11 January 2014

Sop Ubi Datu Museng

SOP UBI - Sebelum warung makan Sop Ubi Datu Museng berdiri di era 1950-an, sop ubi adalah makanan tradisional khas Makassar yang tidak terlalu populer. Jangankan di luar kota, masyarakat Makassar sendiri pun masih banyak yang asing dengan masakan yang satu ini. BLOGKATAHATIKU/IST
Sop Ubi Datu Museng
Kuliner Turun Temurun Khas Makassar

BLOGKATAHATIKU - Sebelum warung makan Sop Ubi Datu Museng berdiri di era 1950-an, sop ubi adalah makanan tradisional khas Makassar yang tidak terlalu populer. Jangankan di luar kota, masyarakat Makassar sendiri pun masih banyak yang asing dengan masakan yang satu ini.
Padahal, sop ubi merupakan salah satu kuliner tradisional dengan bahan ubi kayu atau singkong yang mudah diperoleh di Makassar pada waktu itu. Lambat laun, dengan kehadiran Sop Ubi Datu Museng, makanan berkuah mirip soto ini mulai dikenal, khususnya masyarakat Kota Makassar. Dengan kombinasi berbagai macam bahan seperti bihun, telur, irisan daging, tauge, kacang tanah, dan sebagainya, Sop Ubi Datu Museng pun menjadi salah satu “ikon” kulier di Kota Anging Mammiri ini.
Warung makan Sop Ubi Datu Museng,yang dulunya terletak di dalam lorong ini awalnya dirintis oleh H Abd Rasyid Dg Gassing, kemudian dilanjutkan oleh anaknya Hj Habiba Dg Sibo yang sekarang dikelola oleh anaknya, Husain yang berada di Jalan Bontolempangan, Makassar.
Meskipun dulu letaknya di sebuah gang sempit, namun usaha turun temurun ini sudah memiliki banyak pelanggan, dan senantiasa meramaikan tempat tersebut. Kini warung yang telah berpindah alamat di Jalan Bontolempangan Makassar ini telah memiliki tempat yang strategis. Sebelumnya Sop Ubi Datu Museng ini telah membuka cabang di Trans Mall Makassar (TSM), dan sebuah cabang di Kampus Universitas Hasanuddin, Makassar.
“Sebelumnya, kami juga buka cabang di Jalan AP Pettarani dan Jalan Perintis Kemerdekaan, tetapi berhubung lokasinya tidak memadai dan kurang tempat parkir, jadi terpaksa ditutup,” ujar Husain ketika ditemui beberapa waktu lalu di tempatnya berjualan.
Penampilan hidangan ini cukup sederhana. Disajikan di piring cekung, bukan di mangkuk layaknya makanan berkuah lainnya. Porsinya cukup mengenyangkan untuk makan siang maupun makan malam.
Nona Rika, salah seorang pengunjung berdarah Tionghoa mengakui keunggulan citarasa dari Sop Ubi Datu Museng ini. “Saya menyukai Sop Ubi Datu Museng ini karena rasanya nasional sekali. Bagi saya, kuah sopnya secara karakteristik seperti soto, dan inilah yang membedakan Sop Ubi Datu Museng dengan sop ubi-sop ubi lainnya. Apalagi, harga makanan lezat ini juga tergolong cukup murah yakni Rp 15 ribu per porsi,” terangnya.
Meskipun warung makan Sop Ubi Datu Museng ini telah 52 tahun berada di dalam lorong, akan tetapi tidak pernah sepi dari pengunjung, mulai pegawai kantoran, birokrat, maupun masyarakat Kota Makassar sendiri. Bahkan, para pecinta kuliner lainnya seperti turis dan ekspariat.
“Bahkan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin dan Wakil Wali Kota Soepomo Guntur pun menjadikan warung makan ini sebagai tempat favorit kuliner mereka,” ungkap Husan.
Selain itu, sambungnya, banyak pejabat pemerintahan yang mampir ke warung makannya, dan komentar mereka rata-rata memuji kelezatan Sop Ubi Datu Museng racikan temurun keluarganya.
Menyoal omset, Husain mengaku mampu meraup hingga Rp 90 juta per bulan. “Untuk bahan dasar ubi sendiri, kami menghabiskan 50 kilogram per harinya. Sedangkan telur, kami bisa menghabiskan hingga lima krak per harinya,” bebernya.
Selain menjual sop ubi, Sop Ubi Datu Museng juga menyediakan beraneka minuman seperti jus dan teh manis. Warung makan ini buka jam 07.00 Wita hingga 22.00 Wita.