06 January 2014

STREET FASHION BUSINESS (1)

BUSANA KONTEMPORER YANG KIAN DIGANDRUNGI

Foto: Effendy Wongso
Bisnis fashion telah melahirkan busana kontemporer yang bukan lagi kebutuhan sandang yang sekadar disandang, akan tetapi telah menjadi gaya hidup kaum urban, bahkan di sebagian pelosok pedesaan sekalipun. Mungkin ini terasa naif, namun itulah realitas dari perpaduan bisnis dan gaya hidup yang menggurita.
Beberapa waktu lalu, kita mengenal gaya high-end, namun sekarang style tersebut mendapat persaingan ketat dengan adanya paham street fashion yang semakin digilai para fashionista. Selain unik, para street styler memang mengesankan gaya yang “uber cool”.
 Street fashion atau secara harfiah diartikan sebagai gaya jalanan, tanpa disangka-sangka sekarang malah menjadi suatu style yang “booming” dan bisa jadi setara dengan gaya high fashion. Para penganut street fashion juga tidak terbatas dari kaum mainstream seperti selebritis, musisi atau para sosialita saja. Orang-orang biasa, mulai dari pelajar SMA, mahasiswa, pekerja kantoran, ibu-ibu dan anak-anak mereka menyenangi gaya yang satu ini.
Street fashion memang milik siapa saja, tidak memikirkan umur, etnis, atau gender seseorang. Hebatnya lagi, gaya ini juga bisa diaplikasikan setiap saat tanpa peduli akan tren yang sedang berlaku atau tanpa mengacu pada “what’s in and what’s out” dalam dunia fashion. Artikan saja street fashion sebagai gaya yang bebas berekspresi, yaitu gaya khas dari tiap individu yang dapat mencerminkan “personality” masing-masing pemakainya.
Street fashion semakin berkibar namanya setelah diekspos oleh Scott Schuman, seorang pekerja fashion asal New York, yang sekarang mendedikasikan dirinya menulis dan memotret para street styler dalam blog pribadinya bertajuk “The Sartorialist”. Schuman berhasil membuktikan bahwa gaya jalanan memang universal lewat foto-foto yang didapatnya dari bermacam kalangan di berbagai belahan dunia.
Balik lagi kepada street fashion, walaupun gaya ini terlihat di jalanan dan bukan di atas runway, jangan anggap gaya ini gaya yang asal-asalan atau tidak berkelas sama sekali. Sebaliknya, street fashion tetap merupakan gaya yang fashionable, unik, penuh individulisme, dan membutuhkan “high sense of fashion” yang cukup tinggi. Namun karena dunia street fashion memang tak terbatas, maka sah-sah saja jika seseorang ingin menampilkan identitas diri mereka lewat gaya berpakaian yang seekstrim mungkin.
Dalam street fashion, tidak akan aneh jika seorang pelajar tampil bagai pelangi dengan warna-warna yang menyilaukan, atau seorang laki-laki santai di taman yang terlihat seperti sedang menuju pemakaman karena pakaian hitam-hitam yang ia kenakan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tidak menutup kemungkinan juga para street styler adalah orang lanjut usia yang masih “melek” dengan setelan yang retro-modern. Bagaimanapun juga itulah street fashion, dan gaya ini tidak akan kalah dengan gaya para bintang Hollywood sekalipun.
Lebih serunya lagi, “gaya jalanan” ini memang seolah mendorong para individu untuk mendahului ego mereka, terutama dalam hal berpakaian. Setiap orang, siapapun ia, bebas memakai apapun yang mereka inginkan. Vintage dresses, celana jeans belel, boots setinggi lutut, semuanya tidak menjadi masalah. Selama gaya mereka terlihat fashionable dan unik, maka label street fashionista patut diberikan kepada mereka.
Jika beruntung, seorang seperti Scott Schuman bisa jadi akan mengabadikan gaya mereka, menampilkan mereka di blognya, dan mereka pun menjadi salah satu dari para Sartorialist (sebutan untuk para street styler yang berasal dari nama blog Schuman tersebut). Untuk menjadi street fashionista, seseorang juga tidak perlu menyerah sepenuhnya kepada brand-brand terkenal hasil karya para desainer ternama.
Para penganut street fashion malah dengan berbangga hati menggabungkan desain brand dengan barang-barang second hand mereka. Street styler tidak akan malu memadukan tas mahal keluaran Marc Jacobs atau Hermes dengan vintage dress tanpa merk atau sepatu kasual macam Converse. Pastinya, “A Good Sense of Fashion” tetap dibutuhkan agar paduan gaya itu tetap stylish.(blogkatahatiku.blogspot.com)