11 January 2014

Personal Computer Masih Dibutuhkan

TERGERUS - Maraknya penggunaan tablet dan smartphone memang sedikit mengganggu kinerja bisnis industri PC. Penjualan PC, diakui owner Bumi Makmur Komputer, Bumi Horas, saat ditemui beberapa waktu lalu di tokonya, Jalan Tentara Pelajar, Makassar, sedikit tergerus oleh jenis-jenis gadget yang tengah digemari oleh masyarakat tersebut. BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
Bumi Horas
Owner Bumi Makmur Komputer Makassar
Personal Computer Masih Dibutuhkan

BLOGKATAHATIKU - Maraknya penggunaan tablet dan smartphone memang sedikit mengganggu kinerja bisnis industri PC. Penjualan PC, diakui owner Bumi Makmur Komputer, Bumi Horas, saat ditemui beberapa waktu lalu di tokonya, Jalan Tentara Pelajar, Makassar, sedikit tergerus oleh jenis-jenis gadget yang tengah digemari oleh masyarakat tersebut.
“Ada tingkat penurunan, sekitar 20 persen hingga 30 persen,” katanya.
Kendati demikian, ia menuturkan bahwa tren penggunaan PC seperti laptop maupun notebook, sama sekali belum tergantikan dan masih dibutuhkan, terutama untuk pengoperasian pekerjaan kantoran maupun untuk studi di kalangan mahasiswa.
“Masih banyak pengoperasian program yang belum bisa dilakukan oleh smartphone maupun tablet, khususnya bagi pekerja kantoran maupun mahasiswa yang melakukan konektivitas program-program berat saat kuliah,” terang Bumi.
Lagipula, meski pasaran tablet terus berkembang, perangkat ini masih jauh dari memuaskan kalangan profesional untuk memudahkan pengolahan teks dan gambar. Misalnya untuk mengolah data pada spreadsheet, mengedit film, dan para pengguna papan kunci, serta banyak layar.
Produk PC pun masih dibutuhkan karena juga memiliki kapasitas penyimpanan data yang besar. Apalagi, kebanyakan industri “mainstream” masih menggunakan PC sebagai peranti pengoperasiannya.
Menurutnya, meskipun terjadi penurunan penjualan produk PC seperti yang disebutnya tadi akan tetapi layanan after sales yang dilakoninya belasan tahun ini masih menunjukkan prospek yang bagus. Artinya, market PC memang belum “habis”.
“Servis PC seperti laptop dan notebook masih tetap bagus, dan menyumbang omset yang setara dengan penjualan produk-produk PC yang kami jual seperti Acer, Axioo, Toshiba, dan lain-lain. Penjualan antara PC dan servis masih ‘fifty-fifty’, berimbang,” ungkap Bumi.
Diterangkan, omset dari servis PC yang dilakukannya lebih terfokus pada perbaikan hardisk yang rusak. Saat ini, selain menjual produk-produk komputer dan aksesorisnya, pihaknya memang lebih mengkhususkan diri terhadap penarikan data yang hilang di harddisk pelanggan.
“Kami memang lebih berspesifikasi spesialis harddisk dan data repairing. Proses tarik data kami menggunakan hardware dan peralatan canggih. Selama lebih 10 tahun kami telah berpengalaman dalam melakukan proses tarik data atas harddisk yang rusak,” akunya.
Adapun kerusakan harddisk yang dapat diatasi oleh tokonya adalah kerusakan akibat mati lampu, partisi yang hilang karena virus, terformat atau terhapus, HDD tidak terdeteksi, power IC rusak, harddisk terpassword, terdeteksi dengan kapasitas berubah, smart error, bad sector, dan lain-lain.
Dari penjualan dan layanan purnajual, Bumi mengungkapkan dapat meraih omset kurang lebih Rp 50 juta per bulan. Sedangkan produk PC yang paling banyak terjual di tokonya adalah merek Acer, disusul merek lokal seperti Axioo.
Ketika ditanya mengenai profit margin antara jasa servis dan penjualan, pria berkacamata ini mengatakan bahwa meski berimbang dari segi order, akan tetapi penjualan PC memiliki profit margin yang sangat tipis.
“Bisnis komputer sangat kompetitif, pesaing di usaha ini tak terhitung jumlahnya sehingga profit marginnya sangat tipis,” jawabnya.
Kendati demikian, Bumi mengatakan tetap optimis industri PC akan berkembang seiring kemajuan IT. Memang, harapan seperti yang dikemukakan pria berdarah Tionghoa ini sejalan dengan data yang berhasil dihimpun.
Pasalnya, meskipun terdapat tren pergeseran ke arah penggunaan smartphone dan tablet, akan tetapi angka pertumbuhan market komputer di Indonesia melampui prediksi pasar PC dunia yang dikeluarkan baru-baru ini oleh lembaga survei internasional, International Data Corporation IDC (15 persen) maupun Gartner (tujuh persen).
“Indonesia merupakan negara Asia Pasifik dengan pertumbuhan tertinggi, sehingga menjadi target dari perusahaan-perusahaan multinasional,” jelas President Director Acer Indonesia, Jason BT Lim dalam rilisnya yang dikirim ke milis jurnalis ekonomi Indonesia.
“Indonesia punya banyak potensi pasar. Permintaaan pasar sudah kembali ke angka dua digit. Pasar-pasar baru, yakni Indonesia, India dan Tiongkok akan memimpin pertumbuhan,” prediksinya.