08 February 2014

BISNIS KURSUS BRAND INDEPENDEN

Foto: Istimewa
Berdirinya Briton International English School difokuskan pada mereka yang ingin lebih menguasai bahasa Inggris dengan cara yang lebih mudah berdasarkan metode ajar yang telah diterapkan. Untuk saat ini status kepemilikan semua cabang Briton International English School merupakan milik sendiri atau independen, dan tidak menggunakan brand franchise sekaligus tidak membuka peluang usaha franchise.
Dijelaskan pemilik Briton International English Scchool, Andi Indrimilacahaya Mattonrokang, membesarkan lembaga kursus dengan menggunakan brand sendiri lebih banyak keunggulannya. Hal yang paling utama adalah lebih mudah mengontrol kualitas sistem yang berjalan di lembaga kursus tersebut.
“Kami cuma membuka peluang kemitraan, tetapi sifatnya business opportunity, dan bukan franchise. Siapapun yang menjadi mitra, pengelolaan tetap dilakukan oleh tim Briton,” ujar Indri.
Alasan Indri tidak menggunakan konsep franchise sejak awal mau membuka lembaga pendidikan karena ia meragukan kualitas yang berjalan di situ. Menurutnya, sistem franchise hanya menjual sistem dan support saja, sedangkan pengelolaan bisa saja diserahkan kepada orang yang tidak profesional. Hal tersebut bisa berbahaya bagi kualitas pengajaran yang ada di lembaga pendidikan.
Awalnya Briton International English School cuma membuka satu office centre di Jalan Botolempangan, Makassar. Saat ini Briton International English School sudah memiliki 19 office centre, yang tersebar di seluruh Indonesia. Setiap bulan lembaga pendidikan ini mengajarkan bahasa Inggris kepada kurang lebih 3.500 siswa dengan jumlah tenaga pengajar kurang lebih 150 orang, dan sudah memiliki alumni 250 ribu siswa yang tersebar di seluruh Indonesia.
Briton International English School pertama kali didirikan pada 1996. Lembaga pendidikan tersebut berdiri karena pemiliknya melihat bahasa Inggris pada saat itu masih merupakan sebuah momok, yang banyak dihindari oleh orang. Akan tetapi, setelah lembaga pendidikan bahasa Inggris tersebut lahir, itu semua bisa diubah, dengan menciptakan sebuah produk pendidikan bahasa Inggris yang bisa disukai oleh masyarakat.
Mengapa lebih memilih bisnis di bidang pendidikan? Indri melihat bisnis di bidang pendidikan merupakan suatu hal yang “seksi”. Membuka lembaga pendidikan dapat bermanfaat untuk orang banyak, khususnya serapan tenaga kerja yang  membludak, tetapi tidak tahu mau kemana bekerja. Di satu sisi perusahaan penerima kerja membutuhkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang baik. Dengan belajar di Briton International English School, akan mampu membantu para pencari kerja meningkatkan kualitas dirinya. 
Sejak 2001, Briton International English School telah menjalin kerja sama dengan Cambridge University dengan ID: 003. Merujuk pada ID Number tersebut, Briton International English School terdaftar sebagai lembaga pendidikan ketiga yang  bekerjasama dengan Cambridge University di seluruh dunia.
Pada saat awal kerja sama, diakui Indri, belum terlalu disosialisasikan. Nanti pada 2005 barulah sosialisasi dilakukan, dengan mengusung slogan belajar di Briton pasti mendapatkan ijazah internasional.

Franchise vs Brand Lokal

Sebuah LPK terdiri dari dua jenis bisnis, yaitu sistem franchise dan ada yang lebih memilih mengusung brand sendiri atau lokalan. Masing-masing sistem yang ada, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Kelebihan dari sistem franchise adalah karena LPK tersebut sudah memiliki sistem yang telah teruji. Sehingga pelaku bisnis yang ingin membuka usaha dengan sistem franchise, tinggal mengadopsi sistem yang telah dijalankan oleh si pemilik brand. Sekarang tinggal bagaimana mereka yang ingin bergelut di bidang bisnis LPK melihat brand mana yang sudah terbukti berkulitas. Di luar segala kelebihan yang dimiliki, sistem franchise bukan jaminan bisa terus bertahan. Banyak franchise LPK pun akhirnya ditutup.
Mengenai besaran biaya yang harus dikeluarkan untuk menggunakan franchise sebuah LPK sangat beragam. Itu semua tergantung jenis LPK yang dipilih, apakah masuk kategori franchise nasional atau internasional.
Sedangkan bagi LPK yang mengusung brand sendiri tentu tidak perlu lagi membayar biaya fee franchise kepada pemilik brand. Itu yang menjadi kelebihan mereka. Hanya saja, bagi pelaku bisnis dengan brand sendiri, harus bisa bekerja lebih ekstra keras lagi untuk memperkenalkan LPK mereka dengan segala kelebihannya. Untuk menjadi besar, butuh proses yang cukup lama bagi LPK dengan brand sendiri, agar bisa memiliki nama besar. (blogkatahatiku.blogspot.com)