07 January 2014

SOSIALISASI PERBANKAN SYARIAH

ASBISINDO SULSEL GELAR TALKSHOW DI BANK INDONESIA

Foto: Effendy Wongso
Sebagai upaya membangkitkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terkait ekonomi Syariah, manajemen Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar talkshow sosialisasi program Gerakan Ekonomi Syariah (Gres) yang bertempat di Gedung Bank Indonesia (BI) Makassar.
Gres merupakan program Asbisindo yang dibahas dalam talkshow yang mengambil tema “Asyiknya Berekonomi Syariah”, dihadiri masyarakat umum serta beberapa perwakilan perbankan syariah di Sulsel. Adapun yang membawakan materi yakni Muhammad Syakir dan Halide selaku ekonom dan perwakilan dari BI sendiri.
Ketua Asbisindo Abdul Gaffar Lewa dalam pemaparannya, mengatakan sangat mengapresiasi adanya program  tersebut, yang dapat menjadi referensi untuk memahami lebih dalam tentang ekonomi Islam (syariah).
“Kami berharap, kedepannya masyarakat menyambut antusias program ini dan akan menjadi referensi pemahaman lebih dalam mengenai ekonomi syariah,” jelasnnya di Lantai 4 Gedung BI, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Rabu (18/12/2013) lalu.
Sementara, dihubungi terpisah, Kepala Divis Asisten Manajemen Ekonomi dan Keuangan BI, Noor Yudanto, mengatakan bahwa dari sisi kelembagaan, kelemahan utama Bank Unit Syariah (BUS) adalah dalam informasi  teknologi (TI) dan sumber daya insani (SDI). Ini bila dibandingkan bank umum atau konvensional lainnya, seperti dari sisi produk yang belum terlalu dipahami oleh masyarakat.
“Berbagai jenis produk memiliki kelemahan dan keuntungan masing-masing, misalnya equity financing yang salah satunya dikenal dengan musyarakah atau mudharabah. Nah, kalau dua usaha ini dibiayai dan dikelola dengan baik, maka return (bagi hasil) akan tinggi dan sebaliknya akan buntung alias merugi bila tidak representatif pengelolaan usaha yang dibiayai,” terangnya.
Sedangkan dari sisi debt financing (jual beli) nasabah bank syariah ini, Yudanto mengungkapkan akan lebih untung karena tidak perlu ada dana dulu. “Ya, ini karena bank yang belikan barang yang diperjanjikan, dan nasabah mengembalikan setiap bulan pokok plus marginnya,” sebutnya.
Diungkapkan, bagi umat muslim sistem bank syariah ini sangat baik karena semua aktivitas dikelola beradasarkan prinsip syariah yang meniadakan riba. “Tetapi, bagi non-muslim juga bermanfaat karena ini bukan  akidah yang hanya khusus bagi muslim namun sistem. Jadi, semua kita kembalikan kepada nasabah untuk memilih, mau di bank umum konvensional atau di bank syariah,” tandas Yudanto. (blogkatahatiku.blogspot.com)