05 January 2014

UPAYA DONGKRAK POPULARITAS KULINER MAKASSAR

TAK MENAFIKAN PERSAINGAN GLOBAL

Foto: Effendy Wongso
Sebagai pintu gerbang di Indonesia timur, Makassar semakin menunjukkan peningkatan ekonomi dengan pertumbuhan pembangunan infrastruktur yang luar biasa. Grafik positif tersebut membuat kota di selatan Pulau Sulawesi ini memiliki daya tarik tersendiri, khususnya bagi pengusaha yang bergelut di sektor kuliner maupun medium pendukung terkait dengan bisnis ini.
Hal itu pulalah yang mendorong pihak PT Kristamedia Pratama (Krista Exhibition) sebagai penyelenggara pameran bertajuk “Inter Food” tetap memilih Makassar sebagai kota kedua untuk penyelenggaraan pameran “Celebes Inter Food, Celebes All Packs, dan Celebes Hotel and Tourism 2013” di Celebes Convention Centre, Kamis (19/9/2013) hingga Minggu (22/9/2013) lalu.
Memang, selama ini pihaknya, berdasarkan pengalaman di 2012, menyimpulkan bahwa pameran yang digelar pertama kali tahun lalu di Makassar tersebut, sukses menuai pengunjung. Dalam acara itu, terjadi interaksi yang fungsional antara tujuan ekonomi yang lebih besar dan cita-cita yang adiluhung untuk mengenalkan budaya bangsa melalui kuliner.
Atas dasar itulah, selain hal yang dimaksud tadi, pihaknya juga melihat perkembangan usaha kuliner yang cukup potensial. Potensi yang dikemukakan stakeholder pihak penyelenggara event ini bukan tanpa sebab. Pasalnya, usaha tersebut selain mendukung peningkatan tingkat pariwisata, juga mendukung usaha di bidang industri pangan. Oleh karena itu, ajang bertajuk Inter Food di Makassar ini akan menjadi pemantik bangkitnya industri kuliner, khususnya di Sulsel.
Keberhasilan acara-acara seperti ini, jelas menjadi salah satu pendorong pertumbuhan industri kuliner yang menghidupkan banyak bidang, termasuk hotel, restoran, dan kafe (Horeka). Ekspo tak sebatas mempertemukan user-seller, namun yang terpenting adalah menggali unsur edukasi ekonomi melalui sektor makanan dan minuman.
Ini juga menjadi upaya memperkenalkan produk unggulan daerah menghadapi Asean Economic Community (AEC) pada 2014 mendatang. Produk unggulan harus dapat bersaing dengan gempuran produk asing. Jika selama ini Indonesia selalu mengimpor makanan dalam kemasan seperti kaleng, mengapa substansinya tidak diubah atau di balik saja.
Celebes Inter Food cukup penting dan strategis lantaran ajang ini turut mendeklarasikan tiga makanan khas Sulsel, yakni Coto Makassar, Pallumara, dan Ayam Nasu Likku. Di samping itu, ajang ini juga mendukung peningkatan kunjungan wisatawan ke Makassar yang selama ini lebih banyak mengandalkan industri meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE).
Tahun lalu, sumringah optimisme terhadap pengembangan industri kuliner di Sulsel menunjukkan hasil. Dalam kesempatan tersebut, Museum Rekor-Dunia Indonesia (MuRI) memberikan penghargaan kepada Indonesian Chef Association (ICA) dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Makassar sebagai penggagas dan penyelenggara pembuatan replika kapal Phinisi dari rangkaian Baruasa terbanyak dengan jumlah 12 ribu buah.
Memang, penghargaan dari MuRI tersebut, juga Baruasa sebagai ikon kuliner Kota Makassar hanyalah simbolik, akan tetapi bila mengamati proses panjang yang telah dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Makassar dalam mengemas kue khas Sulsel ini agar dapat “go international”, maka hal tersebut patut diapresiasi.
Boleh jadi ini akan menjadi pondasi untuk menapak hal yang lebih besar, yakni menjadi daerah pengimpor kuliner yang dikemas dalam kaleng atau apapun bentuknya. Sebenarnya, hal ini bukannya tak mungkin mengingat potensi sumber daya yang cukup besar yang dimiliki Sulsel, yang sekarang dijadikan pusat perdagangan dan investasi oleh banyak daerah, bahkan beberapa negara untuk wilayah timur Indonesia.
Konsekuensinya, tentu saja kita tak boleh menafikan persaingan global. Sebab iklim kompetitif secara langsung maupun tak langsung membut persaingan usaha semakin menarik, sehingga tercipta resistensi saat menghadapi krisis ekonomi global kelak. (blogkatahatiku.blogspot.com)