17 February 2014

Industri Sepeda Motor, Bertumbuh di antara Keterbatasan Infrastruktur Jalan

TARGET PENJUALAN - Meski kondisi ekonomi belum stabil, ditambah dengan tahun politik, beberapa dealer motor di Makassar berhati-hati dalam menargetkan penjualan. Meskipun demikian mereka tetap optimistis bisa bertumbuh. BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
BLOGKATAHATIKU - Meski kondisi ekonomi belum stabil, ditambah dengan tahun politik, beberapa dealer motor di Makassar berhati-hati dalam menargetkan penjualan. Meskipun demikian mereka tetap optimistis bisa bertumbuh.
Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menargetkan penjualan sepeda motor secara nasional tahun ini bisa mencapai delapan juta unit. Dalam sebuah pemberitaan di salah satu media massa nasional, Ketua Bidang Komersial AISI, Sigit Kumala mengatakan, pertumbuhan motor akan naik lima persen dari tahun lalu. Sigit menambahkan, untuk penjualan motor di 2013 lalu melebihi target awal, yaitu sebesar 7,3 hingga 7,5 juta unit.
PT Suracojaya Abadi Motor (SJAM) selaku main dealer motor Yamaha untuk wilayah pemasaran Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara (Sulselbartra) berharap pertumbuhan penjualan berada pada kisaran tiga persen. General Manager Marketing PT SJAM, Frengky J Tunandar mengatakan, targetnya tidak terlalu banyak berubah dari tahun lalu, hanya di kisaran 145 ribu unit.
Keoptimisan juga datang dari PT Astra International Tbk Honda Sales Operation (Astra Motor HSO) Makassar, selaku main dealer motor Honda untuk wilayah pemasaran Sulselbartra dan Ambon. Kepala Wilayah Astra Motor HSO Makassar, Denny Teguh, yang ditemui pada saat acara Media Gathering Honda, mengaku optimis penjualan motor Honda di wilayahnya bisa bertumbuh 6-10 persen atau mencapai 130 ribu unit.
“Memang ada keraguan karena nilai tukar rupiah yang melemah dan aturan Down Payment (DP) kendaraan. Namun setidaknya, untuk tahun Pemilu ada juga beberapa yang diuntungkan, dalam hal ini mendorong aktivitas ekonomi tambahan. Sehingga kami tetap optimis bertumbuh," katanya.

Tumbuh 20 Persen per Tahun

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia, Lambang Basri melihat, pertumbuhan volume kendaraan dalam skala lima tahun terakhir ini rata-rata sebesar 16 persen per tahun. Jika dibagi menjadi dua jenis kendaraan, maka motor tumbuh hampir 20 persen, dan mobil bertumbuh sekitar sembilan persen hingga 11 persen setiap tahunnya.
   Sayangnya itu tidak diikuti dengan pertumbuhan jalan yang hanya berjalan sekitar 0,6 persen. Menurut Lambang, itu masih sangat kecil jika dibandingkan antara  pertumbuhan jalan dengan pertumbuhan kendaraan. Idealnya jalan itu harus dipacu 20 kali lipat pertumbuhannya, baru bisa seimbang dengan pertumbuhan kendaraan yang ada sekarang di kKota Makassar.
Tetapi pertumbuhan jalan itu tidak semata-mata dilihat dari aspek panjang jalan atau lebar permukaan saja. Pertumbuhan jalan bisa dilihat dari beberapa aspek lain, seperti peningkatan kapasitas, percepatan laju kendaraan, memperbaiki permukaan jalan, dan menghilangkan gesekan-gesekan samping. Salah satu cara menghilangkan gesekan-gesekan samping adalah merelokasi para pedagang kaki lima (PKL), agar tidak ada lagi pengemudi jalan yang singgah di tepi jalan untuk belanja. 
Kehadiran flyover merupakan salah satu model untuk menangani secara parsial tingkat kemacetan di suatu wilayah. Menurut Lambang, di Makassar saat ini ada 36 titik kemacetan, yang dalam istilah ilmu transportasi disebut sebagai “black spot”. Makin hari itu cenderung bertambah. Kemacetan itu sendiri bisa dilihat dari dua formulasi. Pertama sisi frekuensi kemacetan. Ada wilayah yang sering terjadi macet, tetapi antreannya pendek, sehingga tidak terlalu lama orang menunggu saat menjalankan kendaraan. Yang kedua adalah tingkat kemacetan, di mana wilayah tersebut macetnya sesekali saja, tetapi kalau macet antreannya akan luar biasa panjang.
Jika kemacetan terjadi, maka hal yang harus dibenahi, jelas Lambang adalah distribusi lalu lintas kendaraan. Bagaimana memperbaikinya? Ada dengan jalan distribusi terhadap penggunaan ruang, dan juga distribusi terhadap penggunaan waktu. Jika salah satu ruas jalan macet, maka sebagian kendaraan bisa distribusikan ke jalan alternatif.
Sedangkan kalau distribusi kendaraan berdasarkan waktu, yaitu pengendara tidak boleh berjalan di satu ruang pada waktu yang bersamaan. Ini harus disadari betul oleh seluruh stakeholder, baik yang mengatur regulasi, user, serta pihak-pihak yang menegakkan aturan.
Penyumbang terbesar bagi kemacetan di Makassar, tegas Lambang, bukan pada jumlah kendaraan yang terus bertambah, akan tetapi lebih kepada perilaku orang yang  mengemudikan kendaraan tersebut. Sekarang jumlah pelanggaran lalu lintas akibat kurangnya kesadaran berlalu lintas oknum pengendara sudah sedikit menurun, yaitu sekitar 41,8 persen, yang mana tahun sebelumnya mencapai angka 48 persen. Proporsinya sudah turun, sekalipun jumlah pengguna meningkat. Secara kuantitatif sudah ada kemajuan dalam prilaku bertransportasi.
Meskipun demikian, kita tidak boleh saling menyalahkan. Tugas kita sebagai warga negara yang baik adalah bagaimana mendorong kesadaran untuk belajar menaati  aturan lalu lintas.