04 January 2014

SEMUA DI TANGAN TUHAN

Oleh Monita Gunawan

Foto: Dok KATA HATIKU
Umur, jodoh, rezeki, dan pembantu. Semua di tangan Tuhan. Ya, tiga tahun lalu saya masih tersenyum maklum dan ikut prihatin saat banyak orang mengeluh tetang kehilangan pembantu rumah tangga (PRT) karena saya memiliki tiga orang yang bisa saya andalkan.
Setidaknya saya berpikir begitu sampai saya menemukan kedahsyatan-kedahsyatan manipulasi yang mereka lakukan. Mulai dari meninggalkan rumah tanpa pamit saat saya berlibur, lalu berwajah manis menyambut kedatangan kami pulang, hingga penggelapan uang belanja serta mengumpulkan para pria di depan rumah. Selesailah sudah.
Setiap orang pasti tak luput dari dosa dan kesalahan. Hei, saya juga berbohong dan tidak selalu berbuat baik. Tetapi pasti ada yang salah dalam penataan pengawasan dan pengaturan PRT ini. Saya harus berbenah diri. Singkat cerita, setelah bersusah payah menelepon para makelar atau yayasan penyalur, menitip sana menitip sini, saya mendapatkan dua orang PRT yang saya (sekali lagi) kira dapat diandalkan. Lalu saya melakukan reshufle susunan tugas, sistem cuti, fasilitas, serta mempermanis gaji.
Saya masih mencari satu orang PRT lagi untuk membantu menjemput anak-anak saya pulang sekolah, serta mengantar mereka mengikuti kegiatan lain,  saat kedua orang PRT itu menegaskan bahwa mereka cukup berdua saja. Mereka bisa menangani semua secara bergiliran, katanya. Tentu, saya senang.
Masa-masa bulan madu hanya berlangsung dua bulan, karena setelah itu salah satu dari mereka minta pulang karena tidak sanggup. Terlalu lelah, katanya. Saya mengusulkan mencari satu orang lagi, jika itu adalah latar belakang masalahnya. Tetap ia bersikukuh untuk pulang, dan PRT satunya juga ikut pulang. Usut punya usut, ternyata mereka tidak cocok dengan ibu mertua saya, di mana rumah beliau adalah tempat persinggahan setelah anak-anak saya pulang dari sekolah untuk menunggu dan beristirahat sebelum kegiatan les dilakukan.
Menurut saya alasan itu mengada-ada karena kalau dihitung secara jam, praktis mereka hanya sekitar tiga jam di sana, dan tidak mungkin saya tidak menitipkan anak-anak di sana karena sebagai wanita pekerja, ibu mertua saya adalah pahlawan dalam mengawasi dan membantu menyelesaikan masalah jika ada. Juga letak rumah beliau sangat strategis, jadi anak-anak memiliki lebih banyak waktu ketimbang harus pulang ke rumah. Kalau mereka salah, memang harus ditegur, kan?
Kembali proses pencarian PRT berlanjut. Kali ini saya kembali melakukan refleksi diri, apa saja yang kurang. Akhirnya, saya memutuskan bahwa kedua orang PRT yang saya dapat hanya untuk mengurus rumah. Anak-anak saya akan ditemani oleh PRT ibu mertua saja. Mengenai antar jemput, bisa dibantu oleh sopir dan sesekali saya meluangkan waktu menjemput mereka. Toh, sekaligus melatih anak-anak agar mandiri.
Karena hanya mengurus rumah dan berdua, pekerjaan yang dilakukan otomatis lebih cepat selesai. Mereka memiliki waktu luang untuk menonton televisi dan berisitirahat lebih lama. Segala sesuatu berjalan bak komposisi musik yang harmonis. Saya bisa bernapas lega. Tetapi ternyata Tuhan masih sayang sama saya. Tuhan tidak mau saya terlalu berleha-leha lalu menjadi gemuk. Semalam mereka bilang akan berhenti kerja dan pulang besok pagi  jam enam pada waktu itu. Saya kaget, ada apa? Mereka bilang tidak ada apa-apa. Saya minta mereka menunggu hingga saya dapat ganti karena saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya begitu saja. Saya juga tidak mau memaksa bekerja orang yang memang sudah tidak mau bekerja kepada saya. Mereka tetap enggan untuk tinggal sementara saya mencari pengganti.
Saya bingung bukan kepalang. Apa lagi yang salah? Menurut ukuran saya, hasil bench-marking dengan teman-teman lain, fasilitas dan kelonggaran yang saya berikan sudah cukup memadai. Cuti sebulan sekali, izin keluar, lauk pauk (telur dan daging), camilan, bahkan perlengkapan mandi mereka juga saya sediakan. Juga, saya bukan tipe wanita cerewet.
Ah, akhirnya saya menyimpulkan sendiri saja bahwa saya hanya bisa berusaha menjadi majikan sebaik mungkin. Semua ada yang mengatur (melirik ke atas). Mungkin memang belum jodoh saya menemukan PRT yang baik, dan belum rezeki mereka memiliki saya sebagai majikan mereka.
Zaman sudah jauh berubah. Mungkin suatu hari nanti hanya akan ada majikan. Tidak ada pembantu. Salah seorang teman baik saya memberi semangat: Pulang? Cari lagi! Cari terus!  Dan putri bungsu saya bertanya dengan polosnya: Memangnya Mama perlu, si Mbak?
Sebuah pertanyaan yang perlu saya pikirkan masak-masak jawabannya. (blogkatahatiku.blogspot.com)