03 January 2014

THE BODY SHOP



PERGESERAN TREN KE ARAH YANG POSITIF

Foto: Effendy Wongso
Ada satu hal yang tak dapat dinafikan saat mengungkapkan kekuatan yang tersirat dalam sebuah “brand”, apapun jenis produknya brand selalu mengemuka menjadi pamungkas dalam menjaring konsumen. Dalam industri kosmetik pun, brand boleh dikata sebagai satu-satunya komponen penting, apakah produk tersebut dapat diterima pasar atau tidak.
Sebut saja salah satunya, The Body Shop. Kekuatan brand The Body Shop selama ini ditopang oleh konsumennya yang loyal, yang peduli terhadap kelestarian lingkungan. Lagi pula, brand ini tak dibangun dalam semalam. Pendirinya, Anita Roddick sudah jatuh-bangun sejak 1976, saat pertama kali membesarkan produk kosmetik dengan isu ramah lingkungan. Maklum, mulai dari proses produksi hingga hasil akhir, produk kosmetika asal Inggris tersebut diklaim mengusung sisi-sisi humanitas, kepedulian terhadap lingkungan hidup, yang notabene bertolak belakang dengan kebanyaka produk kosmetik kompetitor lainnya.
Dari data yang dilansir Perhimpunan Pengusaha dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (PPA Kosmetika), di Indonesia sendiri konsumen loyal produk impor berkualitas yang secara tidak langsung merujuk pada The Body Shop, rata-rata berusia produktif antara 25-35 tahun. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tren konsumen ini bergeser dan lebih merujuk kepada pengguna belia. Artinya, kaum remaja juga mulai gemar membeli produk ini.
Terjadinya perubahan gaya hidup di kalangan remaja Indonesia saat ini adalah fenomena menarik yang perlu dicermati. Saat ini tren berubah ke arah yang lebih positif, di mana kosmetik tak hanya alat untuk bersolek, akan tetapi kosmetik juga memiliki nilai-nilai humanistik, yang pada prinsipilnya membawa makna lebih dari sekadar medium kecantikan.
Lantas, ketika sebuah produk tidak semata mendulang laba, maka The Body Shop adalah salah satu ikon kosmetik yang mampu menyosialisasikan pentingnya program “go green” bagi kaum muda tersebut sehingga tergugah untuk menjadi konsumen positif.
Dengan adanya perubahan gaya hidup remaja Indonesia tersebut, saat ini “range” usia konsumen The Body Shop meluas dari antara 15 tahun hingga 35 tahun. Dalam kategori ini, pemahaman tentang aktualitas, persahabatan dengan alam, dan antipati terhadap limbah yang biasanya dihasilkan industri kosmetik, dengan sangat cepat membawa pencerahan baru sehingga dapat dipastikan generasi ini akan menularkan hal-hal positif yang sesuai misi perusahaan The Body Shop. Setali tiga uang, demand terhadap produk ini juga meningkat tajam. Ini tak lain akibat gencarnya kampanye “hijau” yang menjadi filosofi The Body Shop.
Seiring dengan perubahan konsumen tersebut, bila menakar dari lini produk, juga terjadi pergeseran kontribusi. Dari tiga lini produk The Body Shop yakni body care, make up dan fragrance (wewangian), maka dapat dipastikan bahwa beberapa tahun ini ada perubahan peta penjualan, dari yang semula body care mendominasi, saat ini penjualan make up dan fragrance juga meningkat, bahkan kontribusi ketiga lini produk tersebut seimbang terhadap total penjualan.
Jika body care biasanya dibeli oleh konsumen setia, make up dan fragrance lebih digandrungi oleh remaja. Alasannya, anak-anak muda ini cenderung mengikuti tren yang berpedoman dari media. Sementara alasan lainnya adalah dengan membeli produk alami ini, bahan-bahan kosmetik yang digunakan tersebut pun lebih aman di kulit.
Foto: Effendy Wongso
Adanya kenaikan demand tersebut kemudian ditanggapi dengan semakin gencarnya The Body Shop membuka store baru. Per Oktober 2013, tercatat ada sekitar 96 store mereka yang tersebar di seluruh Indonesia, utamanya di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Targetnya, akhir 2013 lalu The Body Shop akan memiliki 100 store, jauh di atas jumlah store di 2012 yang sebanyak 80 store.
Selain karena ada peningkatan demand dari masyarakat, pembukaan store dilakukan seiring dengan semakin banyaknya kemunculan mal besar di Indonesia. Mal besar banyak dikunjungi konsumen kelas B Plus dan A yang merupakan target konsumen dari The Body Shop.
Mengikuti keberhasilan The Body Shop, dan masih terbukanya pasar kosmetik di Indonesia cukup mengundang pelaku bisnis asing maupun lokal yang bermain di industri ini. Berdasarkan data lembaga riset pemasaran internasional, Euro Monitor International, industri kosmetik di Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata 12 persen per tahun. Industri ini juga diprediksi dapat tumbuh 20 persen di 2014 mengingat besarnya jumlah penduduk di Indonesia.
Kendati demikian, industri kosmetik lokal dan obat tradisional masih menghadapi berbagai tantangan, seperti pasar bebas Asean di 2015 nanti. Beberapa industri kosmetik juga sudah terganggu dengan derasnya produk impor yang masuk secara ilegal. Data PPA Kosmetika, dari Rp 80 triliun produk kosmetik impor yang masuk, sekitar Rp 16 triliun hingga Rp 20 triliun di antaranya merupakan selundupan, di mana peredarannya pun cukup luas dari wilayah perbatasan hingga ibu kota negara.
Nah, ini memang harus disikapi terutama oleh bea cukai karena yang terpukul bukan hanya industri di bidang ini tetapi pemerintah sendiri juga akan kehilangan bea masuk. (blogkatahatiku.blogspot.com)