31 January 2014

Suatu Hari di Fashion Cafe

BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
Suatu Hari di Fashion Cafe
Oleh Anita Anny

“Nama Kakak Eyang, ya?”
Saya mengangguk. Sekilas menatap wajah tirus yang mengarah begitu dekat ke pipi kanan saya. Saya meneruskan mengawasi panggung.
“Lho, kok Eyang sih?”
“Memangnya kenapa?”
Dia tersenyum. Samar. Lalu menggeleng pelan. “Nggak apa-apa,” begitu jawabnya. “Cuma aneh.”
“Lha, kok aneh?” Kali ini saya menatapnya serius. Cowok ceking itu sudah terkekeh. Bahunya bergetar hebat. Tapi dia sama sekali tidak meledek saya. Saya tahu, seperti orang-orang yang baru mengenal saya, mereka pasti akan menertawakan nama saya. Eyang.
“Eyang kan, artinya….”
“Nenek-nenek!” ketus saya, menyalibi.
 Bagaimanapun juga, saya tidak dapat menutupi perasaan saya. Saya bosan ditanyai-tanyai tentang nama saya yang kedengaran aneh di telinga orang lain. Padahal, apa sih jeleknya nama Eyang itu?! Bagi saya, itu merupakan nama terbaik dan terindah sedunia. Iya, sedunia! Karena menurut Mama, nama Eyang punya makna yang dalam. Formalnya sih, sakral. Ah, saya tidak tahu pasti. Karena nama tersebut sudah dilekatkan kepada saya sejak  saya masih orok. Tentu saja saya tidak boleh protes, menolak, atau demo pada orangtua saya yang notabene memberi saya nama yang tidak lazim. Iyalah, masa sih saya harus menggelar poster atau spanduk antinama seperti  pada saat maraknya mahasiswa-mahasiswa se-Indonesia menyuarakan reformasi! Kalau iya, Mama dan Papa, juga Oom Bayu, adik Mama pasti akan terkekeh alias terkikik ala kuntilanak seperti kalau sedang nonton program acara lawak di stasiun TV.
Eyang, Eyang! Kamu ini sedang ngelawak atau apa, sih? begitu pasti kata mereka, lantas meneruskan tawa yang sama sekali tidak sedap di pendengaran saya.
Pufh!
Lalu, saya harus bagaimana dong?! Mencak-mencak hanya gara-gara sebuah nama?! Huh, bukankah ada pepatah  mengatakan: ‘Apalah artinya sebuah nama?!’. So, nama itu tidak, atau paling tidak, tidak menjadi masalah buat saya. Lalu, kenapa dipersoalkan?! Lha, kalau Komnas HAM sampai tahu hanya gara-gara sebuah nama dibesar-besarkan, mungkin mereka akan mengirimkan duta atau wakil untuk mengusut tuntas kasus ‘nama’ tersebut. Iyalah. Soalnya perkara sepele itu kalau dikipas-kipas atau dikompor-komporin terus kan,  mengganggu kebebasan ber-‘nama’. Itu berarti mengganggu aktivitas sehari-hari. Tidak enak dibawa kerja. Tidak enak dibawa makan. Tidak enak dibawa tidur. Tidak enak dibawa melamun. Tidak enak de-el-el  de-el-el. Pokoknya, tidak enak segala-galanya. Persis kalau orang lagi sakit gigi!
Tapi memang dasar. Orang-orang sih biasanya punya sifat laten yang tidak terpuji. Sudah dari sononya. Dan kebiasaan tersebut, yang acap kali dikasih nama hobi itu tidak lain dan tidak bukan adalah: G-O-S-I-S-P!  Singkatan dari, Digosok-gosok Semakin Sip! Padahal mereka tidak tahu bahan obyekan yang digosok-gosok itu bisa senewen. Dosa, tahu! Tapi, apa mereka sadar bahwa ngegosip itu juga merupakan dosa?! Apa mereka tidak tahu kalau si korban gosip itu bahkan tertekan jiwanya kayak memikul sembako sekian puluh ton?! Apa mereka tidak punya nurani untuk melihat bagaimana sengsaranya si korban gosip itu?! Hah, dikiranya yang menderita hanya korban PHK pabrik-buruh-kasar yang  pada akhirnya bisa makan nasi-tiwul?!
