18 February 2014

SEMATKAN CINTA PADA TULANG RUSUK YANG HILANG

Oleh Effendy Wongso

Perempuan berwajah sembap,
bilur luka yang membiru di pelipis
dan titik-titik air mata di pipimu
adalah nyanyi lara
: naf duka itu belum cukup dibawa mati seribu tahun

"Lelaki yang paling kukasihi memukulku.
Aku ditamparnya. Aku dijambaknya,
dan ia berselingkuh dengan bidadari!"

Kepedihan seperti menyayat
serupa nasar yang lapar
ia mematuk setiap sebentar
lalu terbang mencari betina lain
: lalu ia mengoak sombong
"Kau tetap bertekuk pada tanah,
dengan kepala terkulai,
karena kau adalah perempuan!"

Ya, Langit
padahal perempuan adalah narwastu
sebab pada pagi melandung embun
dan pada gulita
ia benderang bagai gemintang

Izinkan cintanya menyemat
serupa sebilah tulang rusuk
yang hilang dari dada lelaki,
di antara hati dan jantung
supaya ia dapat setara
: tidak untuk diinjak,
tidak untuk menginjak!

Kasihi perempuan,
yang telah melahirkan dunia lewat rahimnya nan suci
lewat cintanya yang membentang seluas samudera
: jangan pukuli ia bagai budak
sebab hatinya yang pualam akan retak berderai
dan tak akan terganti permata apa pun

Ia kilau di antara segala permata
dan ia adalah cahaya dari surga
yang dilentuk Langit sebagai makhluk mulia,
cinta yang paling agung di antara cinta....