24 February 2014

SUMRINGAH BISNIS PERCETAKAN JELANG PEMILU

Foto: Effendy Wongso
Musim pemilihan umum (Pemilu) memberi dampak yang cukup besar bagi pelaku bisnis percetakan. Seperti yang  dialami oleh Sugianto, pemilik percetakan UD Citra Satria, yang mengaku mengalami kenaikan omset 20 persen hingga 30 persen, dibandingkan dengan waktu di mana tidak ada momen politik lima tahunan tersebut.
Beberapa alat bantu sosialisasi yang paling banyak dipesan oleh peserta Pemilu,  antara lain baju kaus, spanduk, brosur, kalender, kartu nama, dan stiker. Mengenai harga, menurut Sugianto sangat beragam, tergantung hasil negosiasi yang dilakukan. Sebagai contoh, untuk baju kaus oblong harganya mulai Rp 16 ribu sampai Rp 55 ribu, spanduk Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu per meter, stiker harganya mulai Rp 1.000 sampai Rp 5 ribu, dan kartu nama mulai Rp 25 ribu hingga Rp 45 ribu per boks.
Untuk rata-rata pemasukan di UD Citra Satria selama musim Pemilu tahun ini sebesar Rp 200 juta sebulan. Menurutnya, meskipun jumlah penjualan terlihat besar untuk Pemilu 2014, tetapi pria yang hobi olahraga ini berujar hal tersebut tidak berbanding dengan beban produksi yang ditanggung perusahaan.
“Biaya produksi tersebut di antaranya harga bahan baku yang semakin tinggi, dan kenaikan upah pekerja yang juga melambung tinggi,” sebutnya.
Ditambahkan, apalagi pemasukan pada event Pemilu kali ini mengalami penurunan yang sangat drastis, jika dibandingkan dengan musim Pemilu lima tahun lalu, di mana turunnya bahkan mencapai angka 50 persen. Keterbukaan pasar yang kemudian membuat para anggota calon legislatif (Caleg) lebih banyak yang memesan alat sosialiasi di Jakarta, menggunakan perantara media onlie.
Pemesanan melalui media online jumlahnya semakin banyak. Stretagi tersebut banyak digunakan oleh beberapa perusahaan percetakan yang berkedudukan di daerah Jawa. Apalagi perbedaan harga yang cukup jauh, membuat para Caleg lebih memilih menggunakan jasa perusahaan percetakan yang ada di Jawa. Berbicara kualitas cetakan, para Caleg tidak terlalu memperhatikan hal tersebut. Masalah harga jauh lebih banyak berbicara dalam bisnis ini.
Hal itu menjadi kendala bagi para pengusaha percetakan yang ada di Kota Makassar. Bahan baku cetak di daerah ini jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan harga yang ada di pulau Jawa. Itu tentu akan sangat berpengaruh dengan biaya produksi dan harga yang akan diberikan bagi para konsumen pemakai jasa.
“Sekalipun harga kami di daerah lebih mahal sedikit, paling tidak jika memakai jasa kami, para Caleg akan berkontribusi memajukan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang ada di Sulsel,” harap Sugianto. (Yusuf Almakassary/blogkatahatiku.blogspot.com)