17 February 2014

RITEL TOPANG PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL

Melalui Ritel, Sulsel bakal Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Foto: Effendy Wongso
Menyoal kekuatan ekonomi Indonesia yang mampu melaju ke urutan tujuh dunia pada 2030 mendatang, merunut hasil riset McKinsey Global Institute, sebuah lembaga konsultan bisnis dan ekonomi yang telah melakukan riset pada lebih 20 negara, di mana lembaga konsultan ini juga melakukan riset yang telah dirilis beberapa waktu lalu terkait perekonomian Indonesia, diapresiasi oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) sekawasan timur Indonesia (KTI) dengan menggelar acara bertajuk “Outlook Ekonomi Sulsel 2030 dalam Temu Akbar Pengusaha se-Indonesia Timur” di Celebes Convention Centre, Jalan HM Dg Patompo, Metro Tanjung Bunga, Makassar, belum lama ini.
Acara dihadiri lima ribu peserta dari civitas akademika dan jajaran pengusaha se-Indonesia timur, di antaranya Ketua Kadin Sulsel Zulkarnain Arief, Ketua Hipmi Sulsel F Yudi Arsono, CEO Bosowa Corporation Erwin Aksa, Presiden Direktur McKinsey Indonesia Arief Budiman, dan pemangku jabatan dari berbagai instansi pemerintah dan swasta. Selain itu, tampak hadir Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan beberapa pejabat dari Pemprov Sulsel.
Dalam pemaparannya, Arief Budiman mengungkapkan, saat ini Indonesia menempati urutan ke-16 negara dengan ekonomi terbesar di dunia, dengan 45 juta anggota kelas konsumen, dan 53 persen penduduk yang tinggal di perkotaan, dan menghasilkan 74 persen product domestic bruto (PDB).
Secara rinci, ia menjelaskan tabungan dan investasi serta sektor ritel Indonesia diperkirakan akan menjadi pasar konsumen yang besar di 2030 nanti. “Tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan di 2010 hingga 2030, yakni tabungan dan investasi 10,5 persen, makanan dan minuman 5,2 persen, rekreasi (pariwisata) 7,5 persen, pakaian 5,0 persen, pendidikan 6,0 persen, transportasi 4,6 persen, perumahan dan utilitas 4,5 persen, telekomunikasi 4,7 persen, barang pribadi 5,3 persen, dan perawatan kesehatan 6,2 persen,” urai Arief Budiman.
Dijelaskan, kinerja ekonomi Indonesia yang mengesankan akhir-akhir ini tidak dipahami secara luas. Padahal, menurut Arief Budiman, perekonomian Indonesia yang saat ini berada di peringkat ke-16 dunia, menunjukkan kinerja kuat selama sekitar satu dasawarsa terakhir, dan jauh lebih beragam dan stabil dari anggapan banyak pengamat luar negeri.
“Selama sekitar satu dasawarsa terakhir, Indonesia memiliki volatilitas terendah dalam pertumbuhan ekonomi di antara negara dengan perekonomian lebih maju yang tergabung dalam anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) atau BRICS (Brasil, Rusia, India, dan China, dengan tambahan Afrika Selatan,” terangnya.
Utang pemerintah, sebut Arief Budiman, sebagai bagian dari PDB turun 70 persen selama dasawarsa terakhir, dan pada saat ini lebih rendah jika dibandingkan angka 85 persen negara OECD. Inflasi turun dari 20 persen menjadi delapan persen, dan saat ini sebanding dengan inflasi di beberapa perekonomian yang lebih mapan seperti Afrika Selatan dan Turki.
“Menurut laporan World Economic Forum tentang daya saing Indonesia pada 2012, Indonesia menduduki peringkat ke-25 dalam hal stabilitas makroekonomi, sebuah peningkatan dramatis dari peringkatnya yang ke-89 pada 2007. Saat ini, Indonesia menempati posisi lebih baik daripada India, Rusia, dan Brasil, serta beberapa negara tetangga anggota ASEAN, termasuk Malaysia, Thailand, dan Filipina,” ungkapnya.
Tabel: Effendy Wongso
Sementara itu, dalam kata sambutannya, Syahrul mengungkapkan, prediksi McKinsey harus ditopang dengan mempertahankan tiga aspek. “Agar Indonesia bisa mencapai negara dengan ekonomi terbesar ketujuh, negara ini harus, pertama, memiliki pemerintahan yang baik, berpihak kepada rakyat, dan tidak korupsi. Kedua, membuat ruang bisnis terbuka lebar agar bisa mengakselarasi dan memaksimalkan potensi yang dimiliki, termasuk menciptakan lapangan kerja. Ketiga, ini harus didukung oleh aturan hukum yang baik. Khususnya dalam hal pemberian kepastian hukum terhadap kalangan pebisnis dan pekerja,” pesannya.
Sebelumnya, Zulkarnain memaparkan prospek ekonomi Sulsel di 2013 yang diprediksi akan lebih baik. “Berbagai rencana investasi dan penjajakan bisnis yang telah dilakukan di 2012 dan beberapa tahun sebelumnya, akan menemui titik terang di 2013,” ujarnya.
Untuk itu, lanjut Zulkarnain, pemerintah perlu memacu perbaikan infrastruktur, seperti jalanan yang belum sepenuhnya optimal. “Sesuai hasil riset McKinsey, Sulsel bukan mustahil akan menjadi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional, dan menjadi satu dari tujuh kekuatan ekonomi terbesar dunia pada 2030 mendatang,” jelasnya.
Untuk itu pula, Zulkarnain menyebut beberapa rencana investasi yang datang dari beberapa negara, meskipun masih dalam tahap nota kesepahaman. Bersama Hipmi Sulsel, Kadin, terangnya, jauh hari telah merencanakan pertemuan akhir tahun tersebut dengan McKinsey. (blogkatahatiku.blogspot.com)