24 February 2014

Jelang pemilu, order percetakan didominasi spanduk

Setiap jelang Pemilu, para caleg telah mempersiapkan beberapa alat bantu sosialisasi dalam berbagai bentuk seperti spanduk, baju kaus, pamflet, stiker, dan lain-lain. britaloka.com/Ist
britaloka.com, MAKASSAR - Setiap jelang Pemilu, para Caleg telah mempersiapkan beberapa alat bantu sosialisasi dalam berbagai bentuk seperti spanduk, baju kaus, pamflet, stiker, dan lain-lain. Selama ini, spanduk masih mendominasi pemesanan. Paling tidak, itu terlihat dari transaksi pemesanan di UD Citra Satria.
Pada Pemilu lima tahun lalu, pemasukan yang didapat oleh UD Citra Satria pun sangat besar, yaitu Rp 300 juta per bulan. Di antara semua alat peraga yang dipesan pada Pemilu lalu, penjualan spanduk lebih unggul dibandingkan produk lainnya. Seiring semakin berkembangnya teknologi, pasar cetak spanduk pun menurun. Meskipun demikian, untuk cetakan alat-alat sosialisasi lain tetap berjalan wajar.
“Bagaimanapun masih lebih enak dulu, di mana beban biaya produksi masih rendah. Keuntungan hampir sama, tetapi biaya produksi yang berbeda,” alasannya.
 Setiap hari usaha percetakan yang terletak di Jalan Rajawali ini menerima 25 sampai 30 macam paket pesanan. Jadi dalam sebulan ada sekitar 500 pesanan cetakan yang harus diselesaikan, dengan jumlah karyawan 10 orang. Proses pengerjaan satu paket cetakan maksimal memakan waktu tiga sampai empat hari.
Beberapa partai politik besar sudah menjadi langganan dari UD Citra Satria, di antaranya Partai Hanura, Golkar, PDI Perjuangan, Gerindra, dan PPP. Bahkan saat berkunjung ke sana, Bisnis Sulawesi melihat ada beberapa tim sukses calon presiden pun menggunakan jasa perusuhaan tersebut.
Sebelum momen Pemilu Legislatif, tahun lalu Kota Makassar dan beberapa daerah di Sulsel, diperhadapkan dengan momen pemilihan kepala daerah (Pilkada). Akan tetapi momen tersebut, bagi Sugianto, tidak terlalu memberi arti bagi peningkatan pesanan di perusahaannya. Pesanan untuk event tersebut tetap ada, tetapi sayangnya tidak dalam jumlah yang cukup besar. Momen pemilu Caleg ini masih merupakan waktu yang paling tepat untuk meningkatkan omset penjualan sebuah perusahaan percetakan.
Usaha percetakan Citra Satria dirintis oleh Sugianto sejak 1987. Modal yang dipakai hanya sebesar Rp 15 ribu, dengan menjadi perantara bagi konsumen yang ingin menggunakan jasa percetakan. Mengaku memiliki usaha percetakan sendiri, Sugianto mencari pelanggan hingga ke Tana Toraja. Sampai di Makassar, pesanan tersebut diberikan kepada para pemilik usaha percetakan, dengan harga yang tentu mempertimbangkan pengeluaran untuk transportasi dan keuntungan yang bakal didapat.
Setelah dirasakan sudah cukup maju, Sugianto pun mulai mengontrak sebuah rumah yang dijadikan kantor, untuk menjalankan usaha percetakan yang kemudian dinamakan UD Citra Satria. Setelah sekian lama kontrak, bangunan tersebut pun dibeli oleh Sugianto. Untuk melebarkan usahanya, dua bangunan yang berada di samping kantornya pun ikut dibeli.
Awal memulai usaha percetakan hanya menggunakan cara manual. Kini, selain tetap masih menggunakan cara manual, UD Citra Satria telah memiliki beberapa mesin cetak digital.