24 January 2014

TAK ADA HAL YANG SULIT JIKA INGIN BELAJAR

Ni Luh Eni Ermawati
Presenter SUN TV dan Penyiar Radio Suara Celebes FM
“Tak ada Hal yang Sulit Jika Ingin Belajar”

Foto: Effendy Wongso
Ni Luh Eni Ermawati, wanita cantik asal Pulau Dewata ini memulai kariernya di Makassar sebagai seorang penyiar. Saat ini ia merupakan presenter kenamaan salah satu TV swasta di Makassar, SUN TV. Selain itu, saat ini ia memiliki banyak kegiatan lainnya, di antaranya masih menyiar di radio Suara Celebes FM (SCFM), dan beberapa kegiatan Master of Ceremony (MC).
Wanita yang juga pernah berkarier di sebuah koran bisnis dan ekonomi ini mengaku sangat menikmati pekerjaannya. Selain sebagai presenter dan penyiar, ia juga tengan merambah dunia marketing.
Sebelum menjadi penyiar di SCFM, ia juga pernah menyiar di radio Bharata FM. Di Bali sendiri ia memiliki usaha pribadi dan sudah melakukan banyak kegiatan MC untuk berbagai acara. Bagi Ni Luh, demikian ia dipanggil, menjadi penyiar sudah menjadi hobinya.
“Sejak masih duduk di bangku SMA, saya sudah sering menjadi MC untuk acara-acara sekolah dan bahkan merambah keluar daerah. Setelah mendapatkan kesempatan untuk menjadi penyiar di Makassar, saya pun mengambil kesempatan itu,” demikian tambahnya.
Ia pertama kali merambah dunia penyiaran saat mengikuti audisi penyiar di radio Bharata sebagai news caster dan akhirnya diterima. Akan tetapi kurang lebih dua bulan, ia memutuskan untuk berhenti sejenak, dan mendapatkan tawaran lagi sebagai penyiar di SCFM.
“Awalnya saya memang tidak berniat untuk melamar, namun hanya mengantarkan teman. Akan tetapi, pada akhirnya saya juga memutuskan untuk mencoba mengikuti audisi tersebut, dan setelah melakukan ‘take voice’, akhirnya saya diterima sebagai penyiar di SCFM sampai sekarang,” ujar gadis yang hobi traveling dan dengar musik ini.
Ditambahkannya, ia tidak menemui kendala yang berarti selama menjadi penyiar karena memang menyiar adalah hobinya. Jadi semuanya akan ia nikmati dan dibawa santai.

Nyaris Putus Asa

SCFM sendiri adalah radio yang menyajikan 75 persen berita dan 25 persen hiburan, yang pada awalnya dirasakan Ni Luh sangat berat sampai sempat merasa bahwa dirinya tidak mampu. Ia pun menceritakan sedikit pengalaman saat ia siaran, di mana di tengah siaran ia menerima SMS dari seorang pendengar yang menuliskan bahwa ia tidak cocok menjadi seorang penyiar.
“Saat itu saya sempat dibuat putus asa. Akan tetapi sebagai orang yang mau terus belajar, saya menanggapi kritikan tersebut sebagai sesuatu yang membangun, dan mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa orang yang memberi kritik ataupun saran adalah orang yang mau melihatnya maju,” dalihnya sembari mengurai senyum manis.
Pemikiran positif tersebutlah yang terus membawanya untuk selalu belajar dan belajar lebih baik. Ia mengatakan bahwa alasannya memilih radio yang acaranya didominasi oleh berita adalah karena memang ia adalah tipe orang yang suka dengan informasi seperti membaca dan mendengarkan berita.
“Jika ingin belajar maka tidak ada hal yang sulit. Itulah hal yang membuat saya ingin terus belajar, dan sampai sekarang masih tetap belajar. Di radio news memang yang diuji adalah kemampuan intelektual, namun semuanya kembali kepada proses belajar,” ungkapnya.

Tidak Boleh Egois

Latar belakang pendidikan Ni Luh sendiri adalah bahasa Inggris, dan dunia jurnalistik baru dirasakannya saat masuk dalam dunia penyiaran. Menyoal dunia kepenyiaran, hal yang penting sebagai seorang penyiar adalah bahwa ia harus tahu bahwa saat menyiar, bukan telinga “kita” yang mendengar akan tetapi telinga orang lain.
“Jadi seorang penyiar tidak boleh egois karena apa yang menurut kita sebagai penyiar baik, belum tentu baik bagi orang lain atau pendengar. Seorang penyiar juga harus mau terima masukan dan harus mau banyak belajar. Jadi, seorang penyiar harus mau menerima saran dan kritik, baik itu positif ataupun negatif dari pendengar karena mereka yang mendengarkan siaran,” urai wanita kelahiran Bali, 18 November 1986 ini.
Menurutnya pula, kritikan atau saran yang sedikit “negatif” ia tanggapi sebagai sesuatu untuk membangun dirinya agar lebih baik, dan untuk yang “positif” ia gunakan sebagai hal untuk memacu diri agar bisa lebih baik lagi.
“Di SCFM saya memegang program Seven to Nine yang rutin mengudara setiap hari mulai Senin hingga Sabtu. Sementara itu, di Minggu pagi saya memegang program Good Morning Sunday,” jelas Ni Luh.
Menyudahi perbincangan dengan KATA HATIKU, wanita low profile ini berharap agar remaja yang ingin maju harus terus belajar sebab tidak ada yang sulit jika ingin belajar. (blogkatahatiku.blogspot.com)