24 February 2014

PARADIGMA YANG LAHIR DI TAHUN POLITIK

Foto: Effendy Wongso
Ada paradigma yang dapat kita simak dari “peta” perpolitikan yang sebentar lagi terjadi di Tanah Air. Nuansa ini akan menggulirkan dampak besar bagi perkembangan ekonomi, baik bagi para pelaku usaha maupun bagi para pemain yang terlibat di dalam pemilihan legislatif (Pileg) dan pemilihan presiden (Pilpres).
Sudah barang tentu, untuk menghadapi pesta demokrasi yang dihelat April dan Juli mendatang, sendi-sendi mikro pasti mulai bergerak, di mana para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), terutama bagi yang bergerak di bidang percetakan sudah mulai kebanjiran “order”. Pasalnya, sudah menjadi rahasia umum jika calon legislatif berbondong-bondong mulai membuat spanduk, baliho, dan stiker sebagai sosialisasi sebelum pemilihan umum (Pemilu).
Tak dipungkiri, hal tersebut adalah berkah bagi industri regional karena dalam dua tahun terakhir, di mana pada 2013 lalu dan juga di pertengahan 2014 ini, merupakan “political year” yang bergerak liar, menggeliatkan proyek-proyek bisnis dalam tatanan dan strategi masing-masing partai bersama mesin politiknya tentu saja.
Analisis penyerapan tenaga kerja pada usaha percetakan skala UMKM, lepas dari kisruh yang menyertai pergerakan politik tersebut, dapat menyerap banyak tenaga kerja di masing-masing sektor potensial, khususnya di bidang percetakan. Fenomena “perang baliho” justru menguntungkan industri percetakan lantaran “amunisi” para kandidat partai politik ini dilahirkan dari mesin-mesin cetak yang seolah hidup 24 jam nonstop hingga hari “H” pencoblosan.
Beberapa analisis memaparkan hal itu dengan variabel modal, di mana faktor paling penting dalam mempengaruhi penyerapan tenaga kerja suatu perusahaan, tergantung pada peningkatan omset yang ditargetkannya. Dari sini dapat disimpulkan penguatan modal dari membanjirnya order suatu perusahaan, baik dari momentum temporer seperti Pemilu maupun yang lainnya, mempunyai peran penting dalam menentukan penyerapan tenaga kerja ketimbang faktor-faktor lainnya, terutama pada UMKM.
Secara umum, ini bisa dianalogikan dengan gamblang, di mana apabila modal kerja dalam suatu usaha besar maka responsif pengusaha untuk menambah jumlah tenaga kerjanya juga meningkat. Ini lantaran dengan modal kerja yang besar tentu akan menghasilkan jumlah produksi yang besar pula sehingga keuntungan usaha juga akan meningkat.
Kendati demikian, di pihak lain, Bank Indonesia memproyeksikan suku bunga acuan atau BI Rate diprediksi kembali naik menjelang Pemilu. Dari data awal Februari yang dilansir BI, ada tendensi BI Rate akan kembali naik untuk mengimbangi angka inflasi yang diperkirakan terkerek selama periode Pemilu. Oleh karena itu, pelaku di industri perbankan telah berancang-ancang mempersiapkan strategi yang diperlukan guna meredam dampak kenaikan suku bunga susulan.
Plus minus yang akan mewarnai tahun politik di 2014 ini tentu tak hanya seperti gambaran di atas. Masih banyak sektor usaha yang bakal menuai laba. Dalam bisnis meetings, incentives, conferences, and exhibitions (MICE) misalnya, pertumbuhan bidang ini tak kalah potensialnya. Beberapa pelaku di usaha ini jauh-jauh hari telah memasang target dapat mengambil untung paling sedikit 10-20 persen.
Persentase itu tentu tidak muluk-muluk lantaran hotel adalah salah satu medium manis untuk memikat komunal yang tengah bersaing lewat konvensi dan aktivitas perpolitikan lainnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)