14 January 2014

TERIMA KASIH, BUNDA

Oleh Anita Anny

Foto: Dok KATA HATIKU
Ada galau menyesaki dadanya. Sudah jam sepuluh kurang lima. Tapi cowok berwajah bayi yang duduk di sampingnya itu anteng-anteng saja. Sama sekali nggak nunjukin sikap kalau ingin cabut. Malah melebarkan kisahnya hingga nggak berbuntut ending. Kasus!
Sepuluh ‘teng’ jam dinding terdengar merisaukan. Dea menggigit bibirnya keras-keras. Di ruang dalam, ada debum daun pintu yang terbanting. Dea mengusap wajahnya. Bahaya. Itu isyarat yang lebih gawat ketimbang genderang perang serdadu di zaman baheula dulu.
Ya, Tuhan!
Jangan sampai isyarat itu berlanjut ke isyarat yang lainnya. Piring jatuh, misalnya. Sebab kalau sudah begitu, itu berarti Bunda nggak akan tanggung-tanggung lagi. Keluar dengan muka kelipet-lipet dibarengi serentetan kicauannya yang semerdu beo!
“Bunda kamu lagi bersih-bersih, ya?”
Bukan bersih-bersih, tapi misuh-misuh! batin Dea menanggapi pertanyaan Glen yang sama sekali belum menangkap sinyal amarah dari Nyonya Ananda Hartarti Muljono Pramestu Buwono,  nama Bundanya yang sepanjang kereta api. Sinyal yang sebentar lagi pasti bakal jadi petaka.
“Rajin banget, ya? Malam-malam begini….”
“Malam-malam gini, apa orang di rumah nggak nyari-nyari kamu?” Dea mulai ngusir secara halus.
“Nggak, tuh. Biasanya juga aku pulang jam satuan,” jawab Glen enteng.
Ya amplop! Jam satu malem?! Kalo anak cengengesan ini sampe nggak ngangkat kaki dari rumah ini hingga pukul satu malem, tauk deh Bunda bakal menggantungku di mana beserta pakaian jemuran besok!
“Ayah dan Ibu kamu nggak marah kalo kamu pulang telat gitu?” tanya Dea memancing. Berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
“Mendingan diomelin sama bonyok….”
“Apaan tuh bonyok?” tanya Dea dengan rupa bego.
“Bokap-nyokap,” jelas Glen.
Dea pura-pura tertawa.
Glen menerusin kalimatnya yang terpotong barusan. “Yap. Mending diomelin mereka ketimbang ditertawain ama pintu,” guyonnya lantas terkekeh.
“Tapi….” Dea mulai meremas-remas jemarinya.
“Udah kuno kalo anak muda zaman sekarang tidurnya cepet,” salib Glen sembari mengibaskan tangannya seolah menggebah nyamuk. “Emangnya anak kecil….”
“Tapi….”
“Eits,” Glen nggak memberi kesempatan pada Dea buat menyanggah, “jangan bilang kalo begadang itu merusak kesehatan. Kelelawar aja nggak pernah tidur malam seumur-umur, kok. Tapi sehat-sehat aja, tuh!”
Dea mengembuskan napasnya keras-keras. Derai tawa Glen menyeruak tengil. Idih, nih anak! Nggak ngerti-ngerti juga. Tolonglah cepat pulang sebelum Bunda mencekik leherku!
“Eh, Dea, kamu tau kan Si Jean?”
Ya, Tuhan!
Dea mulai berdoa dalam hati. Ditelannya ludahnya yang tiba-tiba terasa pahit. Glen bukannya menyudahi percakapan, tapi malah mengalihkan pembicaraan ke persoalan lainnya.
“Ya-ya, tau! Yang anak Tiga C itu, kan? Yang bokinnya bejibun. Punya cowok Singapura anak pengusaha tajir yang punya toko mewah di Orchard Road. Yang kalo ke sekolah tongkrongannya Jaguar silver. Yang….”
Dea kesedak. Maksudnya pingin menyudahi percakapan yang seperti nggak ada habis-habisnya, dengan merentetkan semua yang diketahuinya tentang Jean, teman mereka. Matanya berkaca-kaca. Nggak disadarinya kalau dia sudah menangis.
“Kamu nangis, kenapa?” Rupanya Glen melihat airmata Dea yang menitik di pipi, sekalipun Dea berusaha menyembunyikannya dengan menundukkan kepala.
“Nggak papa. Cuma kelilipan debu,” dusta Dea.
“Atau, mungkin kamu udah ngantuk ya?”
Sontak kepala Dea terangkat. Dan mengangguk antusias.
“Kalo gitu, aku cabut aja deh. Kapan-kapan aku main lagi, ya?”
Puji Tuhan!
Dea bersorak dalam hati. Dihelanya napas panjang-panjang. Rupanya Tuhan mendengar doanya agar menghindarkan dirinya dari ‘malapetaka’. Kemudian dengan langkah lega diantarnya cowok funky itu sampai di muka pintu pagar.
Dan ketika dia kembali masuk ke dalam rumah, Bunda telah berdiri menantinya dengan muka butek.

