28 February 2014

BANK PEMBANGUNAN DAERAH BAHAS PERMODALAN

Foto: Effendy Wongso
Kendati pertumbuhan ekonomi regional timur Indonesia cenderung tinggi dibandingkan dengan rata-rata tingkat pertumbuhan nasional, akan tetapi hal tersebut tidak mampu mendorong secara signifikan pengembangan bank-bank daerah di kawasan ini.
Sekretaris Jenderal Bank-Bank Daerah (Asbanda), Ellong Tjandra mengemukakan persoalan utama yang dihadapi bank pembangunan daerah (BPD termasuk di Indonesia timur untuk melakukan ekspansi, terletak pada komposisi kepemilikan modal inti yang dimiliki bank.
“Kepemilikan modal inti memang menjadi salah satu pilar utama untuk BPD agar menjadi tuan rumah di daerah sendiri, selain kemampuan pelayanan bagi masyarakat dan optimalisasi fungsinya mendukung pemerintah daerah (Pemda),” ucapnya di sela-sela Talkshow Economic Outlook 2014 bertajuk“BPD Menjadi Regional Champion” di Sandeq C Hotel Grand Clarion Makassar, Jalan AP Pettarani, Makassar, Kamis (27/2) siang.
Adapun optimalisasi peran dan fungsi bank-bank daerah telah dirintis sejak 21 Desember 2010, melalui program BPD Regional Champion (BRC) yang dicetuskan pemerintah dan bank sentral yang bekerjasama dengan Asbanda.
Menurut Ellong yang juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama (Dirut) Bank Sulselbar, untuk mewujudkan konsep BRC telah dilakukan melalui jalinan kerjasama dengan bank pemerintah maupun swasta, sebagai salah wujud komitmen menjadi pemain penting industri perbankan di kawasan sendiri.
Sementara dari sisi kepemilikan modal inti, lanjut Ellong, per Desember 2013 Bank Sulselbar sendiri mencatat modal mencapai Rp1,2 triliun dengan return of asset (ROA) mencapai 4,3 persen.
“Dengan kondisi tersebut, Bank Sulselbar sudah berada dalam jalur BRC mengingat kami sudah memenuhi modal minimum sebesar Rp1 triliun, dan ROA berada di atas rata-rata nasional yang berada di level 3,8 persen,” ungkapnya.
Kendati demikian, persoalan permodalan tetap menjadi salah satu kendala Bank Sulselbar dalam pengembangan mengingat penyertaan modal pemda hanya 70 persen, sementara sisanya dituntut memperoleh dana dari luar.Kondisi permodalan juga dihadapai Bank Maluku yang per Desember 2013 hanya memiliki modal inti Rp 440 miliar dengan ROA 3,63 persen.
Corporate Secretary Bank Maluku, Petro R Tentua mengemukakan keterbatasan modal inti tersebut memicu perlambatan pengembangan yang juga diperparah dengan kondisi geografis Maluku yang teridiri dari kepulauan.
“Memang, kami dimiliki oleh dua Pemda yakni Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara, namun terkendala dari sisi penyetoran modal  kecil serta kondisi geografis yang cenderung sulit dibandingkan dengan daerah lain untuk pengembangan,” ujarnya.
Pada tahun ini, lanjut Petro, pihaknya memproyeksikan modal inti sudah bisa mencapai Rp1 triliun seiring pertumbuhan ekonomi kawasan Maluku yang diestimasi diikuti besaran penyertaan modal dari Pemda.
Kondisi sedikit berbeda terjadi di Bank Sulut yang menempuh langkah strategic partner dalam memenuhi komposisi modal untuk mendukung ekspansi dan pengembangan perusahaan. Group Head Operasional Bank Sulut, Revino Pepah mengemukakan persoalan permodalan yang dihadapi cukup sepesifik sehingga pelepasan saham ke investor swasta menjadi opsi permodalan perusahaan.
“Sebenarnya, problem yang kita hadapi hampir mirip dengan BPD daerah lain, yakni permodalan, kredit, produk, informasi teknologi (IT) dan lain-lain terkait kelembagaan,” bebernya.
Sejauh ini, investor swasta yang memiliki saham di Bank Sulut adalah CT Corporation yang dimiliki konglomerat Chairul Tanjung. (Annisa/blogkatahatiku.blogspot.com)