sudah tidak memungkinkan lagi.
Hingga lewat event-event seperti ekspo dan pameran inilah, pengusaha yang berkutat di bidang IT dapat memperkenalkan produknya melalui berbagai pengayaan program yang lebih cerdas ketimbang melakukan price-war seperti yang terjadi beberapa tahun belakangan ini.
Mengawali Maret 2014, bersama PT Dyandra Promosindo, Apkomindo kembali menggelar ekspo bertajuk Mega Bazaar Consumer Show 2014. Event sebelumnya bernama Mega Bazaar Computer (MBC), akan tetapi untuk lebih mengadaptasi pengguna IT yang kini lebih universal, pihak penyelenggara sepakat mengganti nama event. Pasalnya, dengan mengikuti tren perkembangan teknologi itu sendiri, perubahan harus dilakukan guna merangkul banyak elemen, dan tak sekadar terpusat pada pasar yang sempit saja.
Sejauh ini, pihak Dyandra sebagai penyelenggara ekspo-ekspo besar melihat prospek industri IT, khususnya di Makassar mengalami perkembangan signifikan, di mana ini juga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang sudah membaik. Potensialnya pasar IT di daerah ini bisa digali dan lebih dikembangkan lagi, mengingat industri sudah merambah tak hanya ke kelas atas, tetapi juga sudah mengarah ke kelas menengah bawah. Apalagi, pelaku sektor usaha mikro, kecil dan menengah sudah harus di-blow up dengan teknologi mutakhir seperti komputer dan gadget.
Sementara itu, Apkomindo melihat ekspo sebagai jalan penetrasi produk-produknya, sekaligus langkah untuk merangsang lahirnya industri-industri regional agar dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Pasalnya, hampir semua produk IT masih dikuasai produsen asing, dan kondisi seperti ini memang tidak terlalu “sehat” untuk industri nasional.
Memang, ekspo boleh jadi langkah segelintir pengusaha untuk mensosialisasikan produk-produk mutakhirnya, tetapi di balik itu kegiatan itu boleh jadi merupakan langkah kecil untuk membangun industri lokal yang sudah jauh tertinggal dibandingkan negara-negara maju. (blogkatahatiku.blogspot.com)