12 February 2014

MEMBIDIK SEGMEN ANAK MUDA

Foto: Effendy Wongso
Indonesia adalah negara yang penuh potensi, namun sangat disayangkan lantaran sebagian besar orang kurang menyadari potensi tersebut. Selain kekayaan alam, penduduk Indonesia yang berjumlah 248 juta jiwa tersebut merupakan potensi ekonomi yang besar.
Komposisi penduduk Indonesia didominasi oleh penduduk muda hingga 130 juta orang yang berusia produktif sebagai keluarga muda dengan anak-anak dan remaja, di mana komposisi penduduk muda itulah yang menjadi penggerak komsumsi sektor ritel. Pasalnya, penduduk muda inilah yang bakal membelanjakan paling banyak uang mreka untuk berbagai barang konsumsi seperti makanan, consumer good, pakaian, elektronik, gadget, dan alat-alat rumah tangga lainnya.
Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan nilai penghasilan di kelas menengah, maka Indonesia tergolong sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi lima besar dunia setelah China, Rusia, India, dan Brasil. Indonesia juga memiliki tingkat pendapatan domestic bruto (PDB) nomor 16 di dunia, dan karena itulah Indonesia menjadi serbuan merek-merek global, terutama merek-merek dari negara-negara maju.
Saat ini di negara maju mengalami pertumbuhan ekonomi yang lambat lantaran terjadinya reduksi psikologis yang lazim dialami oleh negara-negara tersebut, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa. Kenapa? Tidak lain karena faktor keluarga yang diabaikan. Makin banyak orang dewasa tidak berkeluarga dan tidak memiliki anak, sehingga pertumbuhan penduduk melambat. Alhasil, dampaknya jumlah penduduk muda jadi sedikit, di mana penduduk “senior” bukan penduduk yang “konsumtif”. Berbeda dengan penduduk muda yang memang memiliki tingkat konsumsi besar dan suka mencoba produk-produk baru.
Sebab itulah, para pengusaha Indonesia harus menjadi “pemain”, menjadi pemenang dan tuan rumah di Indonesia. Dengan membangun jaringan yang membidik dan fokus terhadap user muda, diharapkan dapat menghidupkan sendi-sendi bisnis mikro seperti usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Selain itu, dengan menyasar segmen ini, para pelaku usaha dapat mengoptimalkan pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) lokal sehingga juga menghidupkan kreativitas lokal.
Potensi terhadap segmentasi ini memang sudah ditangkap oleh beberapa pelaku usaha, terutama di industri telekomunikasi. Telkomsel misalnya, untuk melakukan penetrasi lebih dalam ke pasar anak muda, pihaknya menambah produk yang khusus diperuntukkan menggarap pasar tersebut. Produk tersebut di antaranya Telkomsel Loop dengan sejumlah benefit yang ditawarkan. Sebelumnya, instansi domestik ini memiliki tiga produk utama yang juga telah berhasil menggaet pelanggan dari kalangan muda, di antaranya Kartu As, Simpati, dan Kartu Halo. Kartu As sendiri diperuntukkan bagi user muda yang belum produktif. Adapun Simpati untuk kelas menengah yang sudah berpenghasilan namun dengan budget yang terbatas untuk komunikasi, dan terakhir Kartu Halo untuk segmen atas.
Memang, gambaran tersebut merupakan peta segmentasi anak muda Indonesia masa kini, jika dilihat dari geliat konsumtivisme mereka. Terlihat jelas bahwa mayoritas konsumen anak muda di kota urban Indonesia cenderung lebih agresif dan terkesan gila belanja atau dikenal sebagai “shopaholic”. Dari hasil riset yang dilakukan oleh sebuah lembaga survei nasional, mereka yang berada dalam segmen ini cukup besar, di mana jumlahnya berkisar 51,1 persen.
Mereka juga adalah kaum urban yang simpel praktis, di mana anak muda ini mudah sekali tergoda melakukan pengeluaran terhadap produk-produk yang menarik perhatiannya, bahkan untuk barang yang sebetulnya tidak mereka butuhkan. Anak muda di segmen ini tidak memiliki perencanaan pengeluaran yang baik.
Memang, membidik segmen “empuk” ini adalah keuntungan bagi para riteler, terutama bagi yang bergerak di dalam produk anak muda, akan tetapi di satu sisi budaya konsumtivisme bisa menjadi biang tak sedap untuk membangun ekonomi kerakyatan yang dicita-citakan di Indonesia. (blogkatahatiku.blogspot.com)