17 February 2014

BISNIS KAFE DAN WARKOP

Bukan Sekadar Secangkir Kopi

Foto: Effendy Wongso
Urban lifestyle atau apapun namanya, saat ini memang tidak dapat dipisahkan dari dunia perkotaan. Ada kegiatan sepele seperti sekadar kongko, mengisi kekosongan waktu, menunggu redanya kemacetan jalan dan kegiatan sejenis lainnya, kini sudah mengejawantah menjadi bisnis yang menggiurkan. Sebut saja menjamurnya coffee shop atau gerai-gerai kopi waralaba yang mengakomodir kepentingan yang, lagi-lagi dulu dianggap hanya sebelah mata: Ngopi!
Ngopi atau minum kopi yang dulu dianggap aktivitas “doping” sebelum bekerja di pagi hari, kini telah berubah menjadi gaya hidup. Terus terang, kondisi ini menjadi hal menarik manakala secangkir kopi telah mengalahkan kebutuhan primer dalam sebuah rumah tangga misalnya. Interaksi sosial perkotaan yang latah dan hegemoni menciptakan standar tersendiri pada beberapa kalangan, khususnya kaum muda yang terpola dalam keseragaman. Ini memang konsekuensi logis dari era media daring (online).
Sebagian masyarakat berusaha meningkatkan stratanya lewat industri-industri gaya hidup yang dapat diperoleh dari Horeka (hotel, resto dan kafe). Horeka yang menjamur secara parsial melibatkan industri kopi sebagai salah satu penunjang utama. Sebut saja kehadiran gerai kopi internasional ternama, Starbucks. Melalui PT Sari Coffee Indonesia, gerai kopi berlogo Syren (ikan duyung berekor kembar dari mitologi Yunani) ini, mulai menularkan budaya minum kopi “prestisius” di Indonesia.
Sebelumnya, induk perusahaan gerai kopi berawak “Barista” di Indonesia ini, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP), memang merupakan perusahaan ritel gaya hidup terkemuka. Selain Starbucks, MAP juga memegang beberapa lisensi ternama di kelas food and beverage seperti Burger King, Chatterbox, Cold Stone Creamery, Domino's Pizza, dan Pizza Marzano. Untuk Starbucks, lisensi yang didapatkan sifatnya eksklusif, dan MAP menjadi satu-satunya perusahaan yang  berhak mengoperasikan Starbucks di Indonesia.
Gerai pertama Starbucks di Indonesia dibuka pada 17 Mei 2001 di Plaza Indonesia, mal yang terletak di pusat kota Jakarta. Setelah itu, Starbucks telah berekspansi hingga mencapai 113 gerai di 10 kota termasuk Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, Yogyakarta, Medan, Balikpapan, Semarang, Batam, dan Makassar. Di Makassar, Starbucks beroperasi pertama kali pada 14 Desember 2011 di Mal Ratu Indah (MaRI), Jl Sam Ratulangi, Makassar.
Saat itu Direktur PT Sari Coffee Indonesia, Anthony Cottan mengatakan Makassar adalah kota terbesar di Sulawesi, dan menjadi pelabuhan utama untuk pengiriman barang domestik dan internasional. ”Starbucks Indonesia melihat peluang tersebut. Sudah banyak customer yang menantikan kehadiran Starbucks di sini, akhirnya kami bisa memenuhi keinginan mereka untuk memberikan Starbucks Experience kepada customer di Makassar.”
Tentu hal itu merupakan kabar baik bagi pecinta kopi di Makassar, terlebih ketika kearifan lokal dapat disematkan dalam menjalankan bisnis yang notabene dari ”luar” ini. Head of Marketing Starbucks Indonesia Raquel Moss, menyampaikan pada waktu itu, pihaknya mendesain khusus city mug yang menampilkan busana tradisional Sulsel, ’baju bodo’ yang menonjolkan aksen pada hiasan kepala dan tangan. Di belakangnya juga tampak rumah tradisional Bugis. Tujuannya tak lain agar customer bisa membawa pulang iconic mug khas Sulsel (atau tiap daerah di mana Starbucks berada) sebagai cenderamata dari Makassar dengan gaya Starbucks.
Gaya hidup dari aroma secangkir kopi, rambut klimis, sepatu mengilap, dasi, dan percakapan bisnis barangkali sah-sah saja. Namun terpenting, di luar semua itu “filosofi kopi” mesti menghasilkan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat bagi masyarakat kita, dan bagaimana agar budaya modern ini dapat memaksimalkan ekonomi kerakyatan yang ingin dicapai bersama. Karena ngopi saat ini bukan sekadar secangkir kopi. (blogkatahatiku.blogspot.com)