Kayak artis saja. Tiap hari digosipin. Apalagi kalau bukan persoalan nama: E-Y-A-N-G?! Iyalah. Eyang Sastrowijoyo sekian tahun ini tidak kalah pamornya sama selebritis. Tidak kalah gemerlapnya dengan para bintang yang mukanya sering nongol di layar kaca. Tidak kalah larisnya dibandingkan film Titanic yang kesohor itu. Paling tidak, nama Eyang bisa disejajarkan sama ketenaran Kate Winslet!
Oke, oke. Berbalik dari kekesalan yang bikin nyut-nyut kepala dan bikin senut-senut gigi saya, semua perihal nama itu ada juga hikmahnya. Saya bisa jadi lebih sabaran. Tidak suka misuh-misuh kayak dulu lagi. Mau marah-marah gimana? Apa harus nabok orang atau kenalan baru saya yang mempersoalkan nama saya itu?! Atau, apa saya harus menuntut mereka ke pengadilan lantaran bawa-bawa nama saya yang kedengaran aneh itu?! Apa saya harus nyewa pengacara top OC Kaligis atau Adnan Buyung Nasution untuk menyeret mereka ke bui?! Hihihi… apa kata dunia? Lelucon terbesar abad ini!
“Kak Eyang…!”
Kata Mama, nama Eyang sengaja dipilih di antara nama-nama lain semisal Susi, Wati, Siti, de-el-el de-el-el. Karena nama Eyang sudah diperhitungkan matang-matang. Diperhitungkan menurut primbon dan kerabat-kerabatnya. Konon, untuk mendapatkan nama buat saya, Mama sampai mutih selama seminggu. Ah, tauk-lah. Kalau Mama mutih, pastilah Papa ngitem.
Ya, itulah. Demi sebuah nama. Kata Mama lagi, Eyang dipilihkan kepada saya supaya saya dapat menjadi eyang-eyang alias nenek-nenek alias panjang umur. Supaya saya nantinya dapat beranak-pinak sampai cicit.
“Kak Eyang…!”
“Oups…!”
“Ngelamunin siapa, sih?”
Cowok ceking itu menatap saya terpaku. Saya tidak menyangka kalau pikiran saya bisa ngelencer jauh begitu.
“Ngelamunin pacar saya!” jawab saya, mencoba menutupi kekikukan saya.
“Pasti special.”
“Martabak kali.”
Dia tertawa.
“Kak Eyang….”
“Apa?”
“Pacarnya ganteng, ya?”
“Kalau nggak ganteng mana saya mau?”
“Oya?”
“He-eh.”
“Asli?!” Dia mengacungkan jarinya menggambarkan suer.
“Apa saya pernah bohong sama kamu?” balas saya.
Dia menggeleng dengan lugunya. Saya tertawa, nyaris ngakak. Dia menatap saya terheran-heran. Heh, tentu saja saya tidak pernah berbohong kepadanya. Wong saya baru kenalan dengan dia pagi tadi, kok. Meski dia ngaku sudah mengenal saya lama sebagai kakak kelasnya, tapi saya sendiri kan tidak kenal sama dia. Memangnya Arjuna Arief Santoso yang sebenarnya berembel-embel Raden itu seleb apa?!
“Kenapa ketawa, Kak Eyang?”
“Kamu lucu,” sahut saya agak kecentilan. “Kamu bisa jadi pelawak.”
“Pelawak?”
“Yap. Seperti Tukul Arwana, Basuki, atau Timbul.”
Saya sudah ngakak. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan tawa saya yang sebenarnya tidak sopan itu. Malah dia menyembulkan senyum simpatik. Saya katakan simpatik karena, dia berusaha menutupi giginya yang notaris (nongol tapi sebaris) itu. Paling tidak, dia memahami etika ketawa yang baik. Tidak seperti saya yang, meski gadis dari kalangan baik-baik, kalau ketawa kadang-kadang gulingan di lantai.
“Saya nggak suka mereka,” urainya setelah meredakan tawa kecilnya.
“Lho, kenapa?” tanya saya dalam nada bergurau. “Jelek-jelek gitu mereka tajir, lho?  Lihat, gimana larisnya mereka sebagai bintang iklan….”
“Kalau boleh memilih, saya lebih memilih Mr Bean,” salibnya serius.
“Kenapa Mr Bean?”
“Nggak kenapa-kenapa. Cuma dia nggak sekadar melucu.”
“Maksud kamu apa?”
“Dia nggak melucu tapi lucu.”
“Maksud kamu….”
