30 January 2014

PROGRAM DISKON YANG MENGGODA

Bijaksana di Antara “Perang Diskon”

Foto: Effendy Wongso
Jelang perayaan hari-hari besar keagamaan lalu, ada paradigma menarik yang dapat ditemui di hampir semua sudut mal, toko, maupun gerai-gerai ritel. Paradigma itu adalah pemberian diskon yang cukup signifikan bahkan cenderung tak logis.
Memang, siapa yang tidak tertarik dengan barang-barang yang berharga murah? Apalagi barang tersebut merupakan merek populer dari sebuah produsen ternama. Seiring, masyarakat sering menjumpai toko-toko yang menawarkan diskon besar-besaran tersebut, akan tetapi sebagian tidak mendapatkan “value” dari apa yang telah dibayangkan sebelumnya.
Pasalnya, barang bermerek dan diberi diskon besar belum tentu berkualitas baik. Dari data yang dilansir beberapa media daring, wanita sering kali tertipu dengan label diskon, apalagi jika diskon yang ditawarkan mencapai 50 persen hingga 80 persen. Akibatnya, konsumen dari kaum Hawa tersebut dengan mudahnya mengeluarkan lembaran-lembaran rupiah dari dalam dompetnya lantaran ingin memperoleh barang-barang yang telah didiskon tersebut.
Kapan lagi dapat barang diskon hingga 70 persen, apalagibermerek? Nah, itulah beberapa alasan yang mendasari “ketergodaan” mereka atas pesona diskon yang dikeluarkan riteler tersebut. Memang, seyogianya semuanya kembali kepada konsumen, di mana mereka harus bijak dalam menyikapi segala sesuatu yang tersirat dalam pesan sebuah diskon. Sejauh ini, diskon memang jadi sarana yang sangat efektif untuk menggoda hati konsumen.
Dari pantauan KATA HATIKU di beberapa gerai waralaba di Makassar, khususnya jelang liburan dan hari-hari raya keagamaan lalu, terlihat produk makanan dalam kemasan seperti biskuit dan kue kering, serta minuman botol seperti sirup merupakan produk yang paling banyak didiskon. Sejauh ini, memang masih terlihat wajar karena diskon ditap pada angkat 10 persen hingga 20 persen. Demikian pula ketika tanggal kedaluwarsanya dicek, juga masih berlaku dan layak konsumsi.
Akan tetapi tidak semuanya dapat terpantau, apalagi jika mengamati satu per satu barang diskon yang beredar, khususnya di pasar-pasar tradisional maupun di lapak-lapak kecil. Selama ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah sangat ketat mengawasi barang-barang kedaluwarsa, meski tak dapat dipungkiri pula bahwa masih ada saja pengusaha “nakal” yang memanfaatkan momentum diskon sebagai trik untuk melariskan dagangannya yang sudah hampir kedaluwarsa.
Tujuan pemasaran yang menggunakan strategi diskon selama ini dikenal ampuh untuk menjaring pelanggan. Alasannya pun bermacam-macam, selain melancarkan daya jual sebuah produk juga untuk menghabiskan stok lama yang masih tersisa. Berbagai alasan dikemukakan oleh pedagang seperti yang telah disebutkan tadi, ada beberapa yang benar-benar rasional dengan asumsi seperti barang sudah break event point (BEP) atau sudah balik modal namun stok barang masih banyak, hingga barang penghabisan karena toko ingin tutup atau pindah.
Semenarik bagaimanapun, pesona diskon tidak menyentuh semua lapisan masyarakat. Beberapa konsumen yang cermat telah mengalkulasikan diskon-diskon tersebut, di antaranya dengan mengamati kualitas, model “up to date”-nya, ataupun unsur-unsur lain seperti butuh atau tidaknya. Dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan KATA HATIKU terhadap dua-tiga konsumen, dapat diambil kesimpulan bahwa tidak semua orang menyukai barang diskon.
Beberapa konsumen bahkan mengaku sama sekali tidak tertarik membeli barang-barang yang telah dilabeli dengan diskon. Alasannya, barang yang didiskon biasanya berkualitas tidak terlalu bagus, dan untuk produk garmen biasanya model-modelnya sudah ketinggalan. Apalagi barang-barang yang didiskon tersebut terkesan monoton.
Senada, beberapa konsumen malah mengungkapkan hal yang bernada pesimistik. Dikatakan, jika menakar lebih dalam, biasanya konsumen “tertipu”, sebab harga barangnya sudah dinaikkan terlebih dulu, kemudian baru didiskon. Jadi selama ini, masyarakat sama saja membeli barang dengan harga normal.
Memang, menyikapi paradigma diskon yang bagai dua sisi mata uang logam ini perlu disikapi dengan bijaksana. Hal ini memang tergantung dari tiap individu si konsumen, akan tetapi juga tidak terlepas dari peran para pengusaha yang bermain di dalamnya agar tak melakukan praktik strategi “terselubung” dari program diskon yang merugikan konsumennya. (blogkatahatiku.blogspot.com)