19 February 2014

BISNIS PERCETAKAN LARIS JELANG PEMILU

OMSET BISNIS PERCETAKAN MENINGKAT JELANG PEMILU    

Foto: Effendy Wongso
Omset pelaku usaha dalam bisnis percetakan digital printing memang diakui saat ini banyak bersumber dari momen “pesta demokrasi” seperti pemilihan kepala daerah (Pilkada) atau pemilihan umum (Pemilu). Jika sebelumnya mereka hanya bergantung terhadap momen tertentu seperti peringatan dan perayaan hari-hari besar nasional serta keagamaan, kini telah bergeser ke arah “aksi” jor-joran iklan kandidat yang mengikuti ajang pemilihan legislative (Pileg).
Memasuki pertengahan tahun ini, pesanan spanduk dan baliho terus mengalir. Hal itu diungkap oleh owner PT Famor Jaya, Setiadi, saat ditemui beberapa waktu lalu di Jalan Sungai Pareman, Makassar. “Jelang pemilihan wali kota (Pilwali) lalu di Makassar, jumlah orderan naik 10 persen hingga 15 persen. Ini baru Pilwali, belum Pileg,” jelasnya.
Setiadi menuturkan, jika dibandingkan Pileg, momen pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) memang tidak ada apa-apanya. “Maklum, orderan akan meningkat berlipat-lipat menghadapi momen Pileg. Bayangkan, ribuan calon legislative (Caleg) berlomba-lomba ingin mempublikasikan dirinya kepada masyarakat,” ungkapnya.
Hal ini tentu saja berbeda dengan Pemilukada semacam Pilwali, sebab menurutnya yang akan mengikuti “kompetisi” hanya beberapa orang. “Makanya, kita fokus di Pileg ketimbang Pilwali karena di  Pileg nanti kita panen. Waktu Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel lalu, orderan berjalan biasa, sebab para kontestan juga memiliki mesin sendiri,” kata Setiadi.
Meskipun perusahaannya banyak mendulang laba dari momentum seperti tadi, bukan berarti ia tak mengabaikan pemesanan reguler. “Selain momen Pileg, pemesan spanduk atau baliho juga kebanyakan datang untuk keperluan tertentu. Misalnya, instansi pemerintahan yang kerap memesan spanduk sosialisasi dan pelatihan,” terangnya
Untuk dapat bersaing dengan perusahaan percetakan lainnya, Setiadi mematok harga digital printing dengan harga kompetitif. Pasalnya, pemain di bisnis ini cukup banyak. “Jika pesanan dalam jumlah banyak, tentu harga bisa dinegosiasikan. Pemesan bisa memesan sesuai ukuran yang diinginkan. Tetapi kami sama sekali tidak menurunkan mutu dan kualitas,” ujarnya.
Selama ini, pesanan untuk baliho sangat mendominasi. Ada 70 persen dibanding pesanan lainnya. “Kami juga menerima pesanan spanduk, banner, backdrop, neon box, papan nama, stiker, suvenir, pin, stempel dan lainnya,” urainya.
Ketika ditanya omset, pria ramah ini mengaku penghasilan yang didapatakan setiap bulannya lebih dari Rp 200 juta. “Kalau bulan biasa, yang kami peroleh Rp 200 juta, kalau ada momentum, ya lebih banyak,” ujarnya.
Selain momen seperti Pilkada, ternyata perkembangan ekonomi di kota berjuluk Anging Mammiri ini telah menarik minat pengusaha dari luar Sulsel untuk berinvestasi. Salah satunya PT Trijaya Usaha Mandiri Surabaya, yang bergerak di bidang pembuatan barcode untuk produk-produk pabrikan.
Dikonfirmasi via telepon, Area Manager PT Trijaya Usaha Mandiri Surabaya, Atoni, membeberkan perihal ketertarikan perusahaannya untuk berinvestasi di Makassar. Pria yang pernah mengadakan pameran di ajang Printpack and Paper Expo pada 2010 lalu di Celebes Convention Center (CCC), Makassar, mengatakah bahwa pihaknya memang telah lama mengincar pasar Makassar karena melihat potensi yang ada. “Kita ikuti perkembangan ekonomi di Makassar, termasuk menganalisa dan mendata market. Ya, ternyata sangat bagus,” ujarnya.
Selain berencana membuka cabang di Makassar, sebelumnya pihaknya telah menjual banyak mesin cetak, termasuk mesin Alpha Jet buatan Jerman untuk aplikasi kode kardus. Atoni menambahkan, mesin tersebut bisa mengerjakan pengkodean 600 ribu unit minuman gelas per jam. Sementara untuk pengkodean produk kemasan kecil, bisa mengerjakan 600 lembar per menit. (blogkatahatiku.blogspot.com)