29 March 2014

DARI PENIKMAT HINGGA JURAGAN KULINER

Erick Horas
Pemilik Bangi Kopitiam Makassar

Foto: Pribadi
Keseriusannya terhadap pengembangan usaha kuliner sudah dilakoni salah seorang anggota DPRD Kota Makassar ini sejak muda. Saat baru lulus SMA, “juragan” usaha kuliner ini telah memberanikan diri terjun dan merintis usaha restoran bersama keluarganya. Tentu tidak mudah, demikian Erick Horas mengungkap lantaran setiap usaha, apapun jenisnya pasti memiliki kendala dan rintangan tersendiri.
“Sejak muda saya sudah terjun merintis usaha kuliner dengan mendirikan rumah makan Dinar. Waktu itu saya baru tamat SMA di 2001. Karena keluarga kami memang penikmat kuliner, saya pikir mengapa kami tidak sekalian saja membuat usaha di bidang kuliner? Nah, atas dasar itulah maka saya bersama keluarga berinisiatif mendirikan Dinar,” ungkap pria penyuka mi goreng dan coto Makassar ini, saat ditemui di kafe terbaru miliknya, Bangi Kopitiam, Jalan Botolempangan, Makassar, Kamis (20/3/2014) pagi.
Pria kelahiran Makassar, 16 Oktober 1983 ini juga mengungkapkan bahwa kerja keras telah menjadi etos dan kultur dalam keluarganya. Hingga tidaklah mengherankan jika di usianya yang terbilang sangat muda, ia sudah mengemban tugas menjalankan bisnis keluarga yang tidak ringan, yakni mendirikan rumah makan Dinar, salah satu restoran seafood yang sangat populer di Makassar.
 “Hingga saat ini, kami telah membuka rumah makan Dinar hingga lima cabang. Cabang pertama di Jalan Gunung Latimojong, selebihnya dua di Jalan Lamadukelleng dan lainnya ada dua lagi di Jakarta,” papar pria yang hobi olahraga renang dan jet ski ini.
Meski masih sangat muda untuk memikul usaha sebesar itu, Erick mengaku hal tersebut dilakukannya dengan legawa, semata memanfaatkan dan mengisi masa mudanya dengan hal-hal yang berguna. “Sembari kuliah, saya masih tetap fokus mengembangkan Dinar. Terbukti, keduanya memang dapat berjalan lancar,” aku ayah Nicholas Dawson Horas ini.
Kendati demikian, suami Meiliany Wijaya ini mengungkapkan usaha apapun yang dirintis seseorang, bukan berarti tak menemui kendala. Begitu pula yang ia hadapi saat membesarkan usaha rumah makan seafoodnya.
“Kendala pasti ada, tetapi itu saya anggap rintangan dan cobaan yang mesti dihadapi seorang pengusaha. Pada akhirnya, kami berhasil melewati rintangan itu, dan berkembang sedikit demi sedikit hingga maju. Ya, mungkin karena rezekinya di sini (kuliner), maka akhirnya saya dan keluarga berpikir untuk tetap fokus dan mengembangkan usaha kuliner ini sampai sekarang,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)