07 January 2014

SEBUAH LANGKAH KECIL BAGI KEMANUSIAAN

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Foto: Effendy Wongso
Kelaparan di Afrika membuat paling tidak 20 persen rumah tangga menghadapi kekurangan pangan yang ekstrem, kekurangan gizi yang akut pada lebih dari 30 persen penduduk, dan dua kematian untuk setiap 10 ribu orang setiap hari.
Tagline di atas dirilis oleh Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) atau Kantor PBB bagi Koordinasi Masalah Kemanusiaan, dalam salah satu laporan yang disiarkan pada beberapa waktu lalu, yang saya kutip dari Kompas.com. Dalam lanjutannya, OCHA juga mengungkapkan bahwa kelaparan yang melanda daerah-daerah Somalia selatan pada waktu itu, kemungkinan akan meluas dalam beberapa hari ke depan, dengan situasi terus memburuk kendati ada usaha-usaha bantuan internasional.
Sementara itu, jumlah terbaru yang dilansir, menurut The Food Security and Nutrition Analysis Unit (FSNAU) atau Satuan Analisis Keamanan Pangan dan Nutrisi, orang-orang dengan kekurangan gizi akan segera bertambah, dan mereka memperingatkan bahwa hampir seluruh daerah selatan bisa menghadapai kelaparan.
Sekitar 12,4 juta  orang di negara-negara Tanduk Afrika termasuk bagian-bagian dari Ethiopia, Djibouti, Kenya dan Uganda terkena dampak musim kering yang terburuk dalam puluhan tahun di wilayah itu dan diperlukan bantuan kemanusiaan.
Berita tersebut tentu membuat kita miris, bahwa betapa di belahan dunia lain jauh dari tempat kita yang nyaman ternyata masih banyak orang dengan nasib yang kurang beruntung. Akan tetapi musabab yang melelatu tersebut tetap berinti pada hal yang sama, bahwa perang yang ananik telah mengenyahkan rasa kemanusiaan segelintir komunal.
Hal itu digambarkan oleh PBB, Somalia, tempat perang saudara berlangsung sejak 1991 menghadapi krisis kemanusiaan paling parah di dunia. Kelompok gerilyawan Ash Shabaab, yang memiliki hubungan dengan Al Qaeda, mundur dari posisi mereka di Mogadishu awal Agustus, tetapi terus melarang bantuan masuk ke daerah-daerah yang mereka kuasai di wilayah-wilayah selatan yang dilanda kelaparan itu.
Dari hasil pantauan PBB, sebanyak enam puluh persen anak-anak mengalami malnutrisi akut. Jumlah pasti mengenai angka kematian belum bisa dihitung, namun sepuluh ribu orang telah mati dalam jangka waktu tiga hingga empat bulan setelah pandemik kelaparan masif melanda hingga September lalu. Lebih dari setengah angka itu adalah anak-anak, dan numerik maut tersebut menunjukan setiap hari seratus orang mati lantaran kelaparan. Kombinasi dari kekeringan, perang, pengadangan bantuan kemanusiaan, dan kekacauan yang berlarut-larut membuat empat juta warga Somalia, khususnya anak-anak, mengalami krisis. Hasil pertaniannya pun hanya seperempat dari normal sehingga harga bahan pangan melonjak sangat tajam.
Namun di balik volatilistik kehidupan yang keras, ternyata masih ada suara angelis yang menyerukan bantuan bagi orang-orang yang kelaparan di Somalia. Saya memahami, ini sebagai sebuah upaya kecil selaksana setetes air di gegurun, tetapi esensi itu dapat mencetus kebajikan berantai di seluruh dunia agar kita dapat mengulurkan tangan untuk menyelamatkan banyak nyawa, khususnya anak-anak di Afrika.
Adalah postingan sebuah foto yang menyayat hati, di mana dalam foto itu tampak seorang wanita berkulit hitam baru meletakkan jasad seorang anak yang hanya bertubuh kulit membungkus belulang di sebuah liang tanah. Dalam penyertaan foto tersebut dituliskan kalimat yang menyentuh:
Teruskan pesan ini, Anda tidak dikenakan biaya layanan apa pun, tetapi untuk UNICEF adalah lima euro. Sebelum Anda membuang sisa makanan dalam mangkuk Anda, silakan berpikir tentang orang-orang kelaparan. Di Afrika dan tempat lain di dunia, ada anak-anak kelaparan, setelah perjanjian ditandatangani antara UNICEF dan MSN, untuk anak-anak hilang dan anak-anak lain, sebuah program untuk membantu pemula dibuat. Berapa kali Anda memuat dan membagi gambar ini untuk teman, sebanyak itu dikali lima euro, itulah yang UNICEF akan terima. Mari kita membantu anak-anak sekarat agar bisa hidup. Janganlah kita lupa bahwa setiap detik, mereka memiliki anak yang mati kelaparan”.
Saya sendiri tidak tahu bagaimana persisnya foto berisi pesan moral berantai yang awalnya diposting oleh seseorang yang bernama Marcos Mulia Wijaya di Facebook tersebut. Saya tidak tahu benefit apa yang akan ia peroleh setelah menyampaikan pesan yang memandemik liar seperti jatuhnya korban-korban kelaparan di Somalia itu. Saya tidak tahu apa maksud dan tujuan di belakang dari semua hal yang tampak “sepele” tersebut, yang notabene menyita kurang lebih dua menit waktu kita untuk memosting pesan serupa itu di Facebook. Namun yang pasti saya hanya teringat kalimat yang pernah diposting oleh Dewi Lestari dalam sebuah artikel yang ditulisnya dalam blognya:
“Kita menanti perbuatan-perbuatan agung yang tampak megah, dan melupakan bahwa dalam setiap tapak langkah ada banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu yang bermakna”.
Mungkin Marcos Mulia Wijaya hanyalah setetes air yang tak berarti di gegurun, tetapi seperti esensi dari kalimat yang ditulis oleh Dewi Lestari, saya dapat mengambil kesimpulan jika ia telah menapak dalam langkah kecil tanpa memikirkan hal-hal agung apa yang dapat memomulerkan namanya semata kemanusiaan. (blogkatahatiku.blogspot.com)