15 February 2014

DIBAYANGI PERLAMBATAN, EKONOMI SULSEL TETAP TUMBUH

Foto: Effendy Wongso
Dari berbagai hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia (BI), menunjukkan jika Sulsel pada 2014 ini tetap mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi, kendati sejumlah kalangan baik pengamat ekonomi maupun beberapa organisasi pengusaha Sulsel, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan di beberapa sektor riil.
Hasil Survei BI tersebut berasal dari Survei Konsumen (SK), Survei Penjualan Eceran (SPE), serta Survei Harga Properti Residensial (SPHR). BI juga melakukan sistem wawancara langsung dengan para pelaku usaha dalam kegiatan liaison officer (LO) atau musyawarahnya. Dari hasil survei tersebut, BI memotret bagaimana masyarakat dan pelaku usaha melihat kondisi ekonomi ke depan, khususnya dari sisi permintaan terkait tendensi konsumsi dan rencana investasi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah I Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), Suhaedi mengatakan dari hasil SK tersebut, secara umum tetap kuat pada beberapa bulan ke depan. Hal ini tercermin dari hasil SPE 2013 yang mengindikasikan adanya kenaikan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 2,50 persen (month to month) dan 0,02 persen (year on year). Penjualan tertinggi berasal dari kebutuhan sekunder misalnya tas, sepatu, pakaian, di mana item-item ini  mengalami kenaikan karena pengaruh musiman.
“Di 2014 ini, estimasi pedagang eceran diindikasikan akan mengalami penurunan sebesar 17,50 poin. Menurunnya permintaan konsumen lantaran agenda politik pada enam bulan ke depan mereduksi pasar. Agenda pemilihan umum (Pemilu) 2014 ini juga diperkirakan akan berimbas pada kenaikan harga umum (inflasi),” jelasnya.
Dipaparkan, perkembangan sektoral dan investasi di Sulsel dari hasil LO triwulan keempat di 2013 lalu, tergambar bahwa permintaan sektor domestik dari para pelaku usaha yang tersebar di Sulampua masih mengalami peningkatan. Peningkatan itu terjadi pada sektor perikanan, industri pengolahan semen, perdagangan, listrik, hotel, dan jasa-jasa lainnya.
“Namun meningkatnya permintaan sektor domestik tersebut dari hasil wawancara kami, tetap akan dibayangi penurunan apabila dilihat dari sisi ekspor. Penurunan terutama terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian seiring diterapkannya Undang-undang (UU) Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba),” bebernya.
Adapun investasi dari beberapa sektor lain di luar Minerba seperti pehotelan, perdagangan, dan restoran, sebut Suhaedi akan menjadi salah satu sektor penunjang utama. Sedangkan prospek Kinerja Investasi (KI) di 2014, didukung oleh pertumbuhan penyaluran KI di Sulsel yang tinggi. Pada Desember 2013 lalu, pertumbuhan kredit ini sebesar 43,47 persen (year on year) terhadap total pangsa kredit sebesar 21,23 persen.
“Pertumbuhan yang tinggi tersebut disebabkan oleh tren pertumbuhan KI yang masih relatif stabil selama beberapa bulan sebelumnya,” tuturnya.
Di sisi lain, tekanan inflasi di Sulsel pada awal 2014 tercatat sebesar 1,11 persen (month to month) atau 6,43 persen (year on year). Hasil SK pada Januari 2014 mengindikasikan bahwa tekanan harga pada tiga dan enam bulan ke depannya akan sedikit mereda namun tetap berada pada level yang tinggi.
“Level harga yang masih tinggi didorong oleh penguatan permintaan selama Pemilu Legislatif (9 April 2014) dan Pemilu Presiden (9 Juli 2014), hingga periode masa Ramadan dan Lebaran yang akan jatuh pada Juli mendatang,” tandas Suhaedi. (blogkatahatiku.blogspot.com)