“Kak Eyang lihat, Mr Bean itu lucu karena keluguannya. Ketidaktahuannya. Bukan karena ketololannya, atau kebodohannya. Kadang-kadang kita tertawa karena, sebenarnya kita menertawakan diri kita sendiri.” Arjuna Arief Santoso itu bicara panjang-lebar berdiplomasi.
Huh-huh! Saya mulai sebel. Dia sok menggurui.
“Kadang-kadang, Kak Eyang, saya nggak ngerti gimana jalan pikiran kita,” si Tiang Listrik berjalan itu mulai lagi dengan kalimat-kalimat filosofinya. Pantas, sebelum berkenalan dengan dia, Rini, teman sebangku saya di kelas, sempat membisiki saya kalau yang namanya Arjuna Arief Santoso orangnya rada-rada ‘begini’, begitu katanya sembari memiringkan jari telunjuk di jidatnya. “Setelah terpenuhi ini, ya mau itu. Setelah terpenuhi itu, ya mau ini lagi. Manusia, ya kita-kita ini Kak Eyang, nggak ada puas-puasnya. Dapat seratus mau seribu. Dapat sejuta mau semiliar. Begitu seterusnya. Nggak ada habis-habisnya. Nggak ada putus-putusnya. Seperti kereta api yang punya seabrek-abrek gerbong. Kalau keinginan atau cita-cita tersebut nggak kesampaian, maka kita-kita pada ngamuk, ngambek, nangis, cengeng kayak balita. Seharusnya kita belajar sama Mr Bean. Dia selalu, bukan selalu ya, tapi mensyukuri apa yang diperolehnya. Dapat ini, ya dia bersyukur tanpa neko-neko.”
Saya jengkel, tapi sedikit terpikat untuk menyanggah. “Tapi, memang manusia begitu kok. Punya naluri untuk berkembang. Nggak cepat merasa puas. Kalau manusia cepat puas seperti Mr Bean gambaranmu itu, berarti dia bukan manusia. Tapi malaikat.”
Dia menggeleng. “Manusia adalah manusia. Malaikat adalah malaikat. Kalau manusia nggak punya rasa syukur, itu berarti manusia nggak ada bedanya dengan mobil tanpa rem. Nah, Kak Eyang, bayangkan deh kalau mobil itu nggak memiliki rem. Nabrak sana nabrak sini kalau nggak nyungsep ke jurang.”
Saya terperangah. Sama sekali nggak menyangka kalimatnya akan ‘mengena’ begitu. Iya, apa bedanya manusia macam begitu dengan mobil tanpa rem?! Jujur, saya banyak melihat manusia jenis yang digambarkan Arjuna. Bahkan, bagi saya, manusia-manusia jenis itu tidak ada bedanya dengan kanibal. Pemakan manusia. Tidak salah kalau ada pepatah miris yang mengatakan bahwa, ‘manusia merupakan serigala bagi manusia lainnya’!
“Kak Eyang….”
“Eh, apa?” Saya belum berhasil menguasai keterkejutan saya.
“Saya mau berterus terang sama Kak Eyang. Boleh?” Dia menatap saya serius. Dengan sorot matanya yang ganjil.
“Boleh,” angguk saya.
“Saya mencintai Kak Eyang!”
Saya tiba-tiba pingin ketawa. Kalau bisa, terbahak-bahak. Tapi itu  tidak saya lakukan. Sebab, dia, Arjuna Arief  Santoso, telah mengajari saya sesuatu tentang kejujuran.
“Saya sudah lama naksir Kak Eyang. Sejak hari pertama MOS. Kak Eyang ingat, waktu itu Kak Eyang merupakan salah satu panitia.”
Saya menelan ludah saya dengan susah payah. Dari pingin tertawa tadi tiba-tiba menjadi pingin menangis.
“Kak Eyang nggak marah, kan?”
Saya menggeleng. Perlahan berdiri dan meninggalkan dia duduk sendiri dengan wajah berharap-harap cemas. Hari ini saya telah mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga tentang kejujuran. Salah satu sisi putih hati manusia.
Boleh jadi Arjuna adalah orang sinting seperti yang dikatakan Rini pada saya. Boleh jadi. Tapi bagi saya, keterusterangannya kepada saya itu telah mewakili sifat bijak yang sudah jarang dimiliki oleh orang-orang.
Saya tinggalkan Fashion Cafe dengan hati baur. Arjuna menirus dalam pandangan saya. Dia bergabung dengan teman-teman lainnya yang tengah menata dekorasi panggung untuk acara perpisahan sekolah nanti malam. Wajahnya seperti bayi tanpa dosa.