17 February 2014

Keesamus, penyanyi cover kondang yang lahir dari Youtube


Foto: Pribadi
britaloka.com - Fenomena Youtube memang tidak pernah berakhir. Selain sebagai situs penyedia video, website untuk sharing tontonan gratis yang didirikan oleh tiga orang mantan pegawai Paypal, Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim pada 2005 silam, juga melahirkan banyak penyanyi berbakat. Tentu saja setelah video kiriman mereka di situs ini ditonton banyak orang atau viewers.
Bahkan, tak kurang video mereka ditonton jutaan viewers. Yang terbilang fantastis dan fenomenal ketika rapper asal Korea Selatan, PSY menghipnotis pemirsa layar komputer di seluruh dunia dengan lagunya, Gangnam Style. Sampai saat ini video PSY tersebut ditonton hampir dua miliar orang.
Bicara skala regional, di Indonesia Youtube pun tak kalah gemerlapnya. Sebut saja kala situs ini mencuatkan nama Raisa Andriana, Sinta (Sinta Nurmansyah) dan Jojo (Jovita Adityasari), Ayu Ting Ting, Norman Kamaru, Sualudin yang terkenal dengan sebutan “Udin Sedunia”, dan masih banyak penyanyi yang lahir karena faktor media tontonan gratis ini.
Yang teranyar di Tanah Air tentu saja “kasus” Riska Afrilia. Video penyanyi asal Garut yang videonya ditonton 1,8 juta viewers ini setelah diunggah oleh pihak Fremantle (Indonesia) lewat akun Indonesian Idol 2014 tersebut menuai banyak komentar, baik positif maupun negatif. Pasalnya, Riska yang akrab disapa dengan nama Drizz (Deris) ini tak lolos di babak eliminasi ajang pencarian bakat penyanyi tersebut. Padahal, videonya ditonton paling banyak pemirsa dan tentu saja menaikkan rating akun Indonesian Idol 2014.
Namun terlepas dari “kontroversi” dalam kancah permusikan Tanah Air, ada seorang penyanyi wanita muda yang juga cukup fenomenal. Dalam akunnya di Youtube, biduan amatir ini menamakan dirinya “Keesamus”. Dari telusuran KATA HATIKU saat merambah dunia maya, wanita tersebut ternyata berasal dari Thailand. Uniknya, hampir semua lagu yang dibawakannya adalah lagu cover Indonesia seperti lagu-lagu milik Noah, Ungu, Geisha, ST12, Armada, Dadali, Cakra Khan, sampai Cherry Belle.
Foto: Pribadi
Dengan suaranya yang lembut dengan ucapan liriknya yang fasih, Keesamus mampu memukau para penggemarnya yang berasal dari banyak negara, di antaranya dari Malaysia, Thailand, dan tentu saja terbanyak dari Indonesia. Sampai berita ini ditulis, Sabtu (15/2/2014) malam, Keesamus telah dijadikan akun favorit oleh 57.671 akun lainnya dari berbagai negara, terutama dari Asia Tenggara dengan siklus pemutaran video sebanyak 15.639.565 tayang.
Sampai saat ini Keesamus telah mengunggah 98 video nyanyiannya yang sebagian besar adalah lagu Indonesia, dan sebagian lagi lagu dari Malaysia, Thailand, dan Barat. Memang, beberapa videonya menuai kontroversi. Sebut saja ketika ia menyanyikan salah satu lagu Indonesia dengan mengenakan kostum berbendera Malaysia, di mana salah seorang viewer dari Malaysia mengajukan keberatannya dengan mengatakan Keesamus adalah penyanyi dengan jiwa dualisme, di satu sisi sangat “nasionalis” dengan negara Malaysia, tetapi di sisi lain justru mengagungkan Indonesia lewat lagu-lagu yang dinyanyikannya.
Namun lewat salah satu tayangan videonya, Keesamus berargumen: “I'm Thai, actually I don't really understand the conflict between Malaysia and Indonesia, sometimes when I see some comments that people may say that I'm Malay but I support Indonesia band. It seems that we are having a conflict between each other, which I feel like we are not co-operate. But please remember, we are neighbor right? I don't care If someone will hate me….”
Jika diterjemahkan, argumen Keesamus kurang lebih berarti, “Saya (berasal) dari Thailand. Sebenarnya saya tidak benar-benar memahami konflik antara Malaysia dan Indonesia, kadang-kadang ketika saya melihat beberapa komentar yang mengatakan bahwa saya mungkin pro Malaysia, tetapi kok saya mendukung band Indonesia (dengan menyanyikan lagu-lagunya). Tampaknya kita memang mengalami konflik antara satu sama lain, dan saya merasa kita ini tidak kompak. Tetapi harap ingat, kita adalah negara tetangga, kan? Nah, saya tidak peduli jika seseorang akan membenci saya (jika menyukai kedua negara ini).
Terkait fenomena teranyar di Youtube ini, pemerhati bisnis-sosial sekaligus penikmat musik, Khiva Amanda saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (16/2/2014), mengatakan bahwa industri musik memang selalu melahirkan paradigma seperti ini. “Internal-clash akan melahirkan argumen, bahkan polemik. Tetapi ingat, hal ini yang justru mencuatkan nama seseorang sehingga dapat populer dalam jangka waktu singkat. Medium seperti Youtube adalah tempat yang paling tepat untuk itu,” jelasnya.
Khiva menyebut, Keesamus adalah biduan amatir yang punya potensi, yang terkuak lewat video-video unggahannya. Uniknya, ia pandai “memanfaatkan” momentum, salah satunya adalah dengan menyanyikan lagu-lagu dari Indonesia.
“Kenapa Keesamus suka menyanyikan lagu Indonesia, bukannya lagu dari Filipina, Vietnam, atau Brunei misalnya? Toh, kan sama-sama dari Asia Tenggara? Ya, itu karena ia pandai melihat pasar. Dengan jumlah pemirsa yang sangat besar dari Indonesia, ia sudah dapat membaca jika videonya bakal ditonton oleh sedemikian banyak orang dari Indonesia,” ulasnya.
Foto: Pribadi
Dari kacamata bisnis, Khiva melihat wanita yang berprofesi sebagai perawat di Thailand ini adalah seorang entrepreneur muda yang cerdas dalam melihat ceruk bisnis. “Industri musik saat ini tidak sekadar bermodal suara bagus, tetapi banyak faktor lain. Saya pikir, Keesamus merupakan ikon musik yang nonkonservatif, dan memanfaatkan tren kontemporer yang tak banyak dimiliki penyanyi-penyanyi saat ini,” terangnya.
Berkaca dari apa yang telah dilakukan oleh dara kelahiran Thailand, 10 Agustus 1989 tersebut di industri musik, Khiva berharap musisi-musisi Tanah Air pun dapat mencontoh dan lebih menggali kreativitas di bidang musik.
“Ingat, musik itu unik dan universal. Memiliki suara bagus tetapi tak ditunjang ‘strategi’ publikasi yang baik untuk zaman sekarang, maka niscaya penyanyi tersebut tidak dapat berkembang,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)