20 February 2014

DUA CAWAN NILA JINGGA

Oleh Effendy Wongso

Bidadari berbudi
di ujung jalan
menatap nanar
lewat sepasang mata kucingnya....

Aku tersuruk
setelah menghirup racun jingga
dari seorang perempuan
dalam balutan satin merah
sungguh, bagiku ia adalah nila manis
yang kutenggak pasrah
meski tahu
aku akan mati karenanya

Semalam ia menawarkan
dua cawan cinta
"Minumlah, Sayangku!" begitu katanya
namun aku menolak pada mulanya
dan berterus terang
: "Anak dan istriku menunggu
dengan sejumlah kesetiaan di rumah!"

Ia merayu
: "Tak apa untuk sekejap."
lalu aku mulai bimbang,
dan hanya menatap bidadari
bermata gundu di ujung jalan

Hei, ia tak berkata apa-apa,
dan hanya menatapku
serupa manekin yang bisu
"Tolong aku ya, Dewi!
Aku bimbang dalam dilematisasi ini!"
namun, tak sepotong pun kalimat
yang ia hunjamkan
ke dadaku seibarat pedang
yang biasa ia rancapkan pada insan
yang lebih memilih mati
pada sepenggal titian suci
ketimbang binasa pada angkara ini

Lalu mulailah Sang Perayu menyergapku
membekapku dalam keindahan nan satir
tak lama
aku mati dalam tersenyum
kemudian hidup di dalam roh
yang membawaku melanglang tanpa arah
dan akhirnya jatuh kembali ke tanah
di mana nisanku ditangisi anak dan istriku!