19 February 2014

IZINKAN AKU TERLAHIR SEKALI LAGI

Oleh Effendy Wongso
Perempuan yang menjelma permata....
di taman ini kita pernah bersama
ketika dedaunan sewarna tembaga
di penghujung musim
dalam rinai gerimis serupa tangis....
Ada wajah pasi seusai tangis
air mata yang meruap
seperti embun dalam wadah belah
kasih tak lagi murni ketika lelaki menirus
membawa aura cintamu yang suci
Februari, musim berpadu
dalam riak merah-jambu
: Aku mencintaimu, Adinda!
(ini litanimu, ditiup selafaz bayu:
cinta adalah mimpi indah sekaligus buruk!)
seketika kau terpana seperti terpanah
asmara menyergap tiba-tiba
dalam ketermanguan penuh bunga
Lelaki dan cinta baur
adalah pias kenangan yang berdebu
serupa jelaga arang
getas dan patah
: Langit, lelaki itu berselingkuh dengan bidadari
Hatiku berdarah
melihatmu berlumur lara
: Langit, izinkan aku lahir sekali lagi!
dalam rupa peri
hingga ia jatuh cinta kepadaku
(dan melupakan lelaki
dalam aura yang sama)
Dan biarkan aku hidup dalam waktu seribu
hingga tonggak cinta ini kokoh
merancap abadi di hatinya yang kerontang
: biarkan aku menjadi peri biru
(yang akan menerbangkannyamenuju bintang-bintang)