17 February 2014

USAHA KACANG METE MELALUI UMKM


AGUS KHALIK
Pemilik Toko Oleh-oleh Khas Makassar
“Rintis Usaha Mete dari Nol Melalui UMKM”

Foto: Effendy Wongso
Jalani usaha dari titik nol memang tidak mudah. Banyak proses getir yang mesti dijalani sehingga bisa berkembang hingga membuahkan hasil seperti sekarang. Itulah yang dirasakan oleh Agus Khalik, pengusaha yang bergerak di sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), “Oleh-oleh Khas Makassar”.
Ditemui beberapa waktu lalu di rukonya, Jalan Monumen Emmy Saelan, Makassar, Agus, demikian pengusaha mandiri ini disapa, mengungkapkan awal-awal sulit yang dijalaninya selama 12 tahun merintis usahanya. “Saya sempat jatuh-bangun, bahkan dua kali di awal usaha. Tapi saya tetap berusaha bangkit lagi,” ungkap pria yang menikah pada 10 Maret 2001 ini.
Agus mengisahkan, ihwal usaha yang dibangunnya tak lepas dari ketertarikannya terhadap mete. Sewaktu bekerja sebagai tenaga pengajar mata kuliah Bimbingan Konseling di STKIP Makassar, runutnya, sepulang kerja, ia kerap singgah di perkulakan Goro, Jalan AP Pettarani, Makassar, untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
“Suatu hari saya tertarik dengan mete, ketika itu saya melihat mete dalam jumlah banyak, bertumpuk-tumpuk, tapi masih tetap pada posisi semula, tidak pernah berkurang dari minggu ke minggu,” akunya.
Sejak saat itulah, suami dari Suryati ini kemudian memutuskan untuk membeli mete sekitar setengah kilogram untuk diolah kemudian dijual. Kemasan yang dipakainya masih sederhana, ia mengemas mete dengan harga eceran Rp 1.000 per bungkus, yang kemudian dititip di warung makan.
“Saya tidak menyangka, respons pasar yang positif waktu itu. Pada saat itulah, saya kemudian memberanikan diri untuk membeli mete lebih banyak lagi,” ujar Agus.
Selain menitip mete gorengya di warung makan, ia pun menjajakan ke kampus-kampus dan toko-toko besar dengan berjalan kaki. Kerap kali barang yang ditawarkan pria kelahiran Sidrap, 12 Januari 1973 ini, mendapat penolakan dari pemilik toko, namun ia tidak patah semangat.
Untuk meraih sukses, ayah dua anak ini mengemukakan terus memperdalam kelihaian dalam bisnis. Pelatihan bisnis yang dilaksanakan oleh pemerintah dan kampus-kampus, lanjutnya, tidak pernah luput dari perhatiannya. Meski kerap ditolak oleh panitia pelaksana pelatihan karena tidak membawa undangan pada waktu itu, ia menunggu hingga kegiatan dilaksanakan.
“Biasanya saya bertanya kepada panitia, ‘boleh tidak saya menggantikan undangan yang tidak datang,’ nah dari sana biasanya saya diizinkan masuk sebagai peserta kegiatan,” kenang Agus.
Anak dari pasangan Abdul Khalik dan Bayani ini mengatakan, meraih sukses memang tidak mudah. Mendapat penolakan dari berbagai pihak adalah hal yang biasa. Menurut Agus, tekad kuat dan tidak mudah putus asa, memang sudah ditanamkan oleh orang tuanya sejak ia kecil.
Didikan orang tua saya yang mengajarkan kemandirian, membentuk karakter dan mental saya. Sejak kecil, SD hingga SMP, saya diajarkan hidup mandiri dengan menjual es lilin,” ungkapnya.
Selain itu, tambahnya, kejujuran dan kesabaran adalah sifat yang ditanamkan orang tuanya sejak dini. Ayah dari Azra dan Naufal ini juga dididik untuk taat terhadap ajaran agama. Semua hal ini membentuk karakter tangguh dan tak gampang menyerah sehingga bisa menjalankan usahanya dengan sukses.

Usaha yang Semakin Berkembang

Agus mengatakan, di 2014 usahanya semakin berkembang. Ia mulai kewalahan memenuhi permintaan kacang mete yang semakin banyak lantaran modal yang dimilikinya masih kecil. Ia kemudian menghubungi teman temannya yang memiliki koperasi untuk berinvestasi dibisnisnya.
“Waktu itu modal yang terkumpul sebanyak Rp 25 juta. Nah, dengan modal sebesar itu, saya akhirnya bisa memenuhi permintaan pasar dengan membuat mete sebanyak lima kilogram per hari,” terangnya.
Saat ini,urai Agus, selain mete goreng, ia juga memproduksi kacang goreng dan jagung yang dapat dijumpai di mal atau swalayan terkemuka seperti Hypermart dengan merk Asan. Asan diambil dari singkatan nama keluarganya, Agus, Suryati, Azra, dan Naufal. Omset yang dicapai saat ini mencapai puluhan juta rupiah perbulan. Sedangkan produknya telah dipasarkan di Kendari, Surabaya, dan Jakarta.
Meski telah sukses, namun Agus tidak tinggi hati. Ia mengatakan, baginya, produk yang masuk di mal tidak mengambil untung besar, akan tetapi sebatas promosi saja. “Saya lebih banyak meraih keuntungan dari toko ‘Oleh-oleh Khas Makassar’, yang terletak di Jalan Emmy Saelan ini,” tandasnya.

Bermula dari 5 Kilogram

Agus menerangkan, mete atau mede dikenal pula sebagai jambu monyet (anacardium occidentale), merupakan sejenis tanaman dari suku anacardiaceae yang berasal dari Brasil dan memiliki ‘buah’ yang dapat dimakan. Buah ini bijinya biasa dikeringkan dan digoreng untuk dijadikan berbagai macam penganan. Secara botani, tumbuhan ini sama sekali bukan anggota jambu-jambuan (myrtaceae) maupun kacang-kacangan (fabaceae), melainkan malah lebih dekat kekerabatannya dengan mangga (suku Anacardiaceae).
Dijelaskan, mete dalam bahasa Inggris dinamakan cashew (tree), berasal dari bahasa Portugis (untuk menamai buahnya), caju. Sedangkan nama marganya, anacardium, merujuk pada bentuk buah semunya yang seperti jantung terbalik.
Agus Khalik memulai usaha “kacang” mete bermula dari lima kilogram. Pengemasan dilakukan secara sederhana, dengan membanderol Rp 1.000 per bungkus. “Saya mengajak teman-teman untuk investasi modal, mereka punya  koperasi dan menyisihkan gaji dari koperasinya untuk investasi,” ungkapnya.
Dari sana, terang Agus, terkumpul Rp 25 juta. Investasi terus meningkat, apalagi ketika harga mete naik seratus persen, yang semula Rp 27 ribu ke Rp 55 ribu per kilogram.
Sekarang, hasil produksinya tak hanya mete, tetapi juga jagung disco (camilan khas Makassar) dan markisa. “Selain itu, saya juga menampung produk UMKM lain seperti sirup markisa, minyak gosok, dan lain-lain, serta memasarkannya kepada pelanggan tetap,” paparnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)