03 February 2014

INDUSTRI KREATIF YANG BERASAL DARI LIMBAH KEPOMPONG

WAHYUNI PAKI
Berdayakan Limbah Kepompong Sutra

Foto: Effendy Wongso
Ternyata 85 persen kekayaan dunia ada di Indonesia. Negara yang sangat kaya akan sumber daya alam ini perlu pengelolaan yang baik. Oleh karena itu, setiap insan di Nusantara perlu menggunakan kemampuannya untuk mengelola alam secara kreatif sehingga bisa berguna untuk orang banyak.
Pemikiran seperti ini lahir dari jiwa muda seorang Wahyuni Paki, mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) jurusan Pendidikan Kimia, yang aktif menggiatkan kewirausahaan di kalangan muda di kampusnya. Berkat kecintaanya terhadap alam itu pulalah, ia kini terjun di industri kreatif sebagai salah seorang pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dengan mengolah limbah menjadi barang yang bernilai dan dapat digunakan kembali. Salah satu kerajinan yang digelutinya saat ini adalah mengolah limbah kepompong sutra yang sudah tidak dapat dipintal menjadi benang.
“Selama manusia masih ada, pasti akan ada limbah yang dihasilkan. Limbah inilah yang saya ingin ubah menjadi sesuatu yang lebih bernilai dan dapat digunakan kembali,” katanya kepada KATA HATIKU saat ditemui di rumahnya, Kompeks Tamarunang 1, Sungguminasa, Kabupaten Gowa.
Lebih lanjut, bungsu dari sembilan bersaudara ini juga mengaku tidak ingin bergantung kepada keluarganya. Ia bertekad untuk menjadi wanita mandiri yang membantu orang banyak. “Saya bercita-cita ingin membangun sekolah gratis untuk anak jalanan,” ungkapnya.
Cita-cita mulia ini, terang Wahyuni, hadir manakala ia melihat banyaknya anak jalanan yang tidak pernah mengecap bangku sekolah dan masih berkeliaran di tengah jalan. Sebab itu pula, ia mengambil langkah untuk memasuki kampus yang akan menjadikannya sebagai seorang pendidik.

Foto: Effendy Wongso
Berawal Dari Daun Mangga

Di 2009, Wahyuni mengikuti kegiatan bertajuk “Indonesia Kreasi” yang dilakukan oleh RRI di Jakarta. Pada kesempatan itu ia membuat kreasi produk dari daun mangga seperti sendal, tempat tisu, kotak pensil, dan gantungan kunci. “Pada kegiatan itu, saya menyabet gelar juara satu untuk pertama kalinya,” akunya.
Sejak saat itulah kepercayaan dirinya meningkat, di mana Wahyuni mencoba mengikuti pelatihan pembuatan aksesoris dari limbah kepompong sutra yang dilakukan oleh salah seorang sahabat saudaranya di Bali pada akhir 2009. “Sekembali ke Makassar, saya mencari produsen sutra yang bersedia untuk menjual limbah kepompong sutranya,” tuturnya.
Meski awalnya agak sulit karena bahan baku yang sulit diperoleh, mengingat produsen sutra pada umumnya dari Sengkang atau Soppeng, namun Wahyuni tak putus asa.“Sembari tetap membuat produk dari daun mangga, saya tetap mencari pengusaha sutra,” ujarnya.
Karena keuletannya, Wahyuni akhirnya bertemu dengan pihak dinas kehutanan yang kerap melakukan penelitian dan budidaya kepompong sutra. “Daripada Dinas Kehutanan bakar limbah kepompong sutranya, mending dikasih kepada saya untuk saya olah kembali,” bebernya.
Akhirnya Wahyuni mulai mencari pekerja untuk dilatih membuat aksesoris seperti bros, jepitan rambut, dan bando yang terbuat dari limbah kepompong sutra. “Hingga kini Dinas Kehutanan adalah pemasok bahan baku, dan dalam sebulan biasanya ada satu atau dua karung yang diberikan oleh Dinas Kehutanan Pemprov Sulsel,” paparnya.

Foto: Effendy Wongso
Bantuan dari BI

Kini dengan pekerja sebanyak lima orang, Wahyuni mampu membuat lima ratus hingga dua ribu buah aksesoris perbulan dari berbagai jenis. Namun yang menjadi kendala, bahan baku dari dinas kehutanan tidak rutin setiap bulan didapatkannya sehingga ia harus mencari alternatif pemasok bahan baku lain. “Saat ini saya juga sedang menjajaki pengusaha sutra di Kabupaten Wajo. Sebelumnya, kami pernah melakukan pembicaraan, tetapi belum ada realisasi hingga sekarang,” ungkapnya..
Lulusan SMA Negeri 1 Liliriaja Sulsel ini juga menyatakan, saat ini ia dapat meraih omset Rp 5 juta hingga Rp 10 juta perbulan dari dua lokasi tempat barangnya dijajakkan, Metro Department Store dan Lamacca Mart. Namun beberapa pameran besar yang diikutinya menghasilkan omset lebih besar lagi, seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ) untuk memperingati hari ulang tahun Jakarta yang diikutinya setiap tahun, mampu mendatangkan omset Rp 80 juta hingga Rp 93 juta tiap pameran. Beberapa pameran lain yang dilaksanakan oleh pemerintah kota maupun provinsi juga kerap diikutinya.
Ke depan, wanita kelahiran Soppeng, 4 Oktober 1991 ini ingin memiliki outlet sendiri yang khusus menjajakkan hasil karyanya. Hal ini tidak mustahil mengingat pihak Bank Indonesia (BI) telah memilihnya sebagai salah satu penerima bantuan modal usaha dari tiga ratus orang yang mengajukan proposal usaha. Sebelumnya, pihak BI telah merealisasikan bantuan tersebut kepada Wahyuni pada akhir 2012 lalu. (blogkatahatiku.blogspot.com)