23 January 2014

SAATNYA PANEN LABA DI HARI RAYA IMLEK

Foto: Effendy Wongso
Tahun baru Imlek sebagai hari raya yang bersejarah kuno di China, selama ini sarat berkonotasi budaya yang kental. Akan tetapi, sekarang esensinya sudah jauh berubah, di mana yang lebih diperhatikan masyarakat adalah nilai ekonomi yang diciptakannya.
Hal tersebut diungkap oleh Dekan Pusat Bahasa Mandarin Universitas Hasanuddin (Unhas) sekaligus salah satu dosen terbang dari Hanban University di China, Prof Zhu Xiaojun, saat ditemui di Pusat Bahasa Mandarin Unhas, Jalan Sunu, Makassar, Senin (20/1/2014) pagi.
Dijelaskan, konsumsi yang terjadi pada masa tahun baru Imlek telah mendorong pertumbuhan ekonomi pada derajat tertentu. “Konsumsi komoditas dan jasa mencatat peningkatan besar pada momen tahun baru Imlek, dan akan memberikan dorongan besar kepada pasar secara menyeluruh,” ungkapnya.
Dikatakan, perubahan konsumsi komoditas menjadi konsumsi jasa merupakan perubahan besar bentuk konsumsi tahun ini. Hal tersebut telah mencerminkan peningkatan taraf hidup masyarakat. Para pengusaha seharusnya memanfaatkan perubahan tersebut untuk mengembangkan pasar tahun baru Imlek dengan lebih intensif.
Ditambahkan, dengan terus meningkatnya konsumsi pada tahun baru Imlek, terutama berkiblat terhadap pertumbuhan pesat ekonomi China, maka dapat dipastikan negara-negara lain yang dihuni masyarakat keturunan China akan melakukan hal serupa.
“Laju pertumbuhan China sendiri, selama tahun-tahun belakangan ini mencapai sembilan persen ke atas, di mana pendapatan penduduk kota dan desa meningkat secara nyata, dan simpanan atau deposito perbankan penduduk bertambah dengan signifikan,” bebernya.
Pria yang senang mengomsumsi makanan tradisional Makassar seperti ikan bakar dan “cobek-cobek” ini, mencontohkan bahwa di daerah pedesaan yang kurang menonjol di China sekalipun, juga muncul tren konsumtif keluarga pada momen tahun baru Imlek.
“Biasanya, para petani beramai-ramai membeli barang dan menyiapkan kebutuhan tahun baru Imlek pada masa tersebut. Padahal, kalau hari biasa mereka hematnya luar biasa,” sebutnya.
Hari raya seperti Imlek biasanya membawa berkah bagi para pengusaha yang kebetulan bergerak di bidang ritel konsumsi, tetapi yang tak kalah manisnya adalah mereka yang  bergerak dalam bisnis pernak-pernik Imlek.
Hal tersebut diakui oleh Felicia Han, pengusaha kerajinan pernak-pernik Imlek yang enggan disebut nama tokonya, saat ditemui di kawasan Pecinan, Jalan Sangir, Makassar, Senin (20/1/2014) siang. Diungkapkan, momentum Imlek memang menggiurkan, di mana per harinya ia dapat meraup omset Rp 2 juta hingga Rp 3 juta dari jualan aksesoris Imlek saja.
Wanita yang sehari-harinya menjual kebutuhan ritual untuk umat Buddha dan Konghucu seperti dupa dan lilin merah ini, juga mengaku kalau rangkaian hari raya Imlek seperti Cap Go Meh, barang-barang dagangannya selalu laris diburu pembeli yang kebanyakan dari etnik Tionghoa.
“Yang paling laku adalah kertas angpau, lampu lampion, dan gambar-gambar shio (mitologi) kuda. Kalau harganya sih bervariasi ya, tergantung kualitas dan besaran produk. Untuk lampion beranda yang cukup besar, saya patok Rp 250 ribu per set. Biasanya per set berjumlah dua lampion, untuk digantung kiri dan kanan di bawah balkon rumah misalnya,” ungkap Felicia.
Ketika ditanyakan perihal persentase omset dibanding tahun lalu, wanita yang mengaku membuat aksesoris Imlek secara otodidak ini mengatakan hampir sama, namun untuk tahun ini ada sedikit penurunan pasokan bahan-bahan yang dibelinya.
“Beberapa bahan produk yang saya bikin merupakan barang impor, seperti huruf-huruf embos (timbul) emas Mandarin, yang saya datangkan dari China untuk kemudian saya olah kembali. Kita tahu, rupiah lagi jatuh sehingga barang-barang impor rata-rata mengalami kenaikan yang cukup tinggi,” akunya.
Kendati demikian, ibu dua orang putri ini mengaku tidak menaikkan harga agar pelanggannya tidak lari. “Sampai saat ini saya belum menaikkan harga. Mengenai kenaikan beberapa bahan impor tersebut, saya masih melakukan subsidi silang dengan hasil penjualan kue keranjang, dupa, ataupun lilin yang juga banyak diburu selama jelang Imlek,” ungkapnya.
Selain barang-barang laris yang disebutnya tadi, Felicia menjelaskan bahwa aksesoris “raja uang” atau semacam tulisan China yang disebut “hook”, yang dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan adalah barang yang paling dicari selama Imlek.
“Ya, katanya sih benda-benda itu bisa bawa hoki (rezeki). Makanya, selain kertas angpau dan aksesoris tadi, orang-orang paling sering berburu raja uang atau hook ini,” bebernya.
Sementara itu, tidak jauh dari tempat jualan Felicia, Anton Limena yang juga ditemui di kawasan Pecinan, Jalan Sulawesi, mengatakan bahwa jualannya terutama rupang (patung), adalah produk alternatif yang paling laris selain kertas angpau, dupa, dan lilin.
 “Rupang Buddha, Avalokitesvara, ini rupang yang paling dicari pembeli. Harga per itemnya rata-rata di atas Rp 1 juta. Tergantung besaran rupangnya. Yang besar malah ada sampai Rp 10 juta,” ungkapnya.
Pria yang mengaku meneruskan usaha ayahnya tersebut enggan menyebut omset, tetapi ia hanya mengungkap jika satu orang pembeli yang datang ke tokonya biasanya berbelanja di atas Rp 1 juta. “Ya, setiap hari adalah, belasan pembelilah,” ujarnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)