06 January 2014

THE BODY SHOP, BISNIS YANG HUMANISTIK (1)


BISNIS YANG TAK SEPERTI BIASANYA

Foto: Effendy Wongso
Mengguritanya bisnis yang telah dikembangkan oleh The Body Shop, sebuah perusahaan kosmetik internasional, sejak berdiri di 1976, bukanlah hal yang semudah membalik telapak tangan. Dengan kepemilikan sekitar 2.400 toko di 61 negara, termasuk Indonesia, bisnis The Body Shop bukan pula tanpa musabab dapat menggelembung seperti sekarang ini. Mengaktualisasikan sisi-sisi humanistik, dengan produk-produk yang diciptakan mengusung konsep peduli lingkungan, boleh jadi inilah bisnis yang paling bisa diterima oleh manusia di abad milenium.
Pendirinya, Anita Roddick, dikenal bukan hanya sebagai pengusaha yang sukses, tetapi juga seorang aktivis yang giat membela lingkungan dan kemanusiaan. Liku-liku bisnis The Body Shop yang dituangkan Anita dalam buku autobiografinya “Business as Unusual,” yang diluncurkan pada 2006 silam, termaktub pengalaman yang mencengangkan tentang sisi manusiawi yang dibalut dalam bisnis yang ramah lingkungan.
Dame Anita Perella Roddick, lahir pada 23 Oktober 1942 di Littlehampton, Sussex Inggris, dari keluarga imigran Yahudi-Italia. Sewaktu suaminya berkelana di Amerika, Anita membuka toko The Body Shop dengan uang hasil pinjaman. Toko pertama didirikannya di Brighton Inggris pada 1976, dan ketika baru dibuka hanya menjual sejumlah krim serta produk perawatan rambut.
Pada 1990, Anita membantu pendirian majalah The Big Issue yang keuntungan penjualannya digunakan untuk membantu tunawisma. Selain itu, ia mendirikan yayasan amal “Children On The Edge” untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung di Eropa Timur dan Asia. Ia juga banyak membantu sejumlah organisasi amal termasuk Greenpeace. Pada 2007, ia mengumumkan menderita Hepatitis C menahun, dan mempromosikan yayasan “Hepatitis C Trust”, dan ikut serta melakukan kampanye penanggulangan Hepatitis.
Pada 2003, Anita menerima gelar Dame Commander of the Order of the British Empire dari ratu Inggris, Queen Elizabeth II, dan secara resmi menyandang nama Dame Anita Roddick DBE. Ia meninggal dalam usia 64 tahun akibat pendarahan otak pada 10 September 2007 setelah dirawat di Rumah Sakit St Richard, Chichester Inggris, lantaran keluhan sakit kepala hebat pada malam sebelumnya.
Chief Executive Officer (CEO) The Body Shop Indonesia yang juga aktivis lingkungan, Suzy Hutomo, dan Direktur Makassar International Writers Festival, sekaligus salah satu penulis teras nasional, Lily Yulianti Farid, dalam suatu kesempatan mengatakan bahwa mereka di The Body Shop seluruh dunia, berusaha melanjutkan perjuangan yang telah dimulai oleh Anita. Dikatakan pula, sebenarnya yang mereka lakukan tidak seberat yang dilakukan wanita yang berhati luhur itu lantaran mereka tinggal melanjutkan saja. Keberanian dan inspirasi yang ditularkan oleh pendiri The Body Shop ini, telah meng-“influence” para pegiat lingkungan hidup dan para penulis di seluruh dunia untuk melanjutkan cita-citanya yang luar biasa.
Yang dilakukan Anita bukan sekadar berbisnis. Dengan gaya kepemimpinannya yang penuh semangat, kreativitas, dan idealisme, ia menjadikan The Body Shop sebagai perusahaan yang peduli terhadap kesetaraan gender, isu-isu lingkungan hidup, dan “human right” atau hak asasi manusia (HAM). Semasa hidupnya pun, Anita kerap menceritakan berbagai pengalaman dan pengetahuannya mengenai berbagai kasus pelanggaran HAM, serta perusakan lingkungan sebagai dampak praktik perusahaan-perusahaan yang mengabaikan etika.
Wanita tangguh tersebut memaparkan bagaimana perusahaan industri hiburan raksasa Amerika Serikat (AS) memberikan upah yang tidak layak bagi buruhnya di Thailand. Ia juga bercerita bagaimana perusahaan minyak Perancis bekerja sama dengan diktator militer Myanmar yang membungkam demokrasi negara tersebut.
Menurut Suzy, Anita bukanlah tipe pemimpin perusahaan yang hanya duduk di belakang meja dan memberi perintah ke bawahan-bawahannya. Ia pejuang yang berpergian ke berbagai daerah di dunia membela lingkungan dan kemanusiaan. Dijelaskan, salah satu pengalaman Anita yang juga ada dalam buku “Business as Unusual” tersebut adalah bagaimana ia melihat sendiri ke perkebunan tembakau di Meksiko, dan tergugah ketika mengetahui bagaimana penderitaan pekerja di sana di mana sungai-sungai mereka tercemar limbah beracun sehingga bayi mereka ada yang terlahir cacat.
Sesungguhnya, Anita menggabungkan hasrat mencapai bisnis yang sukses dengan usaha untuk melakukan perubahan positif bagi kehidupan di bumi. Wanita itu juga memberikan inspirasi bagaimana bisnis dapat menjadi mitra bagi pemberdayaan komunitas, masyarakat adat, dan terutama bagi kehidupan kita sebagai manusia dengan nilai-nilai luhur, keluarga, cinta, dan kasih sayang. Itulah yang Anita sebut sebagai “bisnis yang tidak seperti biasanya” atau “Business as Unusual”. (blogkatahatiku.blogspot.com)