06 January 2014

RUPIAH ANJLOK, SUDDENLY-INCOME BAGI MONEY CHANGER

ASRI SAWALANG
Pjs Kacab PT Bali Maspintjinra Authorized Money Changer
“Rupiah Anjlok, Suddenly-Income bagi Money Changer”

Foto: Effendy Wongso
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) telah menyeret sebagian masyarakat, khususnya di Makassar, untuk menukarkan uang rupiahnya dengan mata uang asal Negeri Paman Sam. Demikian pula sebaliknya, menjual mata uang asingnya, terutama dolar AS.
Memang, terkait melemahnya nilai tukar rupiah tersebut tidak berarti kisruh bagi sebagian masyarakat, baik personal maupun instansi tertentu. Justru pelemahan rupiah dianggap sebagai suddenly-income atau pendapatan tak terencana bagi beberapa perusahaan, terutama terhadap pedagang valuta asing atau money changer.
Hal tersebut pun tak lepas dari membeludaknya transaksi penjualan maupun pembelian mata uang asing di PT Bali Maspintjinra Authorized Money Changer (BMC) cabang Ratulangi, Jalan Sam Ratulangi, Makassar.
Dalam dua pekan terakhir, transaksi penukaran mata uang asing maupun pembelian dolar AS dalam seharinya dapat mencapai Rp 800 juta hingga Rp 900 juta, atau meningkat sekitar 90 persen ketimbang hari-hari biasa.
“Pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang terjadi kurang lebih dua pekan telah memicu transaksi penukaran uang mata asing di Makassar. Data yang kami peroleh dari Bank Indonesia (BI), selama terjadinya pelemahan rupiah ini, total transaksi uang yang terjadi di money changer-money changer per harinya mencapai sekitar Rp 1,6 miliar hingga Rp 1,8 miliar. Bahkan, angka ini bisa menembus Rp 2 miliar,” terang Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Cabang (Kacab) BMC Money Changer cabang Ratulangi, Asri Sawalang, saat ditemui beberapa waktu lalu.
Angka tersebut memang didapat dari kalkulasi normal average atau rata-rata transaksi per hari yang mencapai Rp 400 juta hingga Rp 500 juta. Melemahnya nilai rupiah yang memicu gejolak transaksi yang mencapai 90 persen, maka diperoleh angka sekitar Rp 1,6 miliar hingga Rp 1,8 miliar.
Ditambahkan, jika menilik persentase dari angka tersebut, transaksi di BMC mencapai 60 persen hingga 70 persen dari total penukaran uang mata asing di Makassar. Ini juga berarti bahwa tingkat rating tertinggi tempat penukaran uang di Makassar terjadi di BMC.
“Animo masyarakat untuk melakukan transaksi cukup tinggi, di mana peningkatan mencapai 90 persen. Ya, ini jika dibandingkan dengan rata-rata transaksi pada hari-hari biasa,” bebernya.
Dijelaskan, normal average atau rata-rata transaksi dalam bentuk rupiah berkisar Rp 400 juta hingga Rp 500 juta per hari, akan tetapi saat ini meningkat menjadi Rp 800 juta hingga Rp 900 juta. Adapun aktivitas transaksi masyarakat yang terjadi selama ini, hampir berimbang antara membeli dan menjual.
Meski cenderung berimbang, aktivitas transaksi lebih kepada penjualan. Faktor kebutuhan seperti banyaknya pekerja dari luar negeri yang mengambil penghasilannya dalam bentuk rupiah, menyebabkan dominansi dan aktivitas penjualan di money changer lebih menggeliat.
“Selama dua pekan pelemahan rupiah ini, selain dolar AS, mata uang asing yang lain juga meningkat secara transaksional, mulai Euro (Eropa), Yen (Jepang), Yuan atau Renmimbi (China), Dinar (Arab Saudi), Ringgit (Malaysia), dan beberapa mata uang asing lainnya,” sebutnya.
 Menurutnya, banyaknya aktivitas pembelian dolar, terutama disebabkan adanya prediksi masyarakat yang mengindikasikan rupiah bakal terpuruk hingga ke level Rp 17 ribu hingga Rp 18 ribu per dolarnya.
“Ini opini yang berkembang, di mana angka tersebut seperti saat terjadi krisis moneter pada 1998 silam. Faktor-faktor inilah yang memicu pembelian,” urai Asri.
Sementara itu, sebagai pelaku money changer, pihaknya memprediksi pelemahan rupiah tidak akan anjlok seperti yang dialami Indonesia pada 1998 silam. Hal ini cukup berdasar, apalagi pemerintah dan BI tentu saja tidak akan berdiam diri terhadap keterpurukan rupiah.
“Kami percaya pemerintah dapat menanggulangi dan menormalisasi nilai rupiah, apalagi pemerintah sudah menggelar rapat dengan sejumlah pihak terkait. Sebagai pelaku money changer, kami memprediksi rupiah kemungkinan tidak akan tembus ke level Rp 18 ribu,” ungkapnya.
Asri mengakui, sebagai perusahaan money changer, melemahnya nilai tukar rupiah di satu sisi menguntungkan pihaknya, akan tetapi di lain pihak merugikan pelaku usaha, khususnya yang berhubungan dengan sektor impor.
“Terus terang, kami sangat berharap agar rupiah dapat normal kembali. Bahkan saat rupiah normal beberapa waktu lalu pun, dalam setiap transaksi kami tidak mengutip keuntungan jauh dari market seperti yang dilakukan pedagang valuta asing lainnya. Paling banyak kami mengutip 100 poin, 50 poin, bahkan 30 atau 20 poin saja,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)