15 January 2014

Frangky Tjahjadi, rintis usaha fotografi berkat pengalaman


Frangky Tjahjadi, pemilik Specialist. britaloka/Effendy Wongso
britaloka.com, MAKASSAR - Buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya. Itulah perumpamaan yang pantas ditujukan kepada Frangky Tjahjadi, pria yang mewarisi usaha fotografi temurun dari sang ayah. Kepada britaloka.com beberapa waktu lalu di kantornya, Jalan Wahidin Sudirohusodo, Frangky, demikian ia disapa, mengisahkan ihwal toko kamera “Specialist”, yang didirikan sejak 1952 oleh ayahnya.
Runut pria yang bernaung di bawah mitologi Tiongkok kuno (shio) ayam ini, awalnya toko kamera yang berlokasi di Jalan Wahidin Sudirohusodo, Makassar ini bernama “Gaya Baru”, dan hanya berupa bangunan sederhana yang berdiri pada sepetak tanah di Jalan Sumba, kemudian berkembang dan pindah ke Jalan Irian (kini Jalan Wahidin Sudirohusodo).
“Sampai sekarang usaha fotografi yang dulunya dirintis oleh ‘oher’ (ayah) saya masih bertempat di sini, tapi dulu satu petak tok. Berkembang, berkembang sampai begini besar ini tempat,” kenang Frangky.
Menurut bungsu dari tujuh bersaudara ini, modal utama yang ia implementasikan untuk mengembangkan usahanya di bidang fotografi adalah pengalaman. “Sejak kecil, kita (anak-anak) setiap hari melihat (proses) cuci cetak foto, jualan kamera, ya persis seperti sekarang (Spesialist) ini. Jadi, ada cuci cetak, foto studio, penjualan kamera, frame,dan album. Pokoknya semua yang berkaitan dengan fotografi,” terang Frangky.
Ditegaskan, pengalaman adalah hal yang tak bisa dibeli. Bagi pria yang punya hobi bersepeda di luar fotografi tentunya, pengalaman juga merupakan bekal yang sangat penting dan menunjang kariernya di bisnis fotografi.
“Pengalaman tak bisa dibeli. Sejak kecil saya selalu melihat ‘oher’ saya melakukan pekerjaan ini. Inilah yang menjadi landasan saya menjalankan Spesialist,” ujar Frangky.
Maksimalkan pelayanan
Dalam menjalankan bisnisnya, ayah dari Billy Tjahjadi (11) dan Tracy Tjahjadi (8) ini selalu mengutamakan pelayanan. Menurut Frangky, memaksimalkan pelayanan merupakan salah satu cara untuk menggalang pelanggan tetap di Spesialist.
“Pelayanan adalah hal terpenting. Dengan memaksimalkan pelayanan, syukur-syukur sampai sekarang, orang masih percaya sama kita,” ungkapnya.
Adapun masalah kendala saat menjalankan usahanya, Frangky mengakui jika dalam sebuah bisnis pasti memiliki masalah, namun sejauh ini ia belum menemui kendala yang berarti, dan masih dapat mengatasi semuanya dengan baik.
“Ya, masalah pasti adalah. Tapi ya, itu tadi. Kami selalu memaksimalkan pelayanan sehingga tetap dapat mempertahankan kualitas dan pelanggan tetap kami. Tentunya juga pelanggan barulah,” urainya.
Selain itu, Frangky juga mengatakan jika dalam menjalankan bisnis fotografi dibutuhkan konsistensi untuk mempertahankan mutu, misalnya pada cetakan. “Ya, konsistensi diperlukan dalam hal ini, jangan sampai (cetakan) hari ini bagus, besoknya jelek,” pesannya.
Begitu pula dalam membentuk karakter berkulitas bagi karyawan yang bekerja di perusahaannya, Frangky senantiasa memberikan pelatihan-pelatihan sehingga mereka dapat memahami profesionalisme dalam bekerja.
Prinsipnya sama
Sementara itu, Frangky memaparkan jika bisnis fotografi antara dulu dan sekarang, pada prinsipnya sama saja. Yang membedakan hanya mediumnya saja. “Prinsipnya sama. Kalau dulu orang menggunakan medium film (seluloid), nah sekarang sudah era digital,” jelas pria kelahiran Makassar, 30 Desember 1969 ini.
Kendati demikian, diakui  suami Lilis Suryani Tjahjadi ini, bisnis fotografi di era digital ini menyebabkan profit margin pengusaha di bidang ini menurun, akan tetapi hal itu dapat diimbangi dengan mengejar “volume” atau kuantitas.
“Sebenarnya, kedua-duanya sama. Di dunia bisnis (fotografi), terutama ritel, zaman dulu sama sekarang perbedaannya, zaman dulu profit margin masih bagus, nah sekarang profit margin makin tipis. Tapi kita harus kejar volume,” ungkap Frangky.
 Menurutnya, hal ini dilakukan untuk menaikkan omset. “Dulu kita agak santailah, profit margin masih lumayan. Makin lama makin lama, sekarang makin tipis. Jadi diimbangi dengan volume. Kalau mau dibilang perbedaan, saya rasa tidak terlalu. Imbanglah dari segi omset, ya,” jelas Frangky.
Buktinya, ia mencontohkan penurunan cuci cetak di medium kertas tergantikan oleh pembelian hardisk di pihak lain, dan penurunan drastis pemakaian rol film seluloid tergantikan oleh pembelian yang signifikan di memory card dan lain-lain.
“Brand Ambassador” shop
Sebagai salah satu toko kamera dan foto studio tertua di Makassar, Spesialist yang dipimpin Frangky kerap dipercaya oleh beberapa produsen kamera ternama seperti Nikon untuk menjadi “brand ambassador” shop atau mitra dalam penjualan produk-produk fotografi keluaran mereka, khususnya di Makassar.
“Sejauh ini Nikon memang selalu bekerja sama dengan kami melakukan share market produk-produk kamera mereka. Sudah sejak lama itu, tetapi saat ini ada juga merek lain yang masuk. Jadi, antara mereka dan kami saling bersinergi,” ungkapnya.
Untuk itulah, atas prestasi mumpuni yang pernah dicapainya, Frangky pun diganjar plakat penghargaan sebagai “Best Performance Dealer Period 2002-2003” oleh Nikon Singapore Pte Ltd dan PT Alta Nikindo.
Frangky mengatakan, sejauh ini Specialist sendiri memang tidak berpatokan terhadap penjualan perlengkapan fotografi berdasarkan satu merek saja, sebab semuanya berpulang kepada permintaan konsumen.
“Kami selalu menyediakan kebutuhan yang diminta oleh konsumen. Sejauh ini, permintaan kamera dari dua merek ternama ini (Nikon dan Canon) cukup berimbang, jadi ini merupakan basis penjualan kamera kami,” tutupnya.