07 February 2014

TIAP KABUPATEN HARUSNYA MILIKI DESTINASI PARIWISATA

Anggiat Sinaga
Ketua PHRI Sulsel
“Tiap Kabupaten Harusnya Miliki Destinasi Pariwisata”

PENGHARGAAN - Ketua PHRI Sulsel Anggiat Sinaga (dua
dari kiri) saat menerima penghargaan dari panitia Celebes
Hotel and Tourism di Makassar beberapa waktu lalu.

Foto: Effendy Wongso
Sebagai pintu gerbang di kawasan timur Indonesia (KTI), Makassar semakin menarik perhatian para pedagang, investor, maupun pebisnis dalam maupun luar negeri untuk ekspansi bisnis di Makassar. Hal tersebut semakin mendasari pertumbuhan hotel dari tahun ke tahun yang semakin bertambah di Makassar.
Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel, Anggiat Sinaga, saat ditemui di Hotel Grand Clarion pekan lalu, menuturkan perkembangan tersebut. Secara gamblang ia menjelaskan, di 2013 dan 2014 ini, hingga dua tahun ke depan, pertumbuhan hotel berkisar 78 persen dengan 35 unit hotel atau 6.800 hingga delapan ribu kamar.
“Di 2015, diproyeksikan sekitar 15 ribu kamar hotel,” ucap Anggiat yang juga Direktur Utama Hotel Grand Clarion.
Untuk mengatasi dampak menjamurnya hotel di Makassar yang tidak seimbang dengan jumlah okupansi, Anggiat mengatakan kalau selama ini telah melakukan sinergi yang maksimal antara PHRI, Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita), serta Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Sulsel dan Kota Makassar.
Kegiatan tersebut antara lain dengan melakukan sejumlah program PHRI sepanjang 2013 yang sudah terealisasi, yakni melakukan pelatihan dan pembinaan anggota PHRI, seminar bertaraf internasional, kunjungan ke daerah-daerah, membentuk pengurus daerah, dan membenahi struktur di daerah supaya intensif membuat berbagai kegiatan.
“Kerja sama dengan semua pihak selalu berjalan baik, terbukti dengan adanya kegiatan yang dilakukan secara kolektif antara industri pariwisata dan pemerintah selalu lancar,” ungkapnya.
Tidak dipungkiri, keberadaan hotel yang tidak seimbang dengan jumlah pengunjung akan menjadi bumerang bagi industri perhotelan dan pemerintah sendiri, di mana masih terbatasnya anggaran promosi dan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Untuk itu, Anggiat berharap ke depannya pihaknya akan intensif melakukan pelatihan dan bimbingan di beberapa kabupaten di Sulsel, dan bagaimana menyiasati keterbatasan dana promosi dari pusat dengan membentuk sebuah badan promosi pariwisata di Makassar.
“Selama ini, pemerintah terkesan masih setengah hati lantaran kepengurusan terkait hal ini diurus oleh Disbudpar Makassar, sementara Badan Pelayanan Perizinan dan Penanaman Modal (BP3M) di Sulsel belum dibentuk, padahal ini tujuannya untuk merangsang jumlah pengunjung,” cetusnya.
Lebih lanjut Anggiat mengemukakan untuk menarik jumlah pengunjung di Makassar Sulsel telah melakukan pembenahan di segala sektor. Kendati demikian,  ke depannya, Sulsel atau Makassar jangan terlena dengan perkembangan dan pertumbuhan ekonominya yang di atas rata-rata nasional tersebut.
Dengan terus membenahi sejumlah objek wisata yang ada, dirinya yakin kegiatan MICE di Makassar akan semakin bertambah. “Kita jangan larut dan terlena dengan perkembangan yang ada sekarang mengingat semakin pesatnya persaingan yang akan kita hadapi nantinya,” pintanya.
Sejumlah kegiatan yang dilakukan secara kolektif antara industri dan pemerintah sukses digelar di Makassar. Untuk itu ia mengatakan, dalam menghadapi masyarakat ekonomi Asean (MEA), PHRI Sulsel akan segera membenahi SDM untuk siap bersaing secara lokal, nasional, maupun internasional.
PHRI sudah melakukan pelatihan SDM di Makassar, Pangkep, Bantaeng, dan Enrekang. “Tidak ada kekhawatiran untuk berkompetisi dengan orang-orang luar dalam soal pelayanan dan kualitas,” kata pria yang mengawali kariernya dari nol ini.
Berbagai kegiatan yang telah dilakukan secara intensif terkait kegiatan-kegiatan seperti Lovely Desember dan Festival Toraja di Toraja, Takabonerate di Selayar, dan masih banyak lagi kegiatan lokal yang sudah berjalan di Sulsel.
Menurut pria kelahiran Asahan, 11 juli 1967 ini, Sulsel harus melahirkan diversifikasi atau strategi marketing dan pengoptimalisasian sejumlah objek wisata serta pelayanan di Sulsel agar lebih kencang lagi promosinya.
“Penerbangan lebih dimaksimalkan, di mana prinsip pariwisata itu mengatakan bahwa semakin mudah suatu tempat diakses, maka akan semakin banyak pengunjungnya,” imbuhnya.
Untuk itulah, ia menegaskan jika setiap kabupaten seyogianya ada destinasi objek wisata yang menarik perhatian pengunjung. “Jangan cuma Makassar, Toraja, Maros, Parepare, dan Bantaeng yang berteriak kencang promosi pariwisata,” pesannya.
Untuk program PHRI ke depan, ia mengatakan akan membuka ekspo peralatan rumah makan agar para pengusaha dapat memperoleh barang-barang perlengkapan rumah makan dengan mudah.
“Sebagai Ketua PHRI Sulsel, saya mengimbau kepada sejumlah pengusaha hotel dan restoran untuk berbenah, baik dari segi pelayanan, kebersihan, dan kualitas SDM. (blogkatahatiku.blogspot.com)