***

“Dea….”
Dea menoleh. Dihentikannya langkahnya menuju gedung perpustakaan.
“Dia titip salam.”
“Siapa?”
“Jangan berlagak bodoh.”
Dea mengibaskan tangannya. Diputarnya tumit hendak melangkah. Tapi lengannya ditarik paksa.
“Apa-apaan….”
“Sori. Ini soal penting!”
“Untuk soal itu….”
“Jangan mengelak. Doi udah kayak cacing kepanasan ….”
“Mau ular kepanasan juga bukan urusanku….”
“Ka-kamu….”
“Siapa suruh….”
“Jangan menyiksa doi, dong!”
“Aku merasa nggak pernah menyiksa, kok.”
“Tapi….”
“Banyak cewek lain….”
“Tapi cuma kamu….”
“Udah deh, Yan. Aku nggak mau dengar kamu bilang cuma akulah satu-satunya cewek yang paling ‘dititik-titiki’nya sedunia. Puih! Gombal!”
“Kasihan Jason.”
“Cuma cinta monyet….”
“Asli doi suka kamu. Dan suer, doi nggak asal. Aku tau banget sifat Jason. Doi nggak mudah menyerah.”
“Semua cowok emang keras kepala!”
“Dan kamu keras hati. Ngapain, sih?”
“Tapi….”
“Sebenernya, kamu suka doi apa nggak, sih?”
Dea tergugu.
Jason?! Oh, please! Don’t killing me softly with his name!
 Namun, asli dia juga diam-diam suka cowok itu. Tapi jika ingat Bunda, dia jadi keder. Asli ngeper. Bukan kenapa-kenapa. Soalnya Bunda bawaannya angotan terus kalau ada ‘temen cowok’ yang main ke rokum. Sudah banyak kejadian. Terakhir yang kena getahnya adalah Glen. Malah, cowok itu sudah kapok. Bersumpah seumur-umur nggak bakalan nginjak rumput halaman rumah Dea lagi.
Ups! Menyakitkan banget!
“Dea….”
Tapi, itulah. Itulah kenyataan yang terjadi. Mereka, satu per satu hengkang dan menjauh dari sisinya. Memang nggak ada yang lebih nyakitin ketimbang nyaksiin cowok-cowoknya itu dimusuhi sama Bunda. Nggak ada kompensasi. Dea masih dianggap anak kecil oleh Bunda. Dea belum boleh pacaran. Dan, untuk saat ini sekolah merupakan nomor satu. So, jangan harap ada kesempatan untuk beromantis-romantisan ala Cinta dan Rangga seperti dalam film AAdC, Ada Apa dengan Cinta!
“Dea….”
Nyaris setiap hari Dea menumpahkan kekesalannya dengan menangis diam-diam di kamar. Baginya, Bunda kelewat otoriter. Dan kekecewaannya itu bertambah manakala melihat Ayah malah mendukung sikap sok kuasa Bunda meski nggak secara langsung.
“Dea….”
Ada sebuah tepukan yang mendarat di bahunya. Dea terkejut. Rupanya dia sudah lama melamun. Nggak mendengar panggilan Yani Wulandari beberapa kali tadi. Ada airmata yang menitik tanpa terasa di pipinya. Cepat-cepat disusutnya sebelum ketangkap oleh teman sebangkunya itu. Dilanjutkannya langkah selekas mungkin ke perpustakaan tanpa menghiraukan sepupu Jason itu.

***

Ada deringan telepon untuknya ketika Dea baru saja menyelesaikan suapan terakhirnya. Salah satu pembantu wanita mereka yang menyampaikan kepadanya. Mudah-mudahan bukan dari lawan jenisnya alias cowok, harap Dea dalam hati.
Tapi, apa yang diharapkannya jauh dari kenyataan.
“Selamat siang. Dengan Dea, ya?”
Gagang telepon yang menempel di telinganya nyaris jatuh!
“Yap. A-ada apa, Jason?” Dea gugup. Lagi-lagi, Jason!
 “Nggak papa. Cuma pingin ngobrol aja sama kamu.”
“Oh, kirain ada hal penting apa.”
“Yah, ada juga sih.”
Degh! Dea merasakan jantungnya copot! Pertama, karena ajakan Jason untuk nge-‘date’. Kedua, karena Bunda. Di akhir ajakan Jason tadi, tahu-tahu Bunda sudah berdiri di belakangnya seperti algojo yang siap penggal kepala!
“Dea… kamu masih denger aku nggak?!”
Dea nggak menggubris. Ditutupnya telepon dengan hati yang berkecamuk meski suara cowok itu masih bersalak di horn.
“Dari siapa?”
“Jason,” jawab Dea nggak berani menatap mata Bunda. “Temen sekolah. ”
“Dea, Bunda mau bicara.”
Dea manggut. Kerongkongannya terasa kering. Diikutinya langkah Bunda yang sedang menuju ruang keluarga dengan langkah memberat.
“Kemarin sore, sewaktu Dea ke Gramedia bersama Ayah, teman sekolah Dea datang,” Bunda bersuara setelah duduk di sofa panjang.
“Si-siapa, Bunda?” Dea duduk gelisah di samping Bunda. Ya, Tuhan! Jangan-jangan… Jason lagi!
“Yani. Yani Wulandari. Dia nyari Dea. Tapi, Bunda tahu kalau sebetulnya itu hanya alasan dia agar dapat bertemu dengan Bunda. Rupanya, ada hal penting yang hendak disampaikannya langsung kepada Bunda.”
Yani! Anak ganjen itu selalu aja buat masalah! maki Dea dalam hati.
“So-soal apa sih, Bunda?” tanya Dea tergagap, lalu menggigit bibirnya di akhir pertanyaan.
“Soal kamu, Sayang.”
“So-soal Dea?!”
“He-eh. Katanya, Dea kuper. Di sekolah, bawaan Dea murung melulu. Suka menyendiri. Sebagai temen, Yani pingin membantu mengatasi masalah-masalah Dea. Pikirnya, Dea pasti ada masalah dengan keluarga. Ada problem dengan Bunda, atau Ayah.”
“Ta-tapi….”
“Dea… Bunda tahu kalau selama ini, Dea mungkin marahan sama Bunda. Iya, kan?”
“Eng-nggak kok, Bunda,” dusta Dea tergagap.
Bunda menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Sesaat matanya terpejam sebelum bilang:
“Dea, Dea anak Bunda satu-satunya. Bunda sayang banget sama Dea. Bunda minta maaf kalau selama ini Bunda terlalu otoriter dan mengekang-ngekang hidup Dea.”
“Bunda….”
“Tapi, Bunda punya alasan berbuat begitu. Bunda nggak mau Dea bergaul sembarangan. Bunda pingin Dea kelak jadi wanita yang sukses. Seperti cita-cita Kartini, dan juga harapan Bunda.”
“Bunda….”
“Terus terang, Bunda takut Dea terjerumus ke dunia yang seharusnya nggak pantas untuk Dea. Pergaulan bebas. Dugem. Narkoba. Sungguh, Bunda nggak kepingin anak Bunda terjerumus ke dalam dunia yang salah!”
“Bunda!”
Nggak sadar Dea merangkul tubuh besar Bunda. Segenap kebencian yang sudah memendam lama di hatinya luruh seketika. Airmatanya menitik. Rupanya selama ini ada yang nggak diketahuinya tentang itikad baik Bunda.
Bunda ternyata sangat menyayanginya. Lebih dari segalanya. (blogkatahatiku.blogspot.com)