15 March 2014

Bisnis Optik yang Menjanjikan

TREND-SETTER - Saat ini, konteks yang terjadi dalam bisnis optik atau kacamata dapat dikatakan bermetamorfosis dari fungsi pengobatan menjadi trend-setter. Kacamata tak sekadar alat yang dapat menormalkan penglihatan seseorang, akan tetapi juga berfungsi menjadi aksesoris dan mode yang dapat menaikkan gengsi. BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
BLOGKATAHATIKU - Saat ini, konteks yang terjadi dalam bisnis optik atau kacamata dapat dikatakan bermetamorfosis dari fungsi pengobatan menjadi trend-setter. Kacamata tak sekadar alat yang dapat menormalkan penglihatan seseorang, akan tetapi juga berfungsi menjadi aksesoris dan mode yang dapat menaikkan gengsi.
Tak heran, dalam sebuah etalase, kacamata dengan merek-merek ternama seperti Rodenstock dan Essilor dapat berharga belasan, bahkan puluhan juta rupiah per bingkainya. Dunia mode dewasa ini pun tak dapat lepas dari kacamata, dan setali tiga uang, bisnis optik pun berubah menjadi lahan gembur untuk menuai laba.
Hal itu diungkapkan oleh penulis dan pemerhati bisnis-sosial, Khiva Amanda saat dimintai komentarnya beberapa waktu lalu di Jakarta. “Sekarang, fashion baik dari luar maupun dalam negeri sangat meng-influence masyarakat. Ini termasuk mode kacamata dan softlens (lensa kontak). Oleh karena itu, saat ini banyak toko optik bermunculan yang memiliki tenaga kerja ahli dan berkompeten demi menghasilkan sebuah kacamata yang representatif,” urainya.
Hal itu pulalah yang mendorong banyak pelaku usaha yang ingin membuka usaha optik. Dapat dikata, optik adalah kebutuhan sehari-hari masyarakat yang mengalami gangguan penglihatan.
“Menurut saya, toko optik adalah salah satu usaha yang boleh dibilang timeless bussines. Selain memiliki masa resistansi yang panjang, usaha ini juga tak mengenal kedaluwarsa seperti bahan pangan. Kendalanya, ya paling cuma ketinggalan mode, terutama pada frame atau bingkainya. Tetapi, tetap saja dapat digunakan bagi yang mengabaikan soal penampilan,” ungkapnya.
Khiva beralasan, tingginya kebutuhan terhadap kacamata lantaran meningkatnya kebutuhan masyarakat pada “obat” untuk menormalisasi penglihatan ini. Menurut data yang ia peroleh dari  Direktort Jenderal (Dirjen) Industri Logam, Mesin, dan Tekstil di 2008 silam, sekitar 40 persen penduduk Indonesia atau melingkupi sekitar 80 juta orang di Indonesia membutuhkan kacamata.
“Nah, itu data pada 2008 lalu, ya. Apalagi sekarang, dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka otomatis kebutuhan terhadap kacamata semakin meningkat. Saya kira, inilah peluang usaha yang minim risiko, apalagi keuntungan dari harga jual kacamata per frame bisa mencapai 25 persen sampai 30 persen,” bebernya.
Kendati demikian, ayah dari dua orang putri mengingatkan bisnis optik juga memiliki rule atau aturan yang sama dengan bisnis lainnya. Sebab kalau tidak, menurutnya usaha apapun itu akan menyebabkan kolaps, terutama jika tidak memiliki perencanaan usaha yang jelas.
“Tujuan pemasaran penting direncanakan oleh pelaku usaha, karena ini akan memberikan tanggapan yang positif bagi konsumen. Informasi yang jelas secara visual maupun verbal, dan tidak menyinggung perasaan konsumen akan menguntungkan pihak produsen,” pesannya.
Tidak menyinggung konsumen yang dimaksud wanita yang hobi membaca buku motivasi ini, adalah pelaku usaha harus menampilkan produk yang berkualitas. Di sini, pelaku usaha harus benar-benar tunduk pada aturan main, di mana harga jual harus sesuai dengan segmentasi.
“Strategi yang dibuat untuk menentukan tujuan yang terbaik. Begitu pula dengan pemasaran optik, strategi pemasaran digunakan untuk meningkatkan produktivitas usaha, di antaranya dengan 4P yaitu product (produk), price (harga), distribution (penyalur), dan promosion (promosi).
“Mematuhi rule product, berarti pelaku usaha hanya menawarkan barang-barang yang berkualitas dan selalu meng-update jenis softlens, lensa, dan frame kacamata yang dijual. Untuk rule price, harga kacamata, lensa dan frame yang djual ke konsumen tergantung segmentasi yang disasar, dari berkisar Rp 100 ribu hinga Rp 1 juta ke atas,” runutnya.
Adapun rule distribution, lanjutnya adalah bagaimana penyaluran produk yang digunakan memakai distribusi ekslusif. “Dalam paket antar barang ke tujuan pemesanan, pelaku usaha seyogianya memaket barangnya sebaik mungkin, tidak rentan rusak atau pecah, serta memadukannya dengan asuransi. Ya, ini semua demi kenyamanan pelanggan,” serunya.
Terkait rule terakhir yakni promotion, Khiva mengatakan bahwa bisnis optik tak terlepas dari promosi meskipun produk ini merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Promosi tersebut dapat berupa penyediakan layanan pemeriksaan mata dan konsultasi secara gratis.
“Nah, selain dengan cara seperti itu, pelaku usaha juga harus kreatif mengadakan promosi secara offline, seperti mengadakan event pemeriksaan mata gratis di lingkungan sekitar tempat usahanya,” katanya.
Menyoal potensi usaha di bidang optik yang masuk kategori “timeless bussines”, wanita berkacamata minus ini mengatakan, selain memiliki pangsa pasar besar dengan kisaran 40 persen dari penduduk Indonesia yang memiliki gangguan penglihatan, kacamata juga merupakan alat kesehatan mata atau “obat” bantu penglihatan, sehingga semua lapisan masyarakat membutuhkannya.
“Keharusan pemakaian kacamata pada usia presbiopia atau usia di atas 40 tahun berfungsi untuk membantu seseorang membaca lebih jelas. Apalagi, persentase penduduk Indonesia yang berusia di atas 40 tahun cukup tinggi, sehingga segmen pasarnya sangat bagus,” cetusnya.
Ditambahkan, kacamata merupakan salah satu item yang mendapat charge atau rembers, penggantian dari asuransi, karena kelainan refraksi mata merupakan substansi yang diasuransikan. “Kita dapat bekerja sama dengan asuransi kesehatan yang ditunjuk instasi untuk menjadi provider optik, ini jelas dapat meningkatkan jaringan market yang telah ada, dengan sistem pembayaran yang jelas dari pihak asuransi,” ungkapnya.
Diterangkan, selama ini market optik terbagi dua, yakni retail di mana konsumen langsung yang datang ke showroom, dan korporat atau mobile optical service di mana produksi disalurkan ke lapangan seperti instansi-instansi negeri dan swasta, pabrik, sekolah, kampus, yayasan, dan lain-lain.
“Market ini sangat besar, mampu mem-back up produksi semakin lancar, tentunya dengan manajemen produksi yang profesional,” tuturnya.
Sementara itu, pasar potensial lainnya adalah berasal dari psikologi para konsumen itu sendiri. “Bisanya, masa kenyamanan pemakaian kacamata berkisar antara satu sampai dengan enam bulan, sehingga dalam satu tahun, bisa terjadi penggantian kacamata selama dua kali, dan ini bergantung kepada kondisi kesehatan mata konsumen itu sendiri, juga model frame dan lensa yang selalu berubah. Hal ini otomatis meningkatkan repeat order bagi produsen,” katanya.
Apalagi, selain sebagai alat bantu penglihatan mata kacamata juga berfungsi sebagai aksesoris, karena setiap konsumen membutuhkan penampilan. Alat bantu ini, papar Khiva, dapat menaikan gengsi dan penampilan seseorang. Sebagai benda pendukung lifestyle, hal ini menjadikan konsumsi kacamata lebih dari satu buah melebihi kebutuhan.
Kacamata adalah barang yang tidak mudah rusak, sebagaimana jika seseorang berusaha di bidang makanan yang dibatasi oleh keterbatasan waktu (kedaluwarsa) dan keawetan produk itu sendiri. Risiko seperti itu bisa dihindari karena produk kacamata bisa dijual sepanjang masa,” ujar Khiva.