15 February 2014

Berkah dari Bengkel Vespa

BLOGKATAHATIKU/IST
Kebanyakan orang menganggap memperbaiki motor jenis skuter atau lebih dikenal dengan sebutan brand generic Vespa tidaklah mudah. Dibutuhkan keahlian khusus, apalagi jika dikaitkan dengan tingkat kerumitan tata letak dan jenis mesinnya yang berbeda dengan sepeda motor biasa.
“Memperbaiki mesin Vespa, tentunya tidak sama seperti memperbaiki mesin sepeda motor lainnya. Sehingga untuk zaman sekarang ini, yang notabene marak oleh jenis sepeda motor biasa, membuat usaha bengkel Vespa berkurang,” ungkap pemilik bengkel Vespa Racing Motor, Andi Rifai Pangeran saat ditemui di bengkelnya, Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Selasa (11/2/2014) siang.
Pasalnya, Vespa yang merupakan motor produksi Italia ini telah dianggap jenis sepeda motor yang sudah ketinggalan zaman. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat sebagian usaha bengkel Vespa gulung tikar atau pindah profesi. Buktinya, ia masih eksis menjalankan bengkel yang telah didirikannya sejak 1990 silam.
“Ya, meski Vespa tidak lagi menjadi sepeda motor yang paling diminati, tetapi masih memberi keuntungan bagi penghidupan keluarga saya,” ungkapnya.
Rifai memang tak mengada-ada, sebab terbukti masih terlihat beberapa Vespa yang nangkring di bengkel motornya. Menurutnya, bengkel yang dibangun di atas tanah pemberian mertuanya ditambah modal sendirinya tersebut, saat ini pun masih dikenal sebagai bengkel Vespa yang cukup diperhitungkan.
Berbekal pengetahuan yang didapat di bangku sekolah jurusan mesin, mantan Sabhara di Polwiltabes Makassar ini pun termotivasi untuk membuka usaha bengkel. Diakuinya, selama kurang lebih 20 tahun menjalani usaha bengkelnya tersebut, banyak suka dan duka yang ia rasakan.
“Usaha bengkel Vespa tak selalu berjalan mulus. Saya sadari, peluang bisnis yang saya geluti ini tidak lagi menjanjikan di zaman sekarang. Tetapi karena kegemaran saya terhadap Vespa sehingga saya tetap bertahan. Memang, Vespa bukan lagi sepeda motor lifestyle, tetapi saya tetap jatuh cinta sama Vespa. Makanya, tidak ada niat untuk tutup bengkel,” alasannya.
Kendati demikian, berkurangnya penggemar sepeda motor Vespa tidak lantas membuat  bengkelnya sepi. “Meski penggemar sepeda motor Vespa sedikit, tetapi yang datang ke bengkel saya tetap ada,” ungkapnya.
Rifai mengaku, per minggu bisa mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp 500 ribu sehingga masih mencukupi kebutuhan keluarga. “Dulu, omset masih manis saya rasakan sekitar 1990 hingga 2002, di mana pada saat itu per harinya saya bisa meraup untung bersih Rp 150 ribu,” ujarnya.
Terkait harga jasa servis di bengkelnya, semuanya tergantung pada faktor rumit atau tidaknya pengerjaan sebuah Vespa. “Untuk pengerjaan yang mudah, biasanya kami patok Rp 25 ribu, sedangkan yang susah kami patok sampai ratusan ribu,” terangnya.
Selain mengerjakan servis perbaikan untuk Vespa, bengkelnya juga tetap menerima jenis kendaraan sepeda motor reguler, termasuk menjual komponen onderdil (spartpart) dan ganti oli.
“Tetapi tetap sepeda motor jenis Vespa yang menjadi prioritas utama di bengkel saya,” tandas Rifai.