25 January 2014

UPAYA PEDULI LINGKUNGAN HIDUP SEJAK DINI

NADINE ZAMIRA SJARIEF
Upaya Peduli Lingkungan Hidup Sejak Dini

Foto: Pribadi
Kenangan masa kecilnya dan kedekatannya dengan alam ternyata membawa seorang Nadine Zamira Sjarief benar-benar peduli dengan alam sekitarnya. Lantaran keperduliannya tersebut dengan alam pulalah sehingga akhirnya membuat wanita cantik kelahiran Jakarta, 20 Februari 1984 ini, merasa tertantang dan termotivasi membagikan ilmunya kepada siapa saya yang acuh tak acuh terhadap pemanasan global yang semakin merusak lingkungan hidup tersebut.
Ditemui beberapa waktu dalam sebuah event launching produk kosmetik di Jakarta, wanita yang lebih akrab dipanggil dengan Nadine ini mengungkap keterlibatannya dalam aktivis lingkungan hidup di Tanah Air. Model papan atas Indonesia ini menjelaskan, pengalaman masa kecilnya yang akrab dengan alam hingga kini membuatnya merasa satu dengan alam.
Mantan Miss Indonesia Earth 2009 ini juga memaparkan, kedekatannya dengan alam juga tak terlepas dari kontribusi keluarganya yang sangat mencintai alam dan lingkungan hidup. Memang, alam dan lingkungan hidup sudah menjadi bagian dari diri alumni Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia, dan Master of Arts in Communication Studies The London School of Public Relations ini. Pasalnya, alam telah dianggapnya sebagai salah satu komponen penyeimbang dari kehidupan manusia.
“Tanpa alam, manusia tidak akan pernah ada,” demikian dikatakan oleh wanita yang memiliki prestasi yang tak terbilang ini.
Selain sangat mencintai alam, Nadine juga adalah salah satu wanita yang cerdas dan berprestasi. Adapun prestasi-prestasi yang pernah diraihnya di antaranya Miss Indonesia Earth 2009, duta produk tas pakai ulang “BaGoes-Greeneration Indonesia”, Miss Fabulous Personality Wajah Femina 2007, juara harapan satu Duta Muda Asean-Indonesia 2007, wakil pertama None Jakarta Selatan 2006, wakil kedua None DKI Jakarta 2006, Peserta Miss Earth 2009, Missosology.org's People's Choice Award for Miss Earth 2009, peserta The Amazing Race Asia musim keempat, dan masih banyak prestasi lainnya.
Nah, inilah kutipan wawancara KATA HATIKU dengan Nadine.

Bagaimana Anda bisa tertarik dengan lingkungan hidup?
Dari kecil saya dibesarkan dalam keluarga yang bisa dibilang sangat peduli dengan lingkungan, jadi dari kecil pun kalau diajak jalan itu lebih ke treking outdoor karena kebetulan saat itu tinggal di Amerika. Di sana kan tempat untuk melakukan aktivitas seperti itu sangat banyak, jadi memang kegiatan seperti itu yang biasa saya lakukan bersama keluarga. Jadi bisa dibilang saya dibesarkan dalam lingkungan seperti itu sehingga membuat semakin tertarik dengan dunia flora dan fauna.

Apakah setelah tinggal di Jakarta juga tetap peduli dengan lingkungan seperti itu?
“Di Jakarta saya kuliah di Universitas Indonesia dengan mengambil Jurusan HI dan ternyata di jurusan itu lebih luas dalam mempelajari berbagai macam aspek dan salah satunya lingkungan. Di situ pulalah saya lebih mengenal lagi mengenai aspek-aspek lingkungan secara global seperti apa dan semakin membuat tertarik lebih dalam lagi. Dengan semakin tertarik di dunia seperti itu, maka saya semakin menemukan passion saya dalam dunia lingkungan hidup, sehingga kalau ada makalah atau tulisan apa pun pasti saya akan menulis mengenai lingkungan.”

Apakah Anda juga tertarik untuk bergabung dengan beberapa organisasi lingkungan hidup independen lainnya?
“Pernah sih ikut aktif menjadi sukarelawan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak dibidang lingkungan hidup juga, dan itu pada waktu masa kuliah saja.”

Bagaimana dengan pekerjaan setelah kuliah?
“Itu juga menjadi salah satu pemikiran saya, selepas itu saya juga memilih pekerjaan yang sesuai dengan jiwa saya, dan akhirnya saya memilih perusahaan yang sesuai dengan nilai-nilai saya, di mana perusahaan itu adalah The Body Shop. Saya anggap perusahaan ini merupakan vendor kosmetik yang juga tidak pernah lepas dari lingkungan hidup.”

Bagaimana dengan kompetisi-kompetisi yang mengangkat nama Anda?
“Beberapa kompetisi tersebut juga saya ikuti di saat saya masih bekerja di The Body Shop, karena menurut saya kompetisi adalah cara yang sangat mudah untuk belajar sesuatu dengan sangat cepat. Awalnya, saya ikut Abang None di 2006 dan pada 2007 ikut Wajah Femina. Pada tahun yang sama, ikut Duta Muda Asean untuk mencari diplomat-diplomat muda. Akhirnya 2009, saya mencoba ikut Miss Indonesia Earth dan kebetulan keluar menjadi pemenang. Di sini saya berhasil mewakili Indonesia untuk  ajang Miss Earth di luar negeri.”

Apa manfaat yang lebih dari kompetisi-kompetisi tersebut?
“Kompetisi tersebut sangat penting dalam membangun jati diri saya, dan juga memperluas networking saya yang berkontribusi pada karier saya hingga sekarang ini. Terus terang, setiap mengikuti ajang seperti itu akan menciptakan apresiasi saya terhadap banyak hal, terutama terhadap isu lingkungan hidup di sekitar kita.”

Sebagai figur yang peduli terhadap lingkungan hidup, isu apa yang tengah Anda angkat saat ini?
“Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman mendirikan Greeneration for Life, yakni sebuah consultant company yang bergerak di bidang lingkungan yang dapat membantu perusahaan-perusahaan, komunitas dan instasi lainnya yang ingin membuat program atau event yang berbau lingkungan. Contohnya, mungkin sekarang banyak sekali orang yang ikut-ikutan Go Green. Saya sadar, ini mungkin seperti sebuah tren, akan tetapi mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Nah, di Generation for Life masuk.”

Bagaimana Anda melihat aksi Go Green yang hanya sebatas retorika di masyarakat pada umumnya?
“Sebenarnya yang saya lihat sisi idealismenya saja. Sejatinya, orang-orang tersebut harus mengerti isunya dulu. Kalau sudah begitu, tentu bisa introspkesi diri apa yang seharusnya dilakukan, jadi tak sekadar ikut-ikutan dan berkoar-koar saja tentang Go Green. Nah, kalau kita lihat aksi terselubung di balik istilah Green itu, sekarang sangat erat hubungannya dengan yang namanya ‘business’. Jadi, perusahaan atau produk yang membawa nama tersebut pasti punya maksud dan tujuan di dalam bisnis mereka. Ya, tetapi menurut saya sih tidak apa-apa selama mereka bisa merealisasikan esensi dari Go Green itu sendiri. Artinya, antara program (Go Green) dan bisnis sama-sama berjalan dengan baik.”

Jadi tidak ada masalah sama sekali?
“Saya kira tidak masalah, ya? Sekarang, mungkin memang banyak orang yang menggunakan kata-kata Green atau Eco, serta jargon-jargon lingkungan di dalam kegiatan mereka tanpa benar-benar menganalisa hasil yang mereka rasakan. Namun kembali seperti yang saya bilang tadi, tren seperti ini tak ada salahnya asal bisa dimanfaatkan. Ini lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Paling tidak, sedikit demi sedikit mereka pasti telah melakukan hal-hal yang kecil.”

Lalu apa yang harus dilakukan untuk benar-benar membuat orang sadar dengan lingkungan hidup?
“Itu yang sedang saya kerjakan bersama teman-teman dari Generation for Life, di mana saat ini kita masuk ke sekolah-sekolah. Ya, karena saya pikir kepedulian terhadap lingkungan hidup akan lebih baik jika dilakukan sejak dini. Itu semua bisa saya bicarakan berdasarkan pengalaman yang saya dapatkan sewaktu kecil, lagi pula untuk saat ini belum ada kurikulum dari pemerintah secara resmi mengenai pendidikan lingkungan hidup di sekolah-sekolah.”

Bagaimana tanggapan dari beberapa sekolah tersebut?
“Tanggapan dari sekolah-sekolah cukup bagus, apalagi sekolah-sekolah swasta yang memang memiliki sedikit wewenang untuk memasukan kurikulum pada pendidikan mereka tersebut. Semoga dalam waktu dekat pemerintah dapat memberikan modul-modul mengenai lingkungan hidup ke sekolah-sekolah negeri.”

Menurut Anda, bagaimana peran industri di Indonesia yang secara tidak langsung telah menciptakan dampak Global Warming di dunia?
“Bisa dibilang Indonesia dan Brasil adalah negara yang banyak memiliki hutan, tetapi ironisnya juga merupakan salah satu penyumbang dampak kerusakan lingkungan terbanyak dalam dunia ini.”

Mengapa bisa demikian?
“Karena negara dengan hutan yang sangat banyak tersebut, terkadang dalam sisi ekonomi memiliki kebutuhan tertentu dalam bisnis yang berdampak sangat besar pada iklim yang melanda dunia ini. Indonesia pun termasuk salah satu yang banyak menjadi sorotan dunia, kita tidak usah membicarakan negara dulu, deh. Jakarta saja sebagai salah satu kota di Indonesia juga selalu mengalami masalah dalam hal sampah. Jakarta tidak memiliki sistem pembuangan sampah yang baik, sedangkan di beberapa kota di negara berkembang telah memiliki sarana untuk masalah sampah tersebut.”

Selain sampah, apakah hal sederhana yang ternyata menjadi penyumbang dari masalah ini?
“Paling sederhana, selain sampah mungkin penggunaan air yang berlebih dan juga penggunaan alat elektronik. Sebagai contoh, jika kita memposisikan televisi atau PC dalam mode standby, maka listrik tentunya tetap terserap ke dalam alat tersebut. Atau, mungkin setelah kita selesai mengisi ulang smartphone atau handphone, kita memang akan mencabut charger tersebut dari gadget ini, tetapi apakah kita mencabutnya juga dari colokan yang ada, karena charger tersebut jika tidak dicabut tetap menyedot listrik hingga 90 persen.”

Apa harapan Anda di 2014 ini?

“Tentunya program-program saya dan teman-teman akan berjalan terus, karena program-program tersebut dibuat tidak untuk jangka pendek atau berhenti dalam satu-dua tahun. Mimpi saya adalah bagaimana organisasi saya dapat menyentuh semua instansi, sekolah, dan perusahaan untuk membantu mereka dalam merealisasikan program Go Green secara benar.” (blogkatahatiku.blogspot.com)