08 February 2014

LEMBAGA KURSUS REPRESENTATIF

Foto: Effendy Wongso
Nama besar LIA sebagai lembaga pendidikan bahasa Inggris sudah tidak dapat diragukan lagi. Keberadaannya memberi warna dalam dinamika persaingan bisnis lembaga pendidikan kursus yang representatif di Makassar. Bagaimana sebenarnya eksistensinya lembaga pendidikan tersebut di Kota Daeng ini?
Menurut Nasrun Tadjuddin sebagai pemilik sekaligus Kepala Cabang LIA Makassar, kemunculan LIA di Makassar dibangun dengan sistem kemitraan, dan bukan franchise. Keuntungan bisnis didapatkan dengan cara bagi hasil antara kantor cabang dengan kantor pusat, setelah dikurangi dengan biaya operasional.
Untuk membuka sebuah cabang sejenis bukanlah hal mudah. Syarat pertama yang wajib dipenuhi oleh seorang investor adalah lokasi strategis serta bangunan berbentuk gedung. Lembaga kursus LIA tidak boleh dibuka jika hanya memiliki bentuk bangunan yang seadanya saja. “Lembaga kursus LIA sudah sudah tersebar di 20 provinsi di Indonesia,” ujar Nasrun.
Seringkali yang menjadi masalah juga saat ingin membuka cabang LIA adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM) pengajar yang memadai dan bisa memenuhi standarisasi yang telah ditetapkan oleh kantor pusat. Untuk menjadi tenaga pengajar di LIA, harus melalui sistem rekrutmen yang sangat ketat dan proses yang cukup lama. Saat ini LIA telah memiliki pengajar berjumlah 12 orang di dua kantor cabangnya di Makassar, yaitu di Jalan Ratulangi dan Jalan Boulevard Panakukang.
LIA memiliki nama besar di segmen lembaga kursus bahasa Inggris, karena didukung oleh kurikulum yang memang luar biasa. Bukan hanya itu, diungkapkan Nasrun, jajaran manajemen kantor pusat pun dipegang oleh sosok yang ahli dan berpengalaman, serta memiliki nama besar di Indonesia. Sekarang jabatan komisaris  diamanahkan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Surjadi Sudirja. Setiap empat tahun sekali dicari public figure yang bisa memegang jabatan di jajaran manajemen.
Sejak didirikan di Indonesia pada 7 September 1959, sistem kurikulum di LIA sudah dikenal keunggulannya. Untuk mempersiapkan para siswanya bisa bersaing di dunia global, LIA menggunakan metode pengajaran  yang mengusung konsep “The 21st  Century Learning” yang berdasarkan pada 4 Cs, yaitu Critical Thinking, Communication, Collaboration and Creativity. Konsep tersebut menekankan kepada bagaimana menguasai komunikasi dengan baik, mampu bekerja sama dengan individu, komunitas maupun jaringan, serta penguasaan terhadap tehnologi informasi dan komunikasi.
Ini terbukti dengan kualitas siswanya yang diakui secara nasional. Rata-rata alumni LIA bisa bisa diterima di sekolah-sekolah yang berstandar internasional, maupun universitas ternama di Indonesia. Bahkan diungkapkan Nasrun, 98 persen siswa LIA yang masuk Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI), pasti masuk di sekolah-sekolah unggulan Kota Makassar.
Suka atau tidak suka Asean Free Trade Area (AFTA) atau yang lebih dikenal dengan sebutan pasar bebas sudah akan dibuka. Menghadapi persaingan yang semakin ketat, LIA pun sudah mempersiapkan segala infrastruktur untuk mengarah kesana. Sekarang ini semua kurikulum dan metode belajar di LIA sudah mengarah ke sistem internasional. Sejak Januari 2014, LIA bekerja sama dengan Oxford University London Inggris, salah satu universitas tertua dan ternama di dunia.
Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya sekadar sertifikasi saja, semua sistem dan kurikulum yang ada di lembaga pendidikan internasional tersebut diadopsi oleh LIA. Makanya buku pengajarannya menggunakan Smart Choice yang dicetak langsung oleh Oxford University. Buku Smart Choice menggunakan teknologi pembelajaran terkini, yaitu audio CD, online practice, interactive software/iTools, dan berbasis kompetensi yang mengikuti standar Common European Framework Reference (CEFR).
Di dunia, khususnya wilayah asia, untuk menjalankan metode belajar Smart Choice, Oxford University hanya bekerja sama secara eksklusif dengan enam negara, salah satunya di Indonesia. Yang paling penting,  buku tersebut secara eksklusif di Indonesia hanya akan digunakan di LIA. 
 Mengapa Nasrun mau terjun dalam bidang bisnis lembaga kursus? Bukan hanya keuntungan semata yang dikejar oleh pria kelahiran 18 Juni 1967 ini. Menurutnya, dengan terjun dalam jalur bisnis pendidikan nonformal, dia bisa ikut berpartisipasi dalam upaya mencerdaskan anak bangsa, sehingga bisa mengangkat harkat dan martabat kota Makassar dalam kancah pergaulan nasional maupun internasional.
“Jika ada alumni LIA dari Makassar bisa sukses, itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya, dan tidak bisa dinilai oleh berapa pun besarnya materi,” ujar Nasrun. (blogkatahatiku.blogspot